Jodoh Tidak Akan Pernah Tertukar

Aku teringat kisah seorang teman...

Ia adalah seorang muslimah yg senantiasa terjaga. Hari-harinya senantiasa diisi dengan kegiatan bermakna.. Apalagi kalau bukan mengisi kajian, membaca buku, menulis tausyah dan sebagainya.

Suatu hari, ia memiliki permasalahan dakwah yg begitu besar. Bahkan ia bingung, kepada siapa ia harus meminta bantuan... Tak ayal, dia hanya bisa memohon dalam sujud panjangnya agar segera diberi jalan keluar terbaik.

Tak berapa lama... Ia dikenalkan dengan seorang ikhwan, tepatnya terpaut 6 tahun yg pada saat itu, ikhwan tersebut memberikan bantuan berupa masukan-masukan serta solusi mengenai problema dakwah yg sedang dialami temanku itu.

Saat itu temanku benar-benar berterima kasih serta mengucap rasa syukur sedalam-dalamnya... Karena perlahan problema dakwah yg sedang dihadapi menemui titik terangnya.

Namun, setelah titik terang ditemui.. ternyata menambah sebuah problema baru. Bagaimana tidak, kedekatannya dengan sang ikhwan tersebut.. ternyata memunculkan benih-benih cinta dalam hatinya.

Sungguh, sebenarnya temanku itu tak mau memiliki rasa seperti itu, ia pun ingin membuang jauh-jauh bayangan tentang ikhwan tersebut yg sebenarnya sudah dianggap oleh temanku itu sebagai seorang kakak. Ya! hanya sebatas kakak.

Tapi, apa mau dikata... rasa kagum karena kefahaman ikhwan tersebut akan ilmu agama serta keshalihannya ternyata mampu mengalihkan keimanan temanku itu. Ia selalu uring-uringan dan pada akhirnya hidupnya jadi tak bersemangat lagi.. Kalau dulu, ia bersujud panjang karena rasa khouf-nya yg ada.. kini dalam sujud panjangnya selalu terhadirkan genangan air mata, ingin disatukannya ia dengan ikhwan tersebut.

Sampai suatu hari, ia menceritakan semuanya padaku... dan aku pun mencoba menenangkannya. Ia terus menangis dan menangis sejadi-jadinya. Ia sudah tak tahan lagi terhadap kegalauan perasaannya. Ia takut rasa itu akan semakin mencengkeramnya dengan kuat dan akhirnya terbius oleh hawa nafsu syaitan.

Aku pun mencoba memberikan saran, untuk coba berterus terang terhadap ikhwan tersebut akan perasaan temanku ini yg sebenar-benarnya. Malah kalau perlu langsung menawarkan diri untuk minta dinikahinya. Bukankah Siti Khadijah juga menawarkan diri kepada Rasululloh, hanya saja melalui seorang perwakilan? Apakah menawarkan diri ini disampaikan melalui perwakilan atau secara langsung oleh diri sendiri terserah, asalkan caranya baik & sesuai dengan syariat Islam. Bila ingin maju tanpa perwakilan tentu harus siap dengan satu syarat: harus siap mental!.



Temanku akhirnya paham dan memberanikan diri untuk menawarkan diri terhadap ikhwan tersebut, tentu minta untuk dinikahi.. bukan untuk dipacari. Dan ia sudah siap dengan berbagai kemungkinan yg akan terjadi. Tapi bismillah saja lah, pikirnya. Toh aku bukan meminta pada ikhwan tersebut tapi sebenar-benarnya aku meminta pada Sang Pemilik ikhwan tersebut (red. Alloh), kata temanku.

Dan setelah beberapa lama, aku kehilangan kabar temanku ini. Entah apa yg telah terjadi, namun rasa keingintahuanku begitu membuncah.. Sampai pada akhirnya, aku mendapat kabar darinya.. bahwa ikhwan tersebut telah menikah, dengan akhwat yg lain.

Aku ikut bersedih, tentu ada rasa kekecewaan yg hadir terhadap diri temanku tersebut. Tapi, ketika aku menemuinya, ia begitu tegar.. dan mengatakan "Aku sudah menawarkan diri pada ikhwan tersebut, tapi ikhwan tersebut justru menyerahkan undangan pernikahannya padaku. Aku mungkin telat menawarkan diriku padanya, tapi sungguh aku yakin bahwa jodohku tak akan pernah tertukar oleh siapapun".

Degg... tiba-tiba aku terlemas. Kata-katanya begitu menghujam dalam kalbuku. Ia sungguh wanita sholehah.. Aku yakin, ia akan mendapatkan jodohnya yg terbaik kelak.

Setelah pertemuan itu. Aku tak bertemu lagi dengan temanku tersebut... Kita benar-benar loss contact sama sekali.

***

Kita kembali dipertemukan.. tepatnya ketika aku berkunjung ke toko buku. Ia masih tampak seperti yg dulu, setelah pertemuan terakhirku dengannya setahun yg lalu. Ia pun menghampiriku dan menyapaku, lalu mengajakku untuk mampir ke sebuah rumah makan yg tak jauh dari toko buku itu. Disanalah kita berbincang kembali... kemudian ia menceritakan padaku, bahwa ia sempat ta'aruf namun gagal hingga kedua kalinya. Dengan hanya karena sebuah alasan, bahwa temanku itu adalah seorang "Aktivis".

Aku tak habis pikir mendengar ceritanya, wanita seperti dia, bisa ditolak ikhwan hanya karena alasan itu??!! Huhh..!! aku emosi sekali. Jarang-jarang kan ada wanita yg seperti ini, sudah cantik, sholehah, pemahaman ilmu agamanya banyak dan aktifis dakwah pula. Apalagi sih yg dicari dari para ikhwan tersebut?!

Ahh, itu pasti karena ikhwan tersebut takut menyeimbangi kafaah yg dimiliki temanku ini. Belum maju ke medan perang, ehh.. udah mundur selangkah demi selangkah. Capekkk dah!!

Tapi sekali lagi, tak ada rasa kekecewaan yg muncul dari temanku ini.. meski aku yakin, namanya juga manusia, tentu temanku merasakan sakit yg terdalam di hatinya mengenai kegagalannya berkali-kali dalam menuju gerbang pernikahan.

***

Itu dulu.. ketika 1,5 tahun yg lalu kita bercerita... Tapi lihatlah kini, surat undangan pernikahan berwarna merah telah berada di genggaman tenganku. Akhir dari sebuah perjalanan seorang temanku.

Dan sungguh benar janji Alloh, "Perempuan-perempuan yg keji adalah untuk yg keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yg keji, sedangkan wanita-wanita yg baik untuk laki-laki yg baik dan laki-laki yg baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yg baik…” (QS. An-Nur: 26).


Ternyata apapun yg telah Alloh tetapkan bagi manusia merupakan hak-Nya, pasti ada hikmah besar di dalamnya, tergantung bagaimana kita menyikapi.

Dan sebuah pembelajaran bagiku,  tentu aku harus yakin seperti temanku ini, keyakinan bahwa "Jodoh tidak akan pernah tertukar". Insya Alloh.
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


from : anitayulian.blogspot.com

Tarbiyah Dzatiyah

Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan

Bab I. Defenisi Tarbiyah Dzatiyah

Tarbiyah dzatiyah adalah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang Muslim, atau Muslimah, kepada dirinya, untuk membentuk kepribadian islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya, dan naik tinggi ke tingakatan kesempurnaan sebagai manusia. Atau dengan kata lain, tarbiyah dzatiyah adalah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri. Dengan defenisi seperti itu, tarbiyah dzatiyah setara dengan tarbiyah jama’iyah (kolektif) atau forum-forum umum yang dikerjakan seseorang, atau ia geluti bersama orang lain, atau ia ter-tarbiyah (terbina) di dalamnya bersama mereka.

Bab II. Urgensi Tarbiyah Dzatiyah

1. Menjaga diri mesti didulukan daripada menjaga orang lain
Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dari siksa Allah ta’ala dan neraka-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)
2. Jika anda tidak men-tarbiyah (membina) diri anda, maka siapa yang men-tarbiyah anda?
Siapa yang men-tarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, atau dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak men-tarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan.
3. Hisab kelak bersifat individual
Hisab pada hari kiamat oleh Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya bersifat individual, bukan bersifat kolektif.
“Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri” (QS. Maryam : 95)
4. Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu mengadakan perubahan
Setiap orang pasti punya aib, atau kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh sisi negatif pada dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya, atau memperbaiki aib-aibnya, dengan sempurna dan permanen, jika ia tidak melakukan upaya perbaikan ini, dengan tarbiyah dzatiyah, karena ia lebih tahu diri sendiri dan rahasianya.
5. Tarbiyah dzatiyah adalah sarana tsabat (tegar) dan istiqomah
6. Sarana dakwah yang paling kuat
Cara yang paling efektif untuk mendakwahi orang lain dan mendapatkan respon mereka ialah dengan menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, di aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.
7. Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada
Bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syumul (universal), dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, lalu masyarakat menjadi baik. Begitulah, akhirnya pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit
8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah
Urgensi tarbiyah dzatiyah lainnya ialah mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan ada terus pada orang muslim di setiap waktu, kondisi, dan tempat.

Bab III. Ketidakpedulian Kepada Tarbiyah Dzatiyah

1. Minimnya ilmu
2. Ketidakjelasan sasaran dan tujuan
Orang yang merasa tujuannya dalam hidup ini tidak jelas berjalan bersama manusia di mana saja mereka berjalan. Maka tidak mengherankan, kalau ia begitu lengket dengan seluruh sarana kehidupan yang semuanya dijadikan tujuan utama kehidupan sehingga ia tidak peduli dengan tarbiyah dirinya, pembersihan, perbaikan, dan pengarahan dirinya.
3. Lengket dengan dunia
4. Pemahaman yang salah tentang tarbiyah
Ia berpendapat tarbiyah dzatiyah membuat dirinya terputus dari kehidupan dan manusia, serta terisolir dari mereka. Atau menyita sedkit waktu dan tenaganya. Atau merasa tidak membutuhkan tarbiyah dzatiyah karena telah menunaikan kewajiban agamanya yang paling penting sehingga tidak perlu lagi mengerjakan ibadah-ibadah lain yang tidak wajib.
5. Minimnya basis tarbiyah
6. Langkanya murobbi (pembina)
Seseorang dalam hidupnya sangat membutuhkan taujih (pengarahan), tarbiyah, dan pengajaran, sejak masa kecilnya hingga ia dewasa dan tua, serta hingga ia meninggal dunia.
7. Perasaan akan panjangnya angan-angan
Merasa bahwa umur masih panjang, dan masih banyak waktu yang tersedia untuk melakukan tarbiyah diri pada waktu yang tidak sibuk lagi sehingga menyebabkan ketidakpedulian akan tarbiyah dzatiyah

Bab IV. Sarana-Sarana Tarbiyah Dzatiyah

1. Muhasabah
Melakukan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya atas kebaikan dan keburukan yang telah ia kerjakan, meneliti kebaikan dan keburukan yang ia miliki, agar ia tidak terperanjat kaget dengan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya pada hari kiamat.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr : 18)
Dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Orang cerdas (berakal) ialah orang yang menghisab dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan, orang yang lemah ialah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)
Panduan muhasabah :
a. Urgensi muhasabah secara rutin
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata menjelaskan salah satu kiat muhasabah, “Hal yang paling bermanfaat bagi orang ialah ia duduk sesaat ketika hendak tidur. Ia lakukan muhasabah terhadap dirinya pada saat tersebut atas kerugian dan keuntungannya pada hari itu. Lalu, ia memperbaharui taubatnya dengan nasuhah kepada Allah, lantas tidur dalam keadaan bertaubat dan bertekad tidak mengerjakan dosa yang sama jika ia telah bangun. Itu ia kerjakan setiap malam. Jika ia meninggal pada malam tersebut, ia meninggal dalam keadaan taubat. Jika ia bangun, ia bangun dalam keadaan siap beramal, senang ajalnya ditunda, dan siap mengerjakan perbuatan-perbuatan yang belum ia kerjakan.”
b. Skala prioritas yang penting
• Memuhasabahi kesehatan akidahnya, kebersihan tauhidnya dari syirik kecil dan tersembunyi.
• Memuhasabahi pelaksanaan kewajiban-kewajiban, shalat lima waktu, berbakti kepada orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, amar ma’ruf nahi munkar.
• Memuhasabahi sejauh mana dirinya menjauhi hal-hal yang haram dan kemungkaran-kemungkaran.
• Memuhasabahi sejauh mana melakukan ibadah-ibadah sunnah dan ketaatan lainnya
c. Jenis-jenis muhasabah
1. Muhasabah diri sebelum berbuat
2. Muhasabah diri setelah berbuat
• Muhasabah diri atas ketaatan kepada Allah yang telah ia lalaikan
• Muhasabah diri atas perbuatan yang lebih baik tidak ia kerjakan daripada ia kerjakan
• Muhasabah atas hal-hal mubah dan wajar
d. Muhasabah atas waktu
Muhasabah diri tentang alokasi waktunya, yang merupakan usia dan modalnya. Apa ia telah gunakan waktunya dalam kebaikan, amal shalih, dan hal-hal bermanfaat bagi orang lain? Atau sebaliknya?
e. Ingat hisab besar
Allah akan menghisab hamba-hambaNya pada hari kiamat, dengan hisab yang cermat, dan bertanya pada mereka tentang apa saja yang telah mereka kerjakan, perbuatan baik atau perbuatan buruk.
2. Taubat dari segala dosa
Panduan :
a. Hakikat dosa
Dosa pada hakikatnya adalah tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban syar’i, atau melalaikannya, dalam bentuk tidak mengerjakannya dengan semestinya.
b. Syarat-syarat taubat
Taubat nasuhah (hakiki) ialah taubat jujur dan serius, yang menghapus kesalahan-kesalahan sebelumnya dan melindungi pelakunya dari dosa-dosa sebelumnya.
c. Semua dosa itu kesalahan
d. Hukuman di dunia
Dosa, yang pelakunya tidak bertaubat darinya, punya hukuman segera di dunia, sebelum di akhirat, kendati kadang kejadiannya agak tertunda. Dari sinilah, kecerdasan akal orang muslim ketika ia banyak bertaubat dan beristighfar di setiap waktu dan kondisi, dengan harapan Allah mengampuninya di dunia dan tidak menghukumnya di akhirat
e. Di antara trik jiwa kita
Makar setan terhadap manusia dan perjuangannya mati-matian untuk menipu manusia dengan segala cara menyebabkan manusia menunda-nunda taubat dan kembali kepada Allah, dengan banyak argumentasi.
3. Mencari ilmu dan memperluas wawasan
Caranya sangat banyak, antara lain menghadiri pertemuan-pertemuan yang mengkaji ilmu ilmiah dan tarbiyah, membaca buku, mengunjungi ulama, pemikir, peneliti, mendengar kaset ilmiah dan ceramah, dan lain sebagainya.
Yang perlu diperhatikan dalam mencari ilmu antara lain, ikhlas dalam mencari ilmu, rajin dan meningkatkan pengetahuan, menerapkan ilmu yang didapatkan, dan tunaikan hak ilmu dengan berdakwah kepada orang lain.
4. Mengerjakan amalan-amalan iman
Antara lain :
• Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin
• Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah
• Peduli dengan ibadah dzikir seperti membaca al-qu’ran dan berdzikir
Hal-hal penting antara lain :
• Urgensi shalat lima waktu, muslim hendaknya tetap konsisten mengerjakan shalat lima waktu dan serius menunaikannya secara berjama’ah di masjid, sesuai dengan rukun-rukun, kewajiban, dan sunnahnya pada waktunya sembari menjauhi kesalahan yang biasa dilakukan.
• Antara ibadah dan adat istiadat, menjadikan ibadah tidak sekedar rutinitas fisik tanpa ruh, hendaknya dilaksanakan dengan sepenuh hati dan jiwa kita
• Ilmu pengetahuan tidak cukup, ilmu saja tidak cukup jika tidak ditunaikan dalam amal perbuatan
• Kita tidak lupa dzikir kepada Allah
• Memanfaatkan sebaik mungkin saat-saat rajin
• Memanfaatkan sebaik mungkin waktu-waktu dan tempat-tempat mulia
• Urgensi tawazun (seimbang), melakukan ibadah dengan seimbang, tidak menelantarkan ibadah yang satu hanya karena melakukan ibadah yang lain
5. Memperhatikan aspek akhlak (moral)
Tarbiyah dzatiyah dalam aspek moral antara lain :
• Sabar
• Membersihkan hati dari akhlak tercela
• Meningkatkan kualitas akhlak
• Bergaul dengan orang-orang yang berakhlak mulia
• Memperhatikan etika-etika umum
6. Terlibat dalam aktivitas dakwah
• Merasakan kewajiban dakwah
“Katakan, ‘Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata’.” (QS. Yusuf : 108)
• Menggunakan setiap kesempatan untuk berdakwah
• Terus-menerus dan tidak berhenti di tengah jalan
• Pintu-pintu dakwah itu banyak, cara berdakwah itu tidak hanya berceramah saja, melainkan senyum, perkataan yang baik, dan lain sebagainya itu merupakan dakwah
• Kerjasama dengan pihak lain atau dengan kata lain beramal jama’i’
7. Mujahadah (jihad/bersungguh-sungguh)
• Sabar adalah bekal mujahadah
• Sumber keinginan, mujahadah dan keinginan datang dari jiwa, ketekunan, dan membayar harganya sesuai dengan semestinya
• Bertahap dalam melakukan mujahadah
• Jadilah anda orang yang tidak lalai
• Siapa yang mengambil manfaat dari mujahadah?, anda adalah pihak pertama dan terakhir yang mengambil manfaat jika bermujahadah
8. Berdoa dengan jujur kepada Allah
Doa adalah permintaan seorang hamba kepada Allah, pengakuan ketidakberdayaan dan kemiskinan dirinya, pernyataan tidak punya daya dan kekuatan, serta penegasan tentang daya, kekuatan, kodrat, dan nikmat Allah
Rasulullah saw bersabda : “Iman pasti lusuh di hati salah seorang dari kalian, sebagaimana pakaian itu lusuh. Karena itu, mintalah Allah memperbaharui iman di hati kalian.” (diriwayatkan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan)
Arahan-arahan dalam doa :
• Kebutuhan kita kepada doa
• Waktu-waktu dan tempat-tempat terkabulnya doa
• Syarat-syarat doa antara lain, makan makanan yang halal, minta dengan sungguh-sungguh, menampakkan kelemahan dan kepasrahan kepada Allah, menghadirkan hati, bertaubat dari dosa, cinta dan takut kepadaNya
• Jangan minta doa dikabulkan dengan segera
• Bermanfaatlah untuk anda dan orang lain

Bab V. Buah Tarbiyah Dzatiyah

1. Mendapatkan keridhaan Allah dan surgaNya
2. Kebahagiaan dan ketentraman
3. Dicintai dan diterima Allah
4. Sukses
5. Terjaga dari keburukan dan hal-hal tidak mengenakkan
6. Keberkahan waktu dan harta
7. Sabar atas penderitaan dan semua kondisi
8. Jiwa merasa aman.


sumber anitayulian.blogspot.com

Hamzah bin Abdul Muthalib : Singa Allah dan Penghulu Syuhada

Kota Mekah masih mendengkur dalam tidur nyenyaknya, yakni setelah Siang yang penuh dengan usaha dan kesibukan dengan ibadat dan aneka permainan.

Orang Quraisy tidur lelap dan membalik-balikkan diri mereka di atas ranjang…, tetapi di sana ada seorang insan yang resah geliaah dan matanya tak hendak terpejam. Ia cepat masuk kamar tidur dan beriatirahat dalam waktu singkat, lalu bangkit dengan penuh kerinduan karena rupanya ada janji dengan Allah. Ia menuju tempat shalat yang terletak di biliknya, lalu munajat kepada Allah dan berdu’a dengan tekunnya…

Dan setiap istrinya terbangun demi mendengar gemuruh dadanya yang turun naik dan bunyi du’anya yang hangat serta terus- menerus, menyebabkannya merasa kasihan dan memohon agar ia memperhatikan dirinya dan mengambil waktu iatirahat yang cukup. Maka dengan air mata mengalir yang mendahului kata-katanya dijawabnya: ”Wahai Khadijah…! Masa untuk tidur berlalulah sudah…!”

Memang perihalnya belum lagi memusingkan orang-orang Quraisy dan mengganggu tidur nyenyak mereka, walaupun sudah mulai menjadi titik perhatian mereka. Ia barn Saja memulai da’wahnya dan menyampaikan ajarannya secara rahasia dan berbisik-bisik. Orang-orang yang beriman kepadanya waktu itu masih amat sedikit…

Tetapi di antara orang-orang yang belum beriman itu ada pula yang menaruh kasih sayang dan penghormatan kepadanya serta memendam niat dan keinginan hati untuk beriman dan menyertai kafilahnya yang penuh barkah. Mereka terhalang untuk menyatakan maksud itu hanyalah karena keadaan suasana dan lingkungan, tekanan kebiasaan dan adat-istiadat, serta kebimbangan hati untuk mengabulkan panggilan atau menolak seruan. Maka dalam golongan ini terdapatlah Hamzah bin Abdul Muthalib, yaitu paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan saudara sesusunya…

Hamzah telah kenal akan kebesaran dan kesempurnaan keponakannya, tahu sebaik-baiknya akan kepribadian dan watak serta akhlaqnya. la tidak hanya mengenalnya sebagai seorang paman terhadap keponakannya semata, tetapi juga sebagai saudara terhadap saudaranya, dan shahabat terhadap teman sejawatnya. Sebabnya ialah karena Rasulullah dan Hamzah dari satu generasi, dan usia yang berdekatan. Mereka dibesarkan bersama, bermain bersama dan menjadi shahabat karib, serta menempuh jalan kehidupan dari bermula selangkah demi selangkah secara bersama-lama pula…

Hanya memang, di waktu muda masing-masing mereka telah menempuh jalan sendiri-sendiri. Hamzah mulai bersaing dengan teman-temannya untuk mendapatkan kelayakan hidup dan merintis jalan bagi dirinya untuk beroleh kedudukan di kalangan pembesar-pembesar kota Mekah dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Sementara Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap bertahan di lingkungan cahaya ruhani yang mulai menerangi jalan baginya menuju Ilahi, serta mengikuti bisikan hati yang mengajaknya menjauhi kebisingan hidup untuk mencapai renungan yang dalam, serta mempersiapkan diri dalam menyambut dan menerima kebenaran…

Kita tegaskan, bahwa walaupun kedua anak muda itu telah mengambil arah yang berlainan, tetapi tidak satu detik pun hilang dari ingatan Hamzah. Keutamaan shahabat dan keponakannya, yakni keutamaan dan kemuliaan yang mengantarkan pemiliknya kepada kedudukan tinggi di mata manusia umumnya, dan melukiskan secara gamblang masa depannya yang gemilang telah banyak diketahui Hamzah….

Pagi hari itu, seperti biasa Hamzah keluar rumahnya. Di sisi Ka’bah didapatinya se rombongan pembesar dan bangShallallahu ‘Alaihi wa Sallaman Quraisy, lalu ia pun duduk bersama mereka, mendengarkan apa yang mereka percakapkan. Rupanya mereka sedang membicarakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dan untuk pertama kali Hamzah melihat mereka diliputi rasa gelisah diaebabkan oleh da’wah yang dilakukan oleh keponakannya. Dari ucapan mereka tersembur amarah murka, kebencian dan kedengkian.

Sebelum itu mereka tidak peduli, atau pura-pura tidak peduli dan ambil puling. Tetapi sekarang wajah-wajah mereka mengerikan, menyeringai karena berang dan kecewa serta hendak menerkam. Lama Hamzah tertawa mendengar obrolan mereka. Dituduhnya mereka keterlaluan dan salah tafsir…

Di saat itu Abu Jahal segera menegaskan kepada hadlirin bahwa sebenarnya Hamzah paling tahu akan bahaya ajaran yang diserukan oleh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hanya ia menganggapnya enteng hingga Quraisy jadi lengah dan lalai. Kemudian nanti datang suatu saat di mana keadaan telah terlambat dan terbukalah baginya bahaya yang dibawa oleh keponakannya itu…

Demikianlah mereka melanjutkan pembicaraan dalam suasana hiruk pikuk yang tidak luput dari ancaman, sementara Hamzah kadang-kadang turut tertawa dan kadang-kadang menampakkan Wajah murka. Dan ketika pertemuan itu usai dan masing-masing meneruskan acaranya, kepala Hamzah pun dipenuhi fikiran dan perasaan baru, menyebabkan perhatiannya tertuju kepada urusan keponakannya dan mempertimbangkan kembali buruk baiknya….

Hari-hari pun berlalu silih berganti, dan makin lama desas-desus yang disebarkan Quraisy sekitar da’wah Rasul makin memuncak…kemudian desas-desus itu berubah menjadi hasutan dan komPlotan, sementara Hamzah memperhatikan suasana dari jauh…

Ketabahan hati keponakannya itu amat mengherankannya, sementara usahanya yang mati-matian membela keimanan dan kelancaran da’wahnya, merupakan suatu hal yang baru bagi kaum Quraisy umumnya, walaupun sebenarnya mereka terkenal gigih keras kepala.

Dan andainya ketika itu keragu-raguan dapat menggoyahkan kepercayaan seseorang tentang kebenaran Rasulullah dan kebesaran jiwanya, tetapi ia takkan menemukan jalan untuk mempengaruhi dan memperdayakan Hamzah. Hamzah adalah orang yang paling kenal siapa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semenjak masa kanak-kanak hingga waktu mudanya yang tidak bernoda, dan sampai usia dewasanya yang terpercaya.

Ia kenal Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana ia kenal akan dirinya, bahkan lebih dari itu lagi. Semenjak mereka lahir ke alam wujud, menjadi remaja dan sama-sama berangkat dewasa, di mana lembaran kehidupan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbuka di hadapan matanya suci bersih laksana sinar matahari, tidak satu cacat pun dilihatnya pada lembaran itu…!

Tidak sekali pun dilihatnya ia marah atau naik darah, kecewa atau putus asa, apalagi menampakkan ketamakan dan keserakahan, berolok-olok atau berbuat hal yang sia-sia.

Dan Hamzah bukan saja seorang yang menikmati kekuatan jasmaniah belaka, tetapi ia dikaruniai pula kekuatan kemauan dan ketajaman akal fikiran. Dari itu tidak wajar bila ia ketinggalan dan tak ingin mengikuti orang yang diketahuinya betul-betul jujur dan dapat dipercaya. Hanya hal itu dipendamnya dalam hati, menunggu saat yang tepat untuk membukakannya, yang waktunya telah dekat dan tidak akan menunggu lama…

Dan hari yang ditunggu-tunggu itu pun datanglah… Hamzah keluar dari rumahnya menjinjing busur dan menujukan langkahnya ke arah padang belantara untuk melatih kegemaran dan melakukan olah raga yang amat disukainya yaitu berburu. Ia amat mahir dalam hal ini.

Ada kira-kira setengah hari ia menghabiakan waktunya di sana, dan ketika kembali dari perburuannya ia langsung pergi ke Ka’bah untuk thawaf seperti biasa sebelum pulang ke rumahnya. Setibanya dekat Ka’bah ia ditemui oleh seorang pelayan wanita Abdullah bin Jud’an. Dan demi dilihatnya Hamzah telah dekat, berkatalah pelayan itu kepadanya: ”Wahai Abu Umarah, seandainya anda melihat apa yang dIslami oleh keponakan anda Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru-baru ini….! Abul Hakam bin Hiayam, ketika mendapatkan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk di sana, disakiti dan dimakinya, hingga mengalami hal-hal yang tidak diinginkan…!”

Lalu dilanjutkannya cerita mengenai perlakuan Abu Jahal kepada Rasulullah…

Hamzah mendengarkan perkataannya dengan baik, kemudian ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu membawa busur panahnya dan menyandangkan ke bahunya. Setelah itu dengan langkah cepat tetapi tegap ia pergi menuju Ka’bah dan berharap akan bertemu dengan Abu Jahal di sana… Dan jika tidak ditemuinya, maka pencarian akan dilakukannya di mana pun juga sampai berhasil…

Tetapi belum lagi sampai di Ka’bah, kelihatan olehnya Abu Jahal di pekarangannya sedang dikelilingi oleh beberapa orang pembesar Quraisy. Maka dalam ketenangan yang mencekam, Hamzah maju mendapatkan Abu Jahal lalu melepaskan busurnya dan memukulkannya ke kepala Abu Jahal hingga luka dan mengeluarkan darah. Dan sebelum orang-orang itu menyadari apa Yang terjadi, Hamzah pun membentak Abu Jahal, katanya:

 “Kenapa kamu cela dan kamu maki Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, padahal aku telah menganut Agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannva? Nah, cobalah ulangi kembali makianmu itu kepadaku jika kamu berani!”

Dalam sekejap waktu orang-orang yang berada di sana lupa akan penghinaan yang baru menimpa pemimpin mereka dan darah yang mengalir dari kepalanya, terpesona oleh kata-kata Yang keluar dari mulut Hamzah yang tak ubah bagai bunyi halilintar di siang bolong…, yaitu kata-kata yang diucapkannya untuk menyatakan bahwa ia telah menganut Agama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengakui apa yang diakuinya dan mengatakan apa yang dikatakannya…

Apa, apakah Hamzah telah masuk Islam…?

Dan… seorang anak muda Quraisy yang paling gigih membela haknya serta yang paling mulia…! Sungguh suatu bencana besar yang tak dapat diatasi oleh bangsa Quraisy Keislaman Hamzah akan menarik perhatian tokoh-tokoh pilihan untuk sama-sama memasuki Agama itu, hingga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan beroleh tenaga dan kekuatan yang akan membela da’wah dan memperkokoh barisannya, dan di suatu saat nanti orang-orang Quraisy akan bangun dan sadarkan diri, karena mendengar bunyi linggis dan tembilang yang menghancurleburkan berhala-berhala dan tuhan-tuhan mereka…!

Memang tidak salah…! Hamzah telah masuk Islam, dan di hadapan umum telah dikeluarkan simpanan hatinya selama ini, dan ditinggalkannya orang banyak itu merenungi kekecewaan dan kegagalan harapan mereka, dan dibiarkannya Abu Jahal menjilat darah yang mengucur dari kepalanya yang luka. Hamzah kembali memungut busur dengan tangan kanannya, dan menggantungkannya di bahu, lalu dengan langkah yang tegap dan hati Yang pekat pergi pulang ke rumahnya…

Hamzah adalah seorang yang berfikiran cerdas dan berpendirian keras…
Ketika ia telah pulang ke rumahnya dan hilang rasa lelahnya duduklah ia, dan membawa dirinya berfikir serta merenungkan periatiwa yang baru Saja dIslaminya…

Bagaimana cara ia menyatakan keislamannya… dan kapan…? Ia telah menyatakannya dalam saat emosi dan tersinggung, saat amarah dan naik darah… Ia tak sudi bila keponakannya diperlakukan secara sewenang-wenang dan dianiaya tanpa adanya pembela! Oleh sebab itulah ia jadi murka dan tampil membela Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta kehormatan Bani Hasyim, maka dipukulnya kepala Abu Jahal sampai luka, dan diteriakkan ke mukanya bahwa ia telah beragama Islam….

Tetapi, apakah merupakan cara terbaik bagi seseorang untuk meninggalkan agama nenek moyang dan kaumnya, agama yang telah mereka anut semenjak beribu tahun dan berabad-abad…? Lalu ia langsung menerima Agama baru yang belum lagi diselidiki ajarannya dan belum dikenal hakikatnya kecuali sekelumit kecil

Benar, ia tidak sedikit pun ragu tentang kebenaran Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ketulusan maksudnya. Tetapi mungkinkah seseorang menerima satu Agama baru berikut segala kewajiban dan tanggung jawabnya di saat marah dan naik darah sebagai yang dilakukan oleh Hamzah sekarang ini?

Memang dalam dadanya terpendam niat untuk menghormati da’wah baru yang panji-panjinya dipikul oleh keponakannya. Hanya seandainya ia telah ditaqdirkan akan menjadi salah seorang pengikut dari da’wah ini, yang beriman dan menyediakan diri untuk menjadi pembantu dan pembelanya, maka apabilakah sebenarnya waktu yang tepat untuk memasukinya…? Apakah di saat berang dan tersinggung ataukah setelah berfikir dan merenung…?

Demikianlah kelugasan pendirian dan kemurnian berfikir mengharuskannya untuk membawa semua masalah ini kembali ke batu ujian dan neraca pertimbangan. Mulailah ia berfikir dan hari-hari berlalu…, Siang harinya tak pernah tenteram dan malam matanya tak pernah terpejam…

Dan anehnya ketika kita berusaha mencari kebenaran dengan perantaraan akal, maka kebimbangan pun tampil ke depan sebagai penghalang… Demikianlah, demi Hamzah menggunakan akalnya untuk membahas masalah Agama Islam dan membanding-bandingkan yang lama dengan yang baru, timbullah keraguan dalam dirinya yang dibangkitkan oleh kerinduan yang telah mendarah daging terhadap agama nenek moyangnya, dan kecemasan yang telah jadi pusaka turun-temurun terhadap segala hal yang baru…

Bangkitlah semua kenangannya mengenai Ka’bah berikut tuhan-tuhan dan berhala-berhalanya, begitupun tentang pengaruh keagamaan yang telah ditanamkan oleh patung-patung pahatan itu terhadap semua penduduk Mekah dan bangsa Quraisy umumnya…, hingga memisahkan diri dari sejarah tersebut dan meninggalkan agama lama yang telah berurat-akar ini, tak ubah bagai hendak melompati jurang yang lebar…

Timbullah keheranannya mengapa orang demikian mudah dan tergesa-gesa mau meninggalkan agama nenek moyangnya…. Maka rnenyesallah ia atas apa yang telah dilakukannya, hanya perjalanan akal tetap diteruskan dan tidak dihentikannya…

Dan tatkala dirasakan bahwa akal fikiran semata tidak berdaya, maka dengan ikhlas dan tulus hati, ia pun pergi berlindung kepada yang ghaib. Di sisi Ka’bah, sambil wajahnya menengadah ke langit, dan dengan minta pertolongan kepada segala kudrat dan nur yang terdapat di alam wujud ini, ia memohon dan berdo’a agar beroleh petunjuk kepada yang haq dan jalan yang lurus.

Dan marilah kita dengar ceritanya ketika mengisahkan berita selanjutnya, katanya:

“…. Kemudian timbullah sesal dalam hatiku karena meninggalkan agama nenek moyang dan kaumku…  dan aku pun diliputi kebingungan hingga mata tak hendak tidur…. Lalu pergilah aku ke Ka’bah, dan memohon kepada Allah agar membukakan hatiku untuk menerima kebenaran dan melenyapkan segala keraguan. Maka Allah pun mengabulkan permohonanku itu dan memenuhi hatiku dengan keyakinan…. Aku pun segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan memaparkan keadaanku padanya, maka dido’akannya kepada Allah agar ditetapkan-Nya hatiku dalam Agamanya….”

Demikianlah Hamzah menganut Islam secara yakin…
Allah menguatkan Agama Islam dengan Hamzah, dan sebagai batu karang yang kukuh menjulang ia membela Rasulullah dan shahabat-shahabatnya yang lemah…. Abu Jahal melihat Hamzah berdiri dalam barisan Kaum Muslimin, maka menurut keyakinannya perang sudah tak dapat dielakkan lagi. Oleh sebab itu dihasutnyalah orang-orang Quraisy untuk melakukan kekerasan terhadap Rasulullah dan para shahabat, dan ia terns  mempersiapkan diri untuk melancarkan perang saudara yang akan dapat memuaskan haus dahaga, melipur rasa dendam dan sakit hatinya.

Memang, tentu saja Hamzah tak dapat membendung segala siksaan mereka, tetapi keIslamannya seolah-olah menjadi benteng dan periaai, di samping menjadi days penarik bagi kebanyakan kabilah Arab, — apalagi setelah diikuti pula dengan masuk Islamnya Umar bin Khatthab — untuk mengikuti langkahnya, hingga mereka pun memasukinya dengan berduyun-duyun…

Dan semenjak masuk Islam, Hamzah telah bernadzar akan membaktikan segala keperwiraan, kesehatan bahkan hidup matinya untuk Allah dan Agama-Nya, hingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkenan memasangkan pada dirinya julukan iatimewa ini: ”Singa Allah dan singa Rasul-Nya”.

Sariyah, atau angkatan bersenjata tanpa disertai Nabi, yang mula pertama dikirim untuk menghadapi musuh, dipimpin oleh Hamzah….

Dan panji-panji pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada salah seorang Muslimin, diserahkan kepada Hamzah… Kemudian ketika kedua angkatan bersenjata berhadapan-muka di perang Badar, keberanian luar biasa telah ditunjukkan oleh Singa Allah dan Singa Rasul-Nya yang tiada lain dari Hamzah…!

Sisa-sisa tentara Quraisy kembali dari Badar ke Mekah dan berjalan terhuyung-huyung membawa kegagalan dan kekalahan – – – – Abu Sufyan tak ubah bagai pohon kayu besar yang tumbang dan tercabut dengan urat akarnya. la berjalan dengan kepala tunduk meninggalkan di tengah-tengah medan, tubuh pemuka-pernuka Quraisy yang telah tiada bernyawa, seperti Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf, ‘tJqbah bin Abi Mu’aith, Aswad bin Abdul Aswad al Makhzumi, walid bin ‘Utbah, Nadlar bin Harits, ‘Ash bin Sa’id, Tha’mah bin ‘Adi serta beberapa puluh pemimpin dan tokoh Quraisy lainnya seperti mereka.

Sungguh, Quraisy takkan mau menelan kekalahan pahit ini begitu saja…. Mereka mulai mempersiapkan diri, menghimpun segala dana dan daya untuk menuntut bela dan menebus kekalahan mereka. Pendeknya Quraisy telah bertekad bulat untuk berperang…!

Dan datanglah saatnya perang Uhud di mana orang-orang Quraisy tumpah keluar, disertai oleh sekutu mereka dari berbagai kabilah Arab lainnya. Mereka dipimpin oleh Abu Sufyan. Sedang yang dituju oleh pemuka-pemuka Quraisy dengan peperangan ini sebagai sasaran, hanyalah dua orang saja, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Hamzah Radhiyallahu ‘Anh

Memang, dari buah pembicaraan dan rencana yang mereka atur sebelum perang, dapatlah diketahui bahwa Hamzah berada pada urutan kedua sesudah Rasulullah sebagai sasaran dan bulan-bulanan dari peperangan ini.

Sebelum berangkat, mereka telah memilih seseorang yang diberi tugas untuk menyelesaikan rencana mereka terhadap Hamzah. Orang itu adalah seorang budak Habsyi yang memiliki kemahiran iatimewa dalam melemparkan tombak.

Dalam peperangan nanti mereka memerintahkan budak itu untuk memusatkan perhatian hanya kepada satu tugas saja, yaitu menjadikan Hamzah sebagai barang buruan dan melepaskan lemparan tombak dengan lemparan yang mematikan kepadanya. Dan mereka memperingatkannya agar tidak melalaikan tugas tersebut bagaimanapun juga jalan peperangan dan akhir kesudahannya.

Sebagai imbalan mereka berjanji akan membalas jasanya dengan harga besar dan tinggi, yakni kebebasan dirinya — Budak yang bernama Wahsyi itu adalah milik Jubair bin Muth’am — waktu perang Badar, paman Jubair ini tewas di tengah medan dan ia ingin menuntut bela, maka katanya kepada Wahsyi: ”Berangkatlah bersama orang-orang itu! Dan jika kamu berhasil membunuh Hamzah, maka kamu bebas…!”

Kemudian mereka bawa ia kepada Hindun binti ‘Utbah yakni istri Abu Sufyan, agar dihasut dan didesaknya untuk melaksanakan rencana yang mereka inginkan.

Dalam perang Badar, Hindun ini telah kehilangan bapak, paman, saudara dan puteranya…. disampaikan orang kepadanya bahwa Hamzahlah yang telah membunuh sebagian keluarganya itu, dan yang menyebabkan terbunuhnya yang lain.

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bahwa wanita inilah di antara orang-orang Quraisy, baik wanita maupun laki-lakinya yang paling keras menghasut untuk berperang. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mendapatkan kepala Hamzah, betapa juga mahal harga yang harus dibayarnya…!

Berhari-hari lamanya sebelum peperangan dimulai, tak ada pekerjaan Hindun kecuali menggembleng dan menghasut Wahsyi serta menumpahkan segala dendam dan kebenciannya kepada Hamzah dan merencanakan peranan yang akan dimainkan oleh budak itu… la telah menjanjikan kepada budak itu, andainya ia berhasil membunuh Hamzah, akan diberinya kekayaan dan perhiasan paling berharga yang dimiliki oleh wanita — sementara itu jari-jarinya yang penuh kebencian memegang anting-anting, permata yang mahal serta kalung emas yang terlilit pada lehernya —, lalu dengan kedua matanya yang bercahaya katanya kepada Wahsyi: ”Jika kamu dapat membunuh Hamzah, maka semua ini menjadi milikmu…!”

Air liur Wahsyi pun mengalirlah mendengar itu… dan angan-angannya terbang melayang dipenuhi rasa rindu dan ingin cepat bertemu dengan peperangan yang akan menyebabkan tombaknya mendapatkan mangsanya, hingga ia tidak lagi menjadi budak belian, begitu pula ia ingin segera memiliki barang-barang perhiasan yang selama ini menghias leher istri pemimpin dan putri tokoh suku Quraisy…!

Demikianlah persekongkolan jahat, di mana segala unsur-unsur perang sama-sama menginginkan Hamzah Radhiyallahu ‘Anh terbunuh sistim terbuka tanpa ditawar-tawar.

Dan pertempuran itu pun tibalah…
Kedua pasukan telah berhadapan muka, sementara Hamzah berada di tengah-tengah medan yang menjadi sarang maut dan penderitaan. Ia memakai pakaian perang, sedang di dadanya terdapat bulu burung unta yang biasa diambilnya sebagai penghias dadanya dalam peperangan…

Hamzah mulai menyerbu dan menyerang kiri kanan, dan setiap kepala yang diarahnya pastilah putus oleh pedangnya. Pukulannya terhadap orang-orang musyrik tiada henti-hentinya, dan seolah-olah maut menyerahkan diri ke dalam tangannya, dilontarkannya kepada siapa yang dikehendakinya, lalu tertancap di hulu hatinya…!

Seluruh Kaum Muslimin maju dan menyerbu ke muka, hingga kemenangan menentukan telah hampir berada di tangan, dan sisa-sisa Quraisy terpukul mundur dan lari porak-poranda. Dan seandainya pasukan panah tidak meninggalkan kedudukan mereka di puncak bukit, dan turun ke bawah untuk memungut barang-barang rampasan dari musuh yang kalah…, sekiranya mereka tidak melanggar perintah dan tidak membiarkan garis pertahanan panjang menjadi terbuka bagi masuknya pasukan berkuda Quraisy, pastilah perang Uhud akan menamatkan riwayat mereka dan jadi kuburan bagi kaum penyerang baik lelaki maupun wanita, bahkan bagi kuda dan unta mereka…!

Maka di saat mereka lengah dan tidak waspada itulah pasukan berkuda Quraisy menyerang Kaum Muslimin dari belakang hingga mereka jadi sasaran dan bulan-bulanan pedang yang menari-nari berkelebatan…

Terpaksalah Kaum Muslimin mengatur barisan kembali dan memungut senjata yang telah ditinggalkan oleh sebagian mereka yang lari karena serbuan Quraisy yang mendadak itu

Tetapi sergapan yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangka itu akibatnya memang amat kejam dan pahit sekali…! Hamzah melihat apa yang terjadi, maka baik semangat, tenaga maupun perjuangannya dijadikannya berlipat ganda…. Ia menerjang ke kiri dan ke kanan, ke muka dan ke belakang, sementara Wahsyi sedang mengintainya di sana…, dan menunggu terbukanya kesempatan untuk melemparkan tombak ke tubuhnya…

Marilah sekarang kita dengarkan cerita Wahsyi menyampaikan laporan pandangan mata tentang periatiwa tersebut, katanya:

 “Saya seorang Habsyi, dan mahir melemparkan tombak dengan teknik Habsyi, hingga jarang sekali lemparanku meleset…. Tatkala orang-orang telah mulai berperang, saya pun keluar dan mencari-cari Hamzah, hingga akhirnya tampak di antara manusia tak ubahnya bagai unta kelabu yang mengancam orang-orang dengan pedangnya hingga tak seorang pun yang dapat bertahan di depannya… Maka demi Allah, ketika saya bersiap-siap untuk membunuhnya, saya bersembunyi di balik pohon agar dapat menerkamnya atau menunggunya supaya dekat, tiba-tiba saya didahului oleh Siba’ bin Abdul ‘Uzza yang tampil he depannya… Tatkala ia tampak oleh Hamzah, maka serunya: ”Marilah ke sini hai anak tukang sunat wanita!” Lalu ditebasnya hingga tepat mengenai kepalanya…

Ketika itu saya pun menggerakkan tombak mengambil ancang-ancang, hingga setelah terasa tepat, saya lontarkanlah hingga mengenai pinggang bagian bawah dan tembus he bagian muka di antara dua pahanya…. Dicobanya bangkit ke arahku, tetapi ia tak berdaya lalu rubuh dan meninggal…

Saya datang mendekatinya dan mencabut tombakku, lalu kembali he perkemahan dan duduk-duduk di sana, karena tak ada lagi tugas dan keperluanku. Saya telah membunuhnya semata-mata demi kebebasan dari perbudahan yang memilikiku

Dan tak -ada salahnya bila kita mendengarkan kisah Wahsyi selanjutnya: “Sesampainya di Mekah saya pun dibebaskan. Saya tetap bermukim di sana sampai kota itu dimasuki oleh Rasulullah di hari pembebasan, maka saya lari he Thaif. Dan tak kala perutusan Thaif menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman, timbul berbagai rencana dalam fikiranku. Kataku dalam hati biarlah saya pergi he Syria, atau he Yaman, atau ke tempat lain. Demi Allah, ketika saya berada dalam ke bingungan itu datanglah seseorang mengatakan kepadaku: ”Hai tolol! Rasulullah tak hendak membunuh seseorang yang masuk Islam…!”

Maka pergilah saya mendapatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Madinah. Saya baru tampak olehnya ketika tiba-tiba telah berdiri di depannya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tatkala saya dilihatnya, beliau bertanya:

 “Apakah kamu ini Wahsyi…?
“Benar ya Rasulullah,” ujarku.
Lalu sabdanya: ”Ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu membunuh Hamzah!”
Maka saya Ceritakanlah. Dan setelah cerita saya itu selesai, sabdanya pula: ”Sangat menyesal…! Sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku..

Maka selalulah saya menghindarkan diri dari hadapan dan jalan yang akan ditempuh oleh Rasulullah agar tidak kelihatan oleh beliau sampai saat beliau diwafatkan Allah… Tatkala Kaum Muslimin pergi memadamkan pemberontakan (Nabi palsu) Musailamatul Kadzdzah penguasa Yamamah, saya pun ikut bersama mereka dan membawa tombak yang saya gunakan untuk membunuh Hamzah dahulu.

Ketika orang-orang mulai bertempur saya lihat Musailamatul Kadzdzah sedang berdiri dengan pedang di tangan. Maka saya pun bersiap-siaplah dan menggerakkan tombak membuat ancang-ancang, hingga setelah terasa tepat, saya lemparlah dan menemui sasarannya.

Maka sekiranya saya dengan tombak itu telah membunuh sebaik-baik manusia yaitu Hamzah, saya berharap kiranya Allah akan mengampuniku karena dengan tombak itu pula saya telah membunuh sejahat-jahat manusia yaitu Musailamah…!

Demikianlah Singa Allah dan Singa Rasul-Nya itu gugur sebagai syahid mulia…! Dan sebagaimana hidupnya telah menggemparkan, demikian kewafatannya telah menggemparkan pula….

Musuh-musuh tak puas hanya dengan kewafatannya belaka! Betapa mereka telah mengerahkan orang-orang Quraisy dan mencurahkan harta benda mereka dalam suatu peperangan besar yang tujuannya tiada lain dari mendapatkan Rasulullah dan pamannya Hamzah.

Hindun binti ‘Utbah ya’ni istri Abu Sufyan telah menyuruh Wahsyi agar mengambil hati Hamzah untuk dirinya. Keinginannya yang mempunyai imbalan ini dikabulkan oleh orang Habsyi itu. Dan tatkala ia kembali kepada Hindun dan memberikan hati Hamzah dengan tangan kanannya, maka ia menerima kalung dan anting-anting dari wanita itu dengan tangan kirinya sebagai balas jasa dalam memenuhi tugasnya…

Maka Hindun yang ayahnya telah tewas di tangan Kaum Muslimin di perang Badar itu dan istri Abu Sufyan panglima kaum musyrik penyembah berhala, menggigit dan mengunyah hati Hamzah dengan harapan akan dapat mengobati hatinya yang pedih karena dendam dan amarah murka.

Tetapi rupanya hati itu telah liat (slot) hingga tak dapat dikunyah dan tidak mempan oleh taring-taringnya, maka dikeluarkan dari mulutnya, lalu kedengaranlah teriakan keras, yaitu seruan yang diucapkan dan berbunyi sebagai berikut:

 “Kekalahan di Badar terbalaslah sudah oleh kami
Dan peperangan itu bagai hari-hari silih berganti
Daku tak tahan mengenangkan ‘Utbah ayahku itu
Begitu pula saudaraku, paman serta putera sulungku Sekarang hatiku puas, nadzar telah terpenuhi
Sakit di dada telah terobati oleh Wahsyi”

Peperangan pun usailah, kaum musyrikin menaiki unta dan menghalau kuda mereka pulang ke Mekah… Dan Rasulullah beserta shahabat turun ke bekas medan pertempuran untuk meninjau para syuhada…

Maka nun di sana yakni di perut lembah, ketika beliau memeriksa wajah para shahabatnya yang telah menjual diri mereka kepada Allah dan menyajikannya sebagai kurban yang ikhlas kepada Allah Yang Maha Besar, beliau berhenti sejenak… menyaksikan dan membisu…, menggertakkan gigi dan membasahi pelupuk mata…

Tidak terlintas dalam angannya sedikit pun bahwa moral orang-orang Arab akan merosot sedemikian rupa hingga jatuh pada kebiadaban keji dan sampai hati merusak mayat sebagai yang disaksikan pada pamannya syahid mulia Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah dan tokoh utama syuhada…

Rasulullah membuka kedua matanya yang dengan airnya berkilat-kilat laksana kaca…,sambil matanya tertuju kepada tubuh pamannya itu, beliau bersabda:

 “Tah pernah aku menderita mushibah seperti yang kuderita dengan peristiwa anda sekarang ini… Dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini…”

Lalu sambil menoleh kepada para shahabat, sabdanya:

 “Sekiranya Shafiah saudara perempuan Hamzah takkan berduka dan tidak akan menjadi  sunnah sepeninggalku nanti, akan kubiarkan ia mengisi perut binatang buas dan tembolok burung nasar…! Tetapi sekiranya aku diberi kemenangan oleh Allah di salah satu medan pertempuran dengan orang Quraisy, akan kuperbuat sebagai yang mereka perbuat, terhadap tiga puluh orang laki-laki di antara mereka…!”

Maka para shahabat pun berseru pula:
“Demi Allah, sekiranya pada suatu waktu nanti kita diberi kemengan oleh Allah terhadap mereka, akan kita cincang mayat-mayat mereka seperti yang belum pernah dilakukan oleh seorang Arab pun…!”

Tetapi Allah yang telah memberi kemuliaan kepada Hamzah sebagai seorang syahid, memuliakannya sekali lagi dengan menjadikan gugurnya itu sebagai suatu kesempatan untuk memperoleh pelajaran penting yang akan melindungi keadilan sepanjang masa dan mengharuskan diperhatikannya kasih sayang walau dalam qiahash dan menjatuhkan hukuman.

Demikianlah, belum lagi selesai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan ancamannya itu, ia masih berada di tempat itu dan belum lagi meninggalkannya, turunlah wahyu berupa ayat-ayat mulia

Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan berdiakusilah dengan mereka dengan cara yang utama! Sesungguhnya Tuhan kalian lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan la lebih mengetahui siapa-siapa yang beroleh petunjuk…. Jika kalian hendak membalas, balaslah seperti yang telah dilakukan mereka kepada kalian dan jika kalian bershabar, maka itu. memang lebih baik bagi orang-orang yang shabar….

Dan bershabarlah kamu, dan keshabaranmu itu takkan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah; serta jangan kamu berduka-cita atas mereka, serta janganlah sesak nafas karena tipu dtya yang mereka lakukan…

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang taqwa serta orang-orang yang berbuat baik…! (Q.S.16 an-Nahl:125 — 128).

Maka turunnya ayat-ayat tersebut di tempat ini, merupakan penghormatan sebaik-baiknya terhadap Hamzah, yang pahalanya pasti akan diberikan oleh Allah!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam amat sayang kepadanya, dan sebagai telah kita sebutkan dulu, ia bukanlah hanya paman yang tercinta belaka…

Tetapi juga saudara sesusu…
Dan teman sepermainan…
Serta shahabat sepanjang masa…

Dan di saat-saat perpiaahan ini, tidak ada penghormatan yang lebih utama yang ditemui Rasulullah untuk melepas kepergiannya daripada menshalatkannya bersama-sama dengan seluruh syuhada, seorang demi seorang…

Demikianlah jasadnya dibawa ke tempat shalat di medan laga yang telah menyaksikan kepahlawanan dan menampung darahnya, lalu diahalatkan oleh Rasulullah bersama para shahabat. Kemudian dibawa lagi ke sana seorang syahid lain dan diahalatkan oleh Rasulullah. Mayat itu diangkat tetapi Hamzah dibiarkan ditempatnya, lalu dibawa lagi syahid ketiga dan dibaringkan di dekat Hamzah dan diahalatkan pula oleh Rasulullah.

Begitulah para syuhada itu didatangkan, syahid demi syahid sernentara, Rasulullah menshalatkan mereka seorang demi seorang, hingga bila dihitung ada tujuhpuluh kali banyaknya Rasulullah menshalatkan Hamzah waktu itu….

Rasulullah pulang ke rumah meninggalkan medan peperangan. Di jalan didengarnya wanita-wanita Bani Abdil Asyhal menangisi syuhada mereka. Maka dengan amat santun dan sayang, sabdanya:

 “Tetapi Hamzah, tak ada wanita yang menangisinya…!”

Hal ini kedengaran oleh Sa’ad bin Mu’adz, dan disangkanya Rasulullah akan senang hatinya bila ada wanita yang menangisi pamannya, lalu segeralah ia mendatangi wanita-wanita Bani Asyhal tali dan menyuruh mereka agar menangisi Hamzah pula. Suruhan itu mereka lakukan, tetapi demi Rasulullah mendengai tangis mereka, ia pergi menemui mereka sabdanya:

 “Bukan ini yang saya maksudkan…
Pulanglah kalian, semoga Allah memberi kalian rahmat, dan tak boleh menangis lagi setelah hari ini…!”

Dan para penyair shahabat Rasulullah berlomba-lomba menggubah sya’ir untuk meratapi Hamzah dan mengenangkan jasa-jasanya yang besar. Berkatalah Hasaan bin Tsabit dalam qashidahnya yang panjang:

 “Tinggalkan masa lalu yang penuh berhala
Ikuti jejak Hamzah yang bergelimang dengan pahala Penunggang kuda di medan laga
Bagaikan singa terluka di hutan belantara
Seorang warga Hasyim mencapai yang cemerlang Tampil ke medan laga membela kebenaran
Gugur sebagai syahid di medan pertempuran Di tangan Wahsyi pembunuh bayaran…!”

Dan dengarlah pula kata Abdullah bin Rawahah:

 “Air mata mengalir tak ada hentinya
Walau ratap dan tangia tak ada artinya Bagimu wahai singa Allah kami tafakur
Sambil bertanya Hamzahkah yang gugur? Ujian telah menimpa kami hamba Allah
Begitu pula Muhammad Rasulullah
Dengan kepergianmu benteng musuh berantakan Dengan kepergianmu
tercapailah tujuan”

Dan berkatalah pula Shafiyah binti Abdul Muthalib, yaitu bibi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan saudara Hamzah:

 “Ilahi Rabbi pemilik ‘arasy telah memanggilnyq datang Ke dalam surga tempat hidup bersenang senang Memang itulah yang kita tunggu dan selalu harapkan

Hingga di yaumul mahsyar Hamzah beroleh tempat yang lapang
Demi Allah, selama angin barat berhembus daku takkan lupa Baik di waktu bermukim maupun bepergian ke mana saja
Selalu berkabung dan menangiai Singa Allah Sang Pemuka
Pembela Islam terhadap setiap kafir orang angkara Sementara daku mengucapkan sya’ir, keluargaku sama berdo’a.
Semoga Allah memberimu balasan, wahai saudara, wahai pembela”.

Tetapi ratapan terbaik yang menharurnkan kenangan terhadap dirinya  ialah kata-kata yang diucapkan oleh Rasulullah ketika berdiri di depan jasad Hamzah sewaktu dilihatnya berada di antara syuhada pertempuran itu, sabdanya:

 “Melimpahlah atasmu Rahmat ar-Rahim
Akulah saksi bagimu di hadapan al-Hakim
Engkaulah pendekar penyambung silaturrahim
Berbuat kebaikan pembela yang di dhalim…
Tak dapat kiranya disangkal, bahwa mushibah yang menimpa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diaebabkan gugur pamannya yang utama Hamzah amat besar sekali, hingga sebagai penghibur baginya amat sukarlah dapat ditemukan…
Tetapi taqdir telah menyediakan bagi Rasulullah sebaikbaik hiburan.

Dalam perjalanan pulang dari Uhud ke rumahnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati seorang wanita warga Bani Dinar, yang dalam peperangan itu telah kehilangan bapak, suami dan saudaraya….

Ketika wanita itu melihat Kaum Muslimin pulang dari medan perang, ia segera mendapatkan mereka dan menanyakan berita pertempuran. Maka mereka sampaikan bela sungkawa atas gugurnya suami, bapak dan saudaranya itu…

Sambil mengeluh, kiranya wanita itu menanyakan:
“Bagaimana kabarnya Rasulullah…?”
“Baik, alhamdulillah beliau dalam keadaan yang anda inginkan”, ujar mereka.
“Bawa beliau ke sini hingga saya dapat melihatnya… katanya pula.

Mereka pun tetap berdiri di samping wanita tersebut, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah dekat kepada mereka. Maka demi tampak oleh wanita itu, ia pun datang menghampiri Rasulullah, katanya:

 “Apa pun mushibah yang menimpa asal tidak menimpa diri anda, soalnya enteng belaka
Memang…… Itu adalah suatu hiburan yang terbaik dan paling kekal

Dan mungkin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan tersenyum menyaksikan periatiwa iatimewa dan satu-satunya ini! Karena dalam dunia pengurbanan, kesetiaan dan kecintaan, peristiwa itu tak ada bandingannya…!

Seorang wanita. lemah dan miskin… sekaligus telah kehilangan bapak, suami dan saudaranya…, tetapi sambutannya terhadap perang yang menyampaikan berita yang dapat menggoncangkau gunung-gunung itu, hanyalah:

 “Tetapi bagaimana kabarnya Rasulullah……..”

Sungguh, suatu peristiwa yang telah diatur corak dan waktunya oleh tangan taqdir secara baik dan tepat, guna disajikan sebagai penghibur alakadarnya bagi Rasulullah… dalam menghadapi mushibah dengan gugurnya Singa Allah dan panglima para syuhada…!

Kami semua kepunyaan Allah
Dan kepadanya kami kembali.

Oleh : KHALID MUHAMMAD KHALID

12 Barisan di Akhirat

Suatu ketika, Muadz b Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: "Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris." (QS An-Naba':18)"
Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: "Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris."
Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut.....

Barisan Pertama 
Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Kedua 
Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."


Barisan Ketiga 
Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. "Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Keempat 
Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. "Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Kelima 
Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. "Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Keenam 
Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. "Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Ketujuh 
Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. "Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."


Barisan Kedelapan
Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. "Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Kesembilan 
Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. "Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Kesepuluh 
Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. "Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Kesebelas 
Digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. "Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."

Barisan Kedua Belas 
Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: "Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu,ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih..."

Semoga kita semua di saf yang Ke-12 yang mendapat rahmat dari Allah SWT. Amin...

PKS Adalah Pilihan, Golput Adalah Keputusasaan

Seperti bunyi judul salah satu lagu dari Krisdayanti, Menghitung Hari. Di mana beberapa lagi Indonesia akan menggelar sebuah hajatan besar, yaitu pesta demokrasi yang disebut dengan Pemilu. Yaaa…pemilu sudah di ambang pintu. Segala sesuatu yang berkenaan dengan aktivitas untuk menyambut perhelatan akbar ini terus dipersiapkan oleh pihak2 yang berwenang. Namun apapun itu bentuknya cuma satu yang kita harapkan, ialah agar pemilu ini dapat berlangsung dengan damai serta jurdil (jujur dan adil).
Sehubungan dengan itu, jadwal pemilu pun sudah ditetapkan. Pemilu 2014 ini  akan dilaksanakan dua kali, yaitu Pemilu Legislatif (Pileg) pada tanggal 9 April 2014 yang akan memilih para anggota dewan legislatif dan  Pemilu Presiden (Pilpres) pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Begitu pula dengan jadwal kampanye bagi partai-partai peserta pemilu juga sudah disusun sedemikian rupa, supaya dapat berjalan dengan tertib dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Adapun yang menjadi undangan dari pesta pemilu ini adalah seluruh rakyat Indonesia yang sudah memenuhi persyaratan sebagai pemilih, tanpa terkecuali. Oleh karena itu kepada semua warga masyarakat di Republik ini, yang namanya sudah terdaftar sebagai pemilih diharapkan agar bisa menggunakan hak suaranya pada saat pemilu nanti. Salurkan aspirasi anda di dalam bilik suara yang bernama TPS. Ingat, suara anda hari ini akan menentukan nasib masa depan anda di 5 tahun mendatang…!
Golput: Golongan Putus asa
Sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu kali inipun tak pernah lepas dari pro dan kontra. Bahwa ada banyak karakter pemilih yang akan turut meramaikan  pemilu tahun ini, dan ini sudah merupakan sunnatullah. Yaitu dari yang paling bersemangat ingin ikut terjun (berpartisipasi) di dalamnya, kemudian ada yang ogah-ogahan (setengah hati), bahkan sampai ada yang memilih untuk tidak ikutan sama sekali alias golput. Bagi yang bersemangat dan yang ogah-ogahan, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Namun saya cuma ingin membahas orang-orang yang masuk dalam golput ini. Siapa sajakah mereka…?
Golput (golongan putih) adalah sebutan untuk orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi atau pemilu. Ada berbagai alasan/faktor mengapa mereka tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Yang jelas fenomena golput ini sudah ada sejak diselenggarakannya pemilu pertama  di Indonesia pada tahun 1955. Dan semakin marak kehadirannya pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba) pada tahun 1971. Yang dimotori oleh beberapa orang di antaranya adalah Arief Budiman, Julius Usman dan almarhum Imam Malujo Sumali (Pengertian Golput dalam Pemilu: Masruhin Dander; 2012)
Sedangkan alasan/faktor mengapa orang lebih memilih golput menurut saya ada 2, yaitu faktor ketidaksengajaan dan kesengajaan. Yang pertama adalah faktor ketidaksengajaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan (kejadian) yang di luar dugaan atau ketidakmampuan seseorang untuk menolaknya, bertepatan dengan hari H atau waktu pencoblosan. Misalnya karena alasan musibah (sakit, meninggal dunia, bencana alam, dan lain-lain) baik menimpa yang bersangkutan, sanak famili, tetangga, teman dan lain sebagainya. Bisa juga karena alasan bepergian, pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, kelupaan, ketiduran, dan seterusnya. Atau bisa juga karena tidak terdaftar sebagai pemilih serta alasan karena salah mencoblos pada saat pemungutan suara, karena faktor ketidaktahuan atau kurangnya informasi dan sosialisasi mengenai pemilu itu sendiri (terkait surat suara dan tatacara pencoblosan).
Yang kedua adalah faktor kesengajaan. Yaitu adanya unsur kesengajaan yang dilakukan oleh seseorang untuk tidak memilih pada saat pemilu berlangsung. Hal ini dilandasi oleh berbagai alasan atau kemungkinan. Antara lain ialah karena merasa tidak ada partai atau calon (caleg dan capres) yang layak untuk dipilih. Menganggap ada atau tidak adanya pemilu hasilnya sama saja, bahwa pemilu tidak akan pernah mengubah keadaan yang sudah kadung dianggap rusak/bobrok/kisruh. Beranggapan bahwa pemilu ini hanya akan menguntungkan segelintir orang yang berkepentingan di dalamnya.
Selain dari beberapa  faktor kesengajaan di atas, menurut saya ada lagi yang lebih ekstrem, yaitu faktor keagamaan dan kesukuan (SARA), idealisme dan lain-lain. Masuk pula dalam kategori ini ialah adanya sekelompok orang (Islam) yang menghujat dan mengecam pemilu sebagai salah satu produk demokrasi yang tak boleh diikuti, apalagi terjun langsung sebagai peserta pemilu. Karena bagi mereka demokrasi itu merupakan sebuah sistem kufur yang tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam dan bertentangan dengan hukum Islam. Oleh karenanya segala sesuatu yang berkaitan dengan demokrasi haram hukumnya, termasuk juga pemilu…!
Namun apapun itu bentuknya, menurut saya golput bukanlah sikap yang tepat untuk dijadikan pegangan. Sebab golput merupakan kumpulan orang-orang yang tidak memiliki kepekaan (sense of belonging) terhadap segala persoalan bangsa ini. Cerminan dari orang-orang yang apatis dan pesimis. Gambaran dari orang-orang yang tidak mempunyai semangat hidup yang tinggi serta mudah sekali berputus asa. Tidak punya pilihan hidup, hanya berpasrah kepada nasib belaka. Padahal dalam Islam sendiri sudah diajarkan bahwa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah SWT.
PKS: Solusi Pilihan
Terlepas dari itu semua, hidup ini harus terus berjalan. Apapun yang terjadi kita harus tetap optimis, bahwa  cepat atau lambat kita pasti akan menemui jalan keluar dari semua kemelut yang kita hadapi sekarang ini. Indonesia membutuhkan orang-orang yang baik (shalih), cerdas, jujur dan amanah. Dan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan berdiam diri dan berdoa saja. Harus ada aksi nyata yang ditunjukkan dan diberikan kepada bangsa ini.
Bagaimana mungkin di satu sisi kita menginginkan suatu perubahan dalam parlemen dan pemerintahan, namun di sisi yang lain kita tidak mau terlibat langsung di dalamnya. Walaupun cuma sekedar meluangkan waktu kita selama 5 menit saja di dalam bilik suara. Di satu sisi kita teriak-teriak mengatakan demokrasi yang bertentangan dengan hukum Islam (kufur), namun di sisi yang lain kita lupa bahwa selama ini kita telah makan dan minum dari hasil produk demokrasi itu sendiri.
Untuk itu sebagai bentuk dari rasa kepedulian & kecintaan kepada Tanah Air, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) hadir untuk memberikan solusi. PKS bisa menjadi salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan yang ada. Sebagai partai Islam yang modernis, kiprahnya di dunia perpolitikan Indonesia tak perlu diragukan lagi. Saat ini, PKS menjadi satu-satunya partai Islam terbesar di sini.
Dengan ditopang kader-kader yang berkualitas, baik dari segi ilmu duniawi maupun ukhrawi, PKS siap bersaing dengan jutaan anak bangsa lainnya. Siap bersinergi demi kemajuan Ibu Pertiwi. Siap memberikan sumbangsih dan karya nyatanya bagi negeri. Tiga kali mengikuti pemilu, PKS sudah membuktikan dirinya sebagai partai yang tak bisa dianggap remeh oleh kawan maupun lawan.
Sejumlah kader-kadernya yang saat ini duduk di badan legislatif maupun eksekutif, telah berhasil menunjukkan jati dirinya siapa dan bagaimana mereka. Walaupun jumlah mereka masih tergolong kecil (sedikit), namun itu tak menyurutkan langkah mereka untuk terus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di manapun berada. Begitu pula dengan para kadernya yang di luar parlemen dan pemerintahan, mereka tetap bahu-membahu memberikan karya nyatanya, meski sekecil apapun jua itu bentuknya. Bahwa mereka memang “berbeda” dari yang lain, itulah faktanya…
Maka, jangan pernah ragu untuk memilih PKS pada pemilu tanggal 9 April nanti. Karena PKS ada memang untuk menyelamatkan Indonesia. Ingat, jangan pernah  mau diajak  menjadi golput… karena ini bukanlah watak para pejuang, namun merupakan watak para pecundang… Allahu Akbar…!!


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/03/12/47613/pks-adalah-pilihan-golput-adalah-keputusasaan/#ixzz2xM2Uu9dR


Kewajiban-Kewajiban Seorang Al Akh

"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati  mereka,  tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Anfal: 63)
Wahai Ikhwan yang tulus...Imanmu  kepada  bai'at  ini  mengharuskanmu  untuk  menunaikan  kewajiban-kewajiban berikut, sehingga engkau menjadi 'batu bata' yang kuat bagi bangunan:
1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari satu juz Usahakan untuk mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hati.
2. Hendaklah engkau membaca Al-Qur'an dengan baik,  memperhatikannya dengan
seksama,  dan merenungkan artinya.  Hendaklah engkau juga mengkaji sirah Nabi
dan  sejarah  para  salaf  sesuai  dengan  waktu  yang  tersedia.  Buku  yang  dirasa
mencukupi kebutuhan ini minimal adalah buku Humatul Islam. Hendaklah engkau
juga banyak membaca hadits Rasul Allah saw., minimal hafal empat puluh hadits;
ditekankan  untuk  Al-Arba'in  AnNawawiyah.  Dan  hendaklah  engkau  mengkaji
risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang fiqih.
3. Hendaklah  engkau  bersegera  melakukan  general  check  up  secara  berkala  atau
berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Di samping itu perhatikanlah faktorfaktor
 penyebab  kekuatan dan perlindungan  tubuh,  dan hindarilah faktor-faktor
penyebab lemahnya kesehatan.
4. Hendaklah  engkau  menjauhi  berlebihan  dalam  menkonsumsi  kopi,  teh,  dan minuman perangsang semisalnya,  janganlah engkau meminumnya kecuali  dalam
keadaan darurat, dan hendaklah engkau menghindar sama sekali dari rokok.
5. Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal,  menyangkut:
tempat  tinggal,  pakaian,  makanan,  badan,  dan  tempat  kerja,  karena  agama  ini
dibangun di atas dasar kebersihan.
6. Hendaklah engkau jujur dalam berkata, jangan sekali-kali berdusta.
7. Hendaklah engkau menepati janji,  janganlah mengingkarinya,  betapa pun kondisi
yang engkau hadapi.
8. Hendaklah engkau pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah
terus-terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia,  berani
mengakui  kesalahan,  adil  terhadap  diri  sendiri,  dan dapat  menguasainya  dalam
keadaan marah sekalipun.
9. Hendaklah  engkau  senantiasa  bersikap  tenang  dan  berkesan  serius.  Namun
janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum, dan tawa.
10. Hendaklah  engkau  memiliki  rasa  malu  yang  kuat,  berperasaan  sensitif,  sangat
mudah terpengaruh (peka)  oleh kebaikan dan keburukan;  yakni  munculnya rasa
bahagia untuk yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Hendaklah pula
engkau rendah hati  tanpa menghina diri,  bersikap taklid (yes  man),  dan terlalu
berlunak hati. Dan hendaklah engkau memuntat -dari orang lain- lebih rendah dari
martabatmu untuk mendapatkan martabarmu yang sesungguhnya.
11 . Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara, pada
setiap  situasi.  janganlah  kemarahan  melalaikanmu  untuk  berbuat  kebaikan,
janganlah mata keridhaan engkau pejamkan dari  perilaku yang buruk, janganlah
permusuhan membuatmu lupa dari  pengakuan jasa baik,  dan hendaklah engkau
berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat
denganmu.
12. Hendaklah  engkau  menjadi  pekerja  keras  (work  aholic)  dan  terlatih  dalam
menangani  aktivitas  sosial.  Hendaklah  engkau  merasa  bahagia  jika  dapat
mempersembahkan  bakti  untuk  orang  lain,  gemar  membesuk  orang  sakit,
membantu  orang  yang  membutuhkan,  menanggung  orang  yang  lemah,
meringankan beban orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan katakata
yang baik,dan senantiasa bersegera berbuat kebaikan.
13. Hendaklah engkau berhad kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada
manusia  maupun binatang,  berperilaku  baik dalarn  berhubungan  dengan semua
orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati
yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majelis, tidak memata-matai,
tidak menggunjing,  tidak mengumpat,  meminta izin jika masuk maupun keluar
rumah, dan lain-lain.
14. Hendaklah  engkau  pandai  membaca  dan  menulis,  memperbanyak  menelaah
terhadap risalah Ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya.  Hendaklah engkau
membangun perpustakaan khusus,  seberapa pun ukurannya;  konsentrasi  terhadap
spesifikasi  keilmuan dan keahlianmu jika  engkau  seorang Spesialis;  menguasai
persoalan Islam secara  umum penguasaan yang membuatnya dapat  membangun
persepsi  yang baik  untuk menjadi  referensi  bagi  pemahaman  terhadap  tuntutan
fikrah.
15. Hendaklah engkau memiliki  proyek usaha ekonomi  betapapun kayanya engkau,
utamakan proyek mandiri betapapun kecilnya,  dan cukupkanlah dengan apa yang
ada pada dirimu betapa pun tingginya kapasitas keilmuanmu.
16. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia
sesempit-sempit  pintu  rezeki.  Namun  jangan  engkau  tolak,  jika  diberi  peluang
untuk  itu.  janganlah  engkau  melepaskannya,  kecuali  jika  ia  benar-benar
bertentangan dengan tugas-tugas dakwahmu.
17. Hendaklah  engkau  perhatikan  penunaian  tugas-tugasmu;  bagaimana  kualitasnya
dan kecermatannya, jangan mempu, dan hendaklah menepati kesepakatan.
18. Hendaklah engkau memenuhi hakmu dengan baik dan memenuhi hak-hak orang
lain  dengan  sempurna,  tanpa  dikurangi  dan  berlebihan;  janganlah  pula  engkau
menunda-nunda pekerjaan.
19. Hendaklah engkau menjauhkan judi dengan segala macamnya, betapapun maksud
di  baliknya;  dan  hendaklah  engkau  menjauhi  mata  pencaharian  yang  haram,
betapapun keuntungan besar yang ada di baliknya.
20. Hendaklah engkau menjauh dari riba dalam setiap aktivitasmu, dan sucikan ia dari
riba sama sekali.
21. Hendaklah  engkau  memelihara  kekayaan  umat  Islam  secara  umum  dengan
mendorong  berkembangnya  pabrik-pabrik  dan  proyek-proyek  ekonomi  Islam.
Hendaklah  engkau  juga  menjaga  setiap  keping  mata  uang  agar  tidak  jatuh  ke
tangan  orang  non-Islam dalam keadaan  bagaimanapun.  jangan  berpakaian  dan
jangan makan kecuali dari produk negerimu yang Islam.
22. Hendaklah engkau memiliki kontribusi finansial dalam dakwah, engkau tunaikan
kewajiban  zakatmu,  dan  jadikan  sebagian  dari  hartamu  itu  untuk  orang  yang
meminta dan orang yang kekurangan, betapa pun kecil penghasilanmu.
23. Hendaklah  engkau  menyimpan  sebagian  dari  penghasilanmu  untuk  persediaan
masa-masa sulit,  betapa pun sedikit,  dan jangan sekali-kali  menyusahkan dirimu
untuk mengejar kesempurnaan.
24. Hendaklah  engkau  bekerja  -semampu  yang  engkau  bisa  lakukan-  untuk
menghidupkan  tradisi  Islam dan  mematikan  tradisi  asing  dalam setiap  aspek
kehidupanmu.  Misalnya  ucapan salam,  bahasa,  sejarah,  pakaian,  perabot  rumab
tangga,  cara.  kerja dan istirahat,  cara makan dan minum,  cara datang dan pergi,
serta gaya. melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga. sunah
dalam setiap aktivitas tersebut.
25. Hendaklah engkau memboikot peradilan-peradilan setempat atau seluruh peradilan
yang tidak islami.  Demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan,
organisasi-organisasi,  sekolah-sekolah,  dan  segenap  institusi  yang  tidak
mendukung fikrahmu secara total.
26. Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi  oleh Allah, mengingat  akhirat,  dan
bersiap-siap  untuk  menjemputnya,  mengambil  jalan  pintas  untuk  menuju  ridha
Allah dengan tekad yang kuat, mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunah,
seperti: shalat malam, puasa tiga hari -minimal- setiap bulan, memperbanyak dzikir
(hati  dan  lisan),  dan  berusaha  mengamalkan  doa  yang  diajarkan  pada  setiap
kesempatan.
27. Hendaklah  engkau  bersuci  dengan  baik  dan  usahakan  untuk  senantiasa  dalam
keadaan berwudhu di sebagian besar waktumu.
28. Hendaklah  engkau  shalat  dengan  baik  dan  senantiasa  tepat  waktu  dalam
menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid jika itu mungkin
dilakukan.
29. Hendaklah  engkau  berpuasa  Ramadhan  dan  berhaji  dengan  baik,  jika  engkau
mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika engkau telah mampu.
30. Hendaklah engkau senantiasa menyertai  dirimu dengan niat  jihad dan cinta mati
syahid, Bersiaplah untuk itu, kapan saja kesempatannya tiba.
31. Hendaklah engkau senantiasa memperbarui  taubat  dan istighfarmu,  dan berhatihatilah
terhadap dosa yang kecil, apalagi dosa yang besar. Sediakan -untuk dirimu-beberapa
saat  sebelum tidur  untuk introspeksi  diri  terhadap apa-apa vang telah engkau lakukan, yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. janganlah engkau pergunakan ia -sedikit pun- tanpa guna, dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.
32. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kapasitasmu dengan sungguh-sungguh
agar  engkau  dapat  menerima  tongkat  kepemimpinan.  Hendaklah  engkau
menundukkan  pandanganmu,  menekan  emosimu,  dan  memotong  habis  selera selera rendah dari
jiwamu, bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, dan hijabilah ia dari yang haram,
dalam keadaan bagaimanapun.
33. Hendaklah  engkau  jauhi  khamer  dan  seluruh  makanan  atau  minuman  yang
memabukkan sejauh-jauhnya.
34. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat  dan persahabatan
dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.
35. Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng; jangan sekali-kali mendekatinya,
dan hendaklah engkau jauhi gaya hidup mewah dan bersantal-santai.
36. Hendaklah  engkau  mengetahui  anggota  katibah-mu  satu  persatu  dengan
pengetahuan  yang  lengkap,  juga  kenalkan  dirimu  kepada  mereka  dengan
selengkapnya.  Tunaikan hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya;  hak kasih
sayang, penghargaan. pertolongan, dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di
majelis mereka dan tidak absen, kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlah
sikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.
37. Hendaklah  engkau  hindari  hubungan  dengan  organisasi  atau  jamaah  apapun
sekiranya  hubungan itu  tidak  membawa  maslahat  bagi  fikrahmu,  terutama  jika
diperintahkan untuk itu.
38. Hendaklah engkau menyebarkan dakwahmu di mana pun dan memberi informasi
kepada pemimpin tentang segala kondisi  yang melingkupimu.  janganlah engkau
berbuat  sesuatu yang berdampak strategis,  kecuali  dengan seizinnya.  Hendaklah
senantiasa  engkau  menempatkan dirimu  sebagai  'tentara  yang berada  di  tangsi,
yang tengah menanti instruksi komandan.
Wahai Ikhwan yang tulus ... !
Inilah bingkai  global  dakwahmu dan penjelasan ringkas fikrahmu. Engkau dapat menghimpun  prinsip-prinsip  ini  dalam lima  slogan:  Allah  ghayatuna (Allah  adalah tujuan kami),  Ar-Rasul qudwatuna (Rasul adalah teladan kami),  Al-Qur'an Dusturuna (Al Qur'an adalah undang-undang kami), Al-Jihad sabiluna (jihad adalah jalan kami), dan Asy-Syahid asma amanina (Mati syahid adalah cita-cita kami).
Engkau  pun  juga  bisa  menghimpunnya  dalam  berbagai  kata  berikut: kesederhanaan, tilawah, shalat, keprajuritan, dan akhlak. Cengkeramlah secara sungguh-sungguh bimbingan ini.  Jika tidak demikian maka
engkau  akan  jatuh  dalam barisan  qa'idin (yang  duduk-duduk  santai)  yang  akan mengantarkanmu menjadi pemalas dan tukang iseng. Saya yakin, jika engkau mengetahuinya dengan baik dan'  engkau menjadikannya cita-cita dan orientasi hidupmu, maka balasanmu adalah kehormatan hidup di dunia dan
kebajikan serta  ridha di  akhirat.  Engkau adalah bagian dari  kami  dan kami  bagian darimu. Jika engkau berpaling darinya lalu duduk-duduk santai  saja,  maka tiada lagi hubungan antara kita. Jika engkau seseorang yang biasa berada di depan dalam majelis kita, di pundakmu tertempel gelar-gelar mentereng, dan kau tampak begitu menonjol di antara kita, maka dudukmu akan dihisab oleh Allah dengan seberat-berat hisab. Maka pilihlah kedudukan untuk dirimu yang pas,  niscaya kami  memohonkan kepada Allah
-untuk kami dan untukmu- hidayah dan taufik-Nya. "Hai  orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jilka kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosadosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir  di bawahnya sungaisungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat  tinggal  yang baik di  dalam surga 'Adn Itulah keberuntungan yang besar.  Dan (ada lagi)  karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu)  pertolongan  dari  Allah  dan  kemenangan  yang  dekat  (waktunya).  Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman,  jadilah  kamu  penolong-penolong  (agama)  Allah  sebagaimana  Isa  putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia,  'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongmu (untuk menegakkan agama) Allah?'Lalu segolongan dari kaum  Bani  Israil  beriman  dan  segolongan  (yang  lain)  kafir,  maka  Kami  berikan
kekuatan  kepada  orang-orang  yang  beriman  terhadap  musuh-musuh  mereka,  lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (Ash-Shaff: 10-14)



di kutip dari buku kumpulan Risalah Dakwah
karya Hasan al Banna


Kedudukan Wanita dan Pria Menurut Islam


"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)

         
Wanita adalah madrasah (sekolah) pertama yang akan membentuk dan mencetak generasi. Gambaran  yang diterima oleh seorang anak dari ibunya, maka itulah yang menentukan nasib bangsa dari orientasi atau sudut pandang umat. Dan lebih dari itu semua, wanita adalah orang pertama yang memberikan kontribusi dalam kehidupan pemuda dan bangsa. Islam yang hanif ini juga tak mengabaikannya. Karena ia yang datang sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh manusia, telah mengatur semua aspek kehidupan dengan serangkaian aturan yang paling proporsional dan berpijak di atas landasan dan tata perundang-undangan yang utama. Memang Islam tidak mengabaikan itu semuanya dan tidak meninggalkan manusia kebingungan dalam setiap aspek kehidupan. Islam menjelaskan kepada mereka semuanya dengan penjelasan yang tidak membutuhkan tambahan.
         Pada hakekatnya tidak begitu penting bagi kita untuk mengetahui pendapat Islam tentang wanita (juga pria), hubungan antara mereka, dan kewajiban satu dengan yang lainnya. Karena semua itu adalah masalah yang sudah cukup dikenal oleh setiap orang. Tetapi yang penting adalah kita bertanya kepada diri kita, apakah kita sudah siap untuk menjalankan hukum Islam?
          Realitasnya, negera ini dan juga negera-negera Islam lainnnya diselimuti gelombang besar serta deras cinta taklid kepada Barat dan tenggelam padanya hingga mencapai dua telinga. Sebagian orang bahkan tidak hanya tenggelam dalam gelombang taklid itu, lebih dari itu mereka berusaha menipu diri sendiri dengan mengatur hukum-hukum islam sesuai keinginan Barat dan aturan-aturan Eropa. Mereka menyalahgunakan toleransi agama ini dan keluwesan hukum-hukumnya, hingga benar-benar mengeluarkannya dari gambaran keislaman, menjadikannya tata aturan yang sama sekali tidak punya keterkaitan dengan Islam. Mereka benar-benar mengabaikan ruh perundang-undangan Islam dan membuang nash-nash yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.
          Sesungguhnya inilah bahaya yang kompleks. Karena mereka tidak hanya melanggar tetapi berupaya mencari-cari pembenaran secara konstitusional atas pelanggaran tersebut. Kemudian mempolanya dengan warna yang halal dan legal agar tidak perlu bertobat dan tidak perlu meninggalkannya di kemudian hari.
Maka yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita memandang hukum-hukum Islam dengan pandangan yang bebas dari hawa nafsu serta menyiapkan diri kita untuk mau menerima perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Terutama tentang urusan yang sedang dibahas, karena ia dianggap sebagai landasan kebangkitan kita saat ini. Atas dasar ini, maka tidaklah mengapa mengingatkan manusia tentang hukum-hukum Islam yang telah mereka ketahui, dan yang wajib mereka ketahui dalam aspek ini.

Pertama : Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya partner laki- laki dalam hak dan kewajiban. 
            Ini adalah persoalan yang hampir tidak diperdebatkan. Islam telah meninggikan derajat wanita dan mengangkat harkatnya serta menganggapnya sebagai saudara laki-laki serta partner hidupnya. Maka wanita adalah bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari wanita, "(karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain." (Ali Imran : 195)
              Islam mengakui hak-hak pribadi wanita secara sempurna, hak-hak sipilnya secara sempurna. Islam memperlakukan wanita sebagai manusia sempurna yang memiliki hak dan mempunyai kewajiban. Ia mendapatkan apresiasi jika menunaikan kewajiban-kewajibannya dan hak-haknya wajib sampai kepadanya. Nash-nash yang menjelaskan hal tersebut sangat melimpah dalam Al-Qur'an dan Hadits.
Kedua : Perbedaan laki-laki dan wanita dalam hak, karena mengikuti perbedaan-perbedaan tabiat yang bisa dihindari, perbedaan tugas yang harus dilakukan masing-masing dan karena menjaga hak yang diberikan kepada masing-masing.
Mungkin dikatakan “Islam membedakan antara laki-laki dan wanita dalam banyak situasi dan kondisi serta tidak menyamakan keduanya secara sempurna. Pernyataan itu benar namun dari sisi yang lain harus diperhatikan bahwa ketika Islam mengurangi satu aspek dari hak wanita maka Islam pasti menggantinya dengan yang lebih baik di sisi yang lain (Dalam hal warisan, Islam menjadikan bagian wanita adalah setengan dari bagian laki-laki, namun di sisi lain Islam membebani laki-laki untuk mencari nafkah) atau bahkan, pengurangan ini memberi manfaat dan kebaikan pada wanita itu sendiri, sebelum yang lainnya.
Apakah ada orang, siapapun dia yang mampu mengklaim bahwa struktur tubuh dan mental wanita sama persis dengan laki-laki? Apakah ada orang, siapapun dia yang berani mengklaim bahwa peran yang harus dijalankan wanita dalam hidup sama persis dengan peran yang dijalankan laki-laki, jika kita masih mengakui adanya keibuan dan kebapakan?
                     Saya yakin bahwa proses pembentukan keduannya berbeda dan bahwa tugas keduannya dalam hidup ini juga berbeda. Perbedaan ini pasti memiliki konsekuensi pada perbedaan aturan hidup yang terkait dengan masing-masing. Inilah rahasia syariat Islam dari yang menghadirkan pembedaan-pembedaan antara dalam hak-hak dan kewajiban-kewajiban laki-laki dan wanita.
Ketiga : wanita dan laki-laki memiliki ketertarikan kuat secara fitrah. Inilah landasan pertama adanya hubungan antara keduanya. Tujuanyang diharapkan dari ketertarikan tersebut tidak sekedar untuk bersenang-senang dan segala ikutannya, namun juga untuk membangun kerja sama menjaga entitas (keberlangsungan hidup) manusia dan memikul beban-beban kehidupan.
                Islam telah mengisyaratkan adanya kecenderungan jiwa ini, lalu menyucikannya, dan memindahkannnya secara indah dari nilai-nilai kebinatangan menuju nilai-nilai spiritual, mengagungkan tujuannya, menjelaskan maksud yang ada di dalamnya, dan mengangkatnya dari sekedar bentuk kesenangan menuju sebuah kerja sama yang sempurna. Marilah kita dengarkan firman Allah swt., "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (Ar-Rum: 21)
Dengan bimbingan prinsip-prinsip yang permanen inilah kita memandang aturan-aturan dan manhaj yang ditetapkan oleh Islam.
Pada pembahasan sebelumnya tiga prinsip yang ditetapkan Islam mengenai wanita:
1. Islam mengangkat kedudukan wanita, menjadikannya bagian dari laki-laki menganggapnya sebagai partner laki- laki dalam hak dan kewajiban kemanusiaan secara umum.
2. Ketika Islam membedakan antara keduanya dalam hal di atas, maka itu ditempatkan pada hukum pengkhususan yang masing-masing memang memiliki kekhasan dari lainnnya dalam struktur tubuh dan tugas.
3. Islam mengatur naluri seksual laki-laki dan wanita secara bijak. Ia mengarahkannya pada hal yang bermanfaat dan menetapkan batas-batas agar tidak jatuh pada hal yang berbahaya.
Inilah prinsip-prinsip yang di jaga oleh islam dan ditetapkan menjadi pandangannya terhadap wanita. Di atas landasan ini, hadirlah syariat Islam yang bijaksana untuk menjamin ada kerja sama yang sempurna antara dua jenis kelamin, sehingga satu dapat mengambil manfaat dari lainnya dan membantunya dalam urusan kehidupan.
Pembahasan mengenai wanita dalam masyarakat menurut Islam dapat disimpulkan dalam point-point berikut:

Pertama: Kewajiban Mendidik Wanita
Islam memandang wajib membina akhlak wanita serta mendidiknya pada berbagai keutamaan dan kesempurnaan jiwa sejak dini. Islam juga menganjurkan para ayah dan orang-orang yang memegang urusan para pemudi untuk melakukan hal tersebut, menjanjikan pahala besar dari Allah swt. Atas tindakan tersebut, dan memberikan ancaman jika lalai, sebagaimana disebutkan pada ayat yang mulia,
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)

        Dalam hadits shahih Rasulullah saw. bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Seorang Imam adalah pemimpim dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, seorang pelayan adalah pemimpin pada harta tuannya dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, dan setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya" (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar)
           Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah seorang muslim yang mempunyai dua anak wanita, kemudian ia berbuat baik pada keduannya selama keduanya bersamanya atau ia bersama keduanya kecuali keduanya menjadi penyebabnya masuk ke dalam surga." (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dan diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya).

           Dari Abu Said Al Khudri ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai tiga anak wanita, atau tiga saudara wanita atau dua anak wanita, atau dua saudara wanita, kemudian menemani mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengurus mereka maka baginya surga." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, hanya saja pada riwayat Abu Dawud Rasulullah saw bersabda, "Kemudian ia mendidik, berbuat baik, dan menikahkan mereka, maka baginya surga.")
            Termasuk pendidikan yang baik adalah mengajari mereka hal-hal yang menjadi penopang tugas-tugas mereka. Seperti, membaca, menulis, berhitung, ilmu agama, sejarah para salafus shalih, baik laki-laki maupun wanita, mejemen rumah tangga, masalah-masalah kesehatan, prinsip-prinsip pendidikan, dan pengelolaan anak serta segala hal yang dibutuhkan oleh seorang ibu dalam mengatur rumah dan mendidik anak-anaknya.
             Dalam hadits Bukhari disebutkan, Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama." kebanyakan wanita salaf dahulu memiliki bagian besar dari ilmu, keutamaan, dan pemahaman tentang agama Allah.
Adapun ilmu-ilmu di bidang lain yang tidak dibutuhkan oleh wanita, maka hanya kesia-siaan yang tidak ada manfaatnya. Wanita tidak memerlukakannya, dan alangkah baiknya ia menggunakan waktunya untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat.
Wanita tidak perlu memperdalam berbagai bahasa, wanita tidak membutuhkan kajian-kajian keprofesian khusus, karena sebentar lagi ia akan mengetahui bahwa wanita itu tugasnya untuk menata rumah. Wanita tidak perlu memperdalam kajian hukum dan perundang-undangan, cukuplah baginya mempelajari hukum-hukum yang dibutuhkan masyarakat secara umum.
Abul A'la Al Ma'arry berwasiat mengenai kaum wanita dengan ungkapan,
"Ajarilah mereka memintal dan menjahit
Biarkanlah mereka belajar menulis dan membaca
Sholatnya wanita dengan Al-Hamdu (Al-Fatihah) dan Al-Ikhlas
Menyamai membaca surat Yunus dan At-Taubah (Bara'ah)"
Kita tidak berhenti hanya sampai di sini dan kita juga tidak ingin seperti yang diinginkan mereka yang berleh-lebihan dan  melampaui batas dalam membebani wanita dengan berbagai kajian yang tidak dibutuhkannya. Akan tetapi, kami mengatakan, "Ajarilah wanita tentang hal-hal yang ia butuhkan, terkait tugasnya yang Allah swt. Menciptakan dia untuk melaksanakannya, yaitu mengelola rumah tangga dan merawat anak."

Kedua: Memisahkan Antara Wanita dan Laki-laki
Islam memandang pembauran (ikhtilat)  antara wanita dan laki-laki itu sebagai bahaya nyata, Islam menjauhkan antara keduannya kecuali melalui pernikahan. Oleh karena itu, komunitas Islam adalah komunitas tunggal (dari aspek jenis kelamin) bukan komunitas ganda.
Para penyeru pembauran (ikhtilat) mengatakan, “Sesungguhnya pemisahan akan menghalangi kedua pihak dari lezatnya pertemuan dan manisnya kebersamaan yang dirasakan oleh masing-masing saat berada didekat lainnnya. Kelezatan itu juga melahirkan perasaan yang diikuti oleh banyak tata krama sosial seperti kelembutan, baiknya pergaulan, kelembutan berbicara, tabiat yang supel dan seterusnya.
Mereka akan mengatakan, sesungguhnya pemisahan antara dua jenis akan menjadikan masing-masing merindukan pada yang lain untuk selamanya. Sedangkan hubungan antara keduannya dapat meminimalisi kerinduan dan menjadikannya sebagai hal yang biasa. “Manusia mencintai sesuatu yang dilarang dan apa yang telah di tangan kurang diminati jiwa”.
Seperti itulah mereka berbicara dan banyak pemuda yang terfitnah dengan ucapan mereka. Apalagi pemikiran tersebut sejalan dengan hawa nafsu selaras dengan syahwat.
Kami katakan kepada mereka, eski kami tidak sepakat dengan apa yang kalian sebutkan tentang masalah pertama, namun kami akan katakan kepada kalian, “Sesungguhnya lezatnya pertemuan dan manisnya kebersamaan diikuti oleh hilangmya kehormatan, busuknya batin,  rusaknya jiwa dan perilaku, kehancuran rumah tangga, nestapa keluarga, rawannya kriminalitas, degradasi moral, dan segala konsekuensi ikhtilat (pembauran laki-laki dan perempuan) berupa akhlak yang lembek dan lemahnya sifat kesatria yang tidak hanya sampai batas tipis tapi sudah melampaui batas hingga pada sifat banci. Ini semua sudah terlihat jelas dan tidak ada yang membantah kecuali oleh orang yang menyombongkan diri.
Dampak-dampak negatif ikhtilat ini seribu kali lipat lebih banyak daripada manfaatnya. Padahal apabila ada benturan antara maslahat dan mafsadat maka mencegah hadirnya mafsadah diutamakan. Apalagi kalau maslahatnya tidak seberapa dibandingkan dengan mafsadatnya.
Sedangkan pernyataan kedua maka itu tidak benar. Justru ikhtilat itu akan menambah kecenderungan. Dulu ada yang mengatakan, "Adanya makanan itu akan menambah syahwatnya orang yang rakus (untuk makan)." Seorang suami hidup bersama istrinya bertahun-tahun, sudah pasti kecenderungan (untuk menggaulinya) akan bertambah dalam jiwanya. Maka bagaimana mungkin hubungan (selalu dekat) dengan sang istri tidak menjadi sebab kecenderungan kepadanya. Sementara itu seorang wanita yang ikhtilat akan terdorong untuk memamerkan lekuk-lekuk perhiasannya. Ia tidak rela kecuali laki-laki itu kagum kepadanya.
Di samping samping itu, terdapat dampak negatif yang mengikuti ikhtilat di bidang ekonomi. Yaitu berlebihan dalam dalam perhiasan dan berdandan(tabarruj) yang dapat mengantar pada kebangkrutan, kehancuran, dan kefakiran.
Oleh karena itulah kami menegaskan Komunitas Islami adalah komunitas tunggal bukan komunitas ganda. Para lelaki punya masyarakat sendiri sebagaimana wanita punya masyarakat sendiri. Islam membolehkan bagi wanita untuk mengikuti shalat 'ied (Hari Raya), shalat jamaah, dan keluar untuk berperang dalam situasi yang sangat darurat. Namun Islam hanya sampai batas ketentuan ini (tidak merambah pada yang lain) dengan menentukan berbagai macam persyaratan seperti: menjauhi tabaruj (berhias berlebihan), menutup aurat, menutup pakaian ke seluruh tubuh tanpa menggambarkan bentuk tubuh dan tidak transparan, serta tidak berkhalwat menyendiri bersama laki-laki asing (bukan mahram dan bukan suami) apapun kondisinya dan begitu seterusnya.
Salah satu dosa terbesar dalam Islam adalah jika ada seorang laki-laki menyendiri dengan wanita yang bukan mahramnya. Islam telah menempuh jalan yang tegas dan bijak pada urusan pembauran laki-laki dan wanita.
Menutup aurat dalam berpakaian termasuk adab Islam. Haramnya menyendiri dengan yang bukan mahram adalah salah satu hukum dari sekian hukum-hukumnya. Menundukkan pandangan adalah bagian dari kewajiban-kewajibannya. Menetap dirumah bagi seorang wanita sampai ketika shlat adalah merupakan syiar dari sekian banyak syiar-syiarnya. Menjauhi rangsangan baik suara, maupun gerak dengan segala macam fenomena berhias, khususnya ketika keluar rumah-adalah salah satu dari sekian banyak garis
ketetapannya.
Semua itu disyariatkan agar kaum lelaki selamat dari fitnah wanita, karena fitnah ini adalah fitnah yang paling mudah hinggap dalam dirinya. Juga agar kaum wanita selamat dari fitnah laki-laki, karena fitnah itu adalah fitnah yang paling mudah mendekati hatinya. Ayat-ayat mulia dan hadits-hadits yang disucikan telah menuturkan hal tersebut:
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, 'Hendaklah merasa menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau puteraputera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orangorang yang beriman, supaya kamu beruntung." (An-Nuur: 30-31)
"Hai Nabi katakan pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.'Yang dengan demikian itu supaya mereka mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al-Ahzab: 59)
Dari Abdullah bin Masud ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, (meriwayatkan dari Rabbnya Allah azza wa jalla), “Pandangan itu anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Barangsiapa yang menghindarinya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantinya dengan keimanan yang akan dirasakan lezat di dalam hatinya.” (HR. At-Thabrani dan Al- Hakim)
Dari Abu Umamah ra. Berkata, bahwa Rasulullah saw. Bersabda,  “Hendaklah kalian menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan kalian, atau (kalau tidak) Allah akan membutakan wajah-wajah kalian.” (HR. Thabrani)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. Berkata Rasulullah saw. Bersabda, “Tidaklah pagi itu akan menjelang kecuali ada dua malaikat yang berseru, sungguh celaka kaum lelaki dan kaum wanita, sungguh celaka kaum wanita karena kaum lelaki.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Dari Uqbah bin Amir ra. Rasulullah saw. Bersabda, “Jauhilah kalian untuk memasuki rumah wanita,” berkatalah orang dari Anshar,“Tahukah kamu tentang Al Hamwu?(saudara suami atau semisalnya termasuk anak paman dan yang sederajat)” Al Hamwu itu kematian (menyendiri dengannya menyebabkan bencana).” (HR.Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “wanita tidak berpergian selama dua hari kecuali bersama mahramnya atau suaminya.”
Aisyah ra. meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar ra. menemui Rasulullah saw. dengan mengenakan pakaian yang tipis, maka beliau berpaling darinya dan berkata, “wahai Asma’, sesungguhnya wanita yang sudah haid (akil baligh), tidak boleh terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini, “beliau memberi isyarat ke wajah dan kedua telapak tangannya”.
                Berikutnya, islam mempunyai aturan-aturan mulia mengenai hak suami atas istrinya, hak istri atas suaminya, hak kedua orang tua atas anak-anak mereka, dan hak anak-anak atas orang tua mereka. Islam memiliki aturan yang mengharuskan pengendalian keluarga dengan kecintaan dan saling mendukung untuk melakukan kebaikan. Juga mempersembahkan aturan yang memberikan pelayanan nyata bagi umat, andai manusia mau menjadikannya sebagai pegangan maka mereka akan bahagia dalam dua kehidupan dan akan sukses dalam dua ibadah.

di kutip dari buku kumpulan Risalah Dakwah
karya Hasan al Banna





Kebun Emas 250 x 250