Tampilkan postingan dengan label Sirah Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Sahabat. Tampilkan semua postingan

Said Bin ‘Amir, Pemilik Kebesaran Di Balik Kesederhanaan

Siapa yang kenal nama ini, dan siapa pula di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini…? Berat dugaan bahwa banyak di antara kita — kalau tidak semua —yang belum pernah mendengarnya sama sekali. Dan saya yakin bahwa Anda sekalian sekarang sama menunggu dan bertanya-tanya, siapakah kiranya Sa’id bin ‘Amir ini…?

Tentu! Saat ini akan Anda ketahui juga siapa dia tokoh tersebut….! Ia adalah salah seorang shahabat Rasulullah yang utama, walaupun namanya tidak seharum nama mereka yang telah terkenal. Ia adalah salah seorang yang taqwa dan tak hendak menonjolkan diri!

Mungkin ada baiknya kita kemukakan di sini bahwa ia tak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Tetapi itu telah menjadi pola dasar kehidupan semua orang Islam. Tidak selayaknya bagi orang yang beriman akan tinggal berpangku tangan dan tidak hendak turut mengambil bagian dalam apa juga yang dilakukan Nabi, baik di arena damai maupun dalam kancah peperangan.

Sa’id menganut Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan semenjak itu ia memeluk Islam dan bai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Seluruh kehidupannya, segala wujud dan citacitanya.dibaktikan kepada keduanya. Maka ketaatan dan kepatuhan, zuhud dan keshalihan, keluhuran dan ketinggian, pendeknya segala sifat dan tabi’at utama, mendapati manusia suci dan baik ini sebagai saudara kandung dan teman yang setia…!

Dan ketika kita berusaha hendak menemui dan menjajagi kebesarannya, hendaklah kita bersikap hati-hati dan waspada, hingga kita tidak terkecoh menyebabkannya lenyap atau lepas dari tangan…. Karena sewaktu pandangan kita tertumbuk pada Sa’id dalam kumpulan orang banyak, tidak suatu pun keistimewaan yang akan memikat dan mengundang perhatian kita. Mata kita akan melihat salah seorang anggota regu tentara dengan tubuh berdebu dan berambut yang kusut masai, yang baik pakaian maupun bentuk lahirnya tak sedikit pun bedanya dengan golongan miskin lainnya dari Kaum Muslimin…!

Seandainya yang kita jadikan ukuran itu pakaian dan rupa lahir, maka takkan kita jumpai petunjuk yang akan menyatakan siapa sebenarnya ia. Kebesaran tokoh ini lebih mendalam dan berurat akar daripada tersembul di permukaan lahir yang kemilau. la jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya…. Tahukah Anda sekalian akan mutiara yang terpendam di perut lokan Nah, keadaannya boleh ditamsilkan dengan itu….

Ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Dan sistim yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya, merupakan suatu sistim yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang. Sebabnya ialah karena ia menaruh keyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat Yang jauh sekali pun, maka yang akan ditanya oleh Allah swt. ialah dua orang: pertama Umar…, dan kedua baru penguasa Yang melakukan kesalahan itu….

Oleh sebab itu syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan amat berat dan ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna, setajam penglihatan dan setembus pandangannya…. Di Syria ketika itu merupakan wilayah yang modern dan besar, sementara kehidupan di sana sebelum datangnya Islam mengikuti peradaban yang silih berganti, di samping ia merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat yang cocok untuk bersenang-senang…, hingga karena itu dan disebabkan hal itu ia merupakan suatu negeri yang penuh godaan dan rangsangan. Maka menurut pendapat Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan syetan manapun…, seorang zahid yang gemar beribadat, yang tunduk dan patuh serta melindungkan diri kepada Allah….

Tiba-tiba Umar berseru, katanya: “Saya telah menemukannya… ! Bawa ke sini Sa’id bin ‘Amir…!” Tak lama antaranya datanglah Sa’id mendapatkan Amirul Mu’minin yang menawarkan jabatan sebagai wali kota Homs. Tetapi Sa’id menyatakan keberatannya, katanya: “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin…!”

Dengan nada keras Umar menjawab: “Tidak, demi Allah saya tak hendak melepaskan Anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafat di atas pundakku lalu tuan-tuan meninggalkan daku.”

Dalam sekejap saat, Sa’id dapat diyakinkan. Dan memang kata-kata yang diucapkan Umar layak untuk mendapatkan hasil Yang diharapkan itu. Sungguh suatu hal yang tidak adil namanya bila mereka mengalungkan ke lehernya amanat dan jabatan sebagai khalifah, lalu mereka tinggalkan ia sebatang kara….

Dan seandainya seorang seperti Sa’id bin ‘Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat itu…? Demikianlah akhirnya Sa’id berangkat ke Homs. Ikut bersamanya isterinya; dan sebetulnya kedua mereka adalah pengantin baru. Semenjak kecil isterinya adalah seorang wanita Yang amat cantik berseri-seri. Mereka dibekali Umar secukupnya, Ketika kedudukan mereka di Homs telah mantap, sang isteri bermaksud menggunakan haknya sebagai isteri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. Diusulkannya kepada suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya.

Jawab Sa’id kepada isterinya: “Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya dan laris barang jualannya. Maka lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan memperkembangkannya…!”

“Bagaimana jika perdagangannya rugi?” tanya isterinya. “Saya akan sediakan borg atau jaminan”, ujar Sa’id. “Baiklah kalau begitu” kata isterinya pula. Kemudian Sa’id pergi ke luar, lalu membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja, dan sisanya — yang tentu masih banyak itu — dibagi-bagikannya kepada faqir miskin dan orang-orang membutuhkan.

 Hari-hari pun berlalu, dan dari waktu ke waktu. isteri Sa’id menanyakan kepada suaminya soal perdagangan mereka dan bilakah keuntungannya hendak dibagikan. Semua itu dijawab oleh Sa’id bahwa perdagangan mereka berjalan lancar, sedang keuntungan bertambah banyak dan kian meningkat Pada suatu hari isterinya memajukan lagi pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sa’id pun tersenyum lalu tertawa yang menyebabkan timbulnya keraguan dan kecurigaan sang isteri. Didesaknyalah suaminya agar menceritakannya secara terus terang. Maka disampaikannya bahwa harta itu telah disedeqahkannya dari semula.

Wanita itu pun menangis dan menyesali dirinya karena harta itu tak ada manfaatnya sedikit pun, karena tidak jadi dibelikan untuk keperluan hidup dirinya, dan sekarang tak sedikit pun tinggal sisanya…. Sa’id memandangi isterinya, sementara air mata penyesalan dan kesedihan telah menambah kecantikan dan kemolekannya. Dan sebelum pandangan yang penuh godaan itu dapat mempengaruhi dirinya, Sa’id menujukan penglihatan bathinnya ke surga, maka tampaklah di sana kawan-kawannya yang telah pergi mendahuluinya, lalu katanya: “Saya mempunyai kawan-kawan yang telah lebih dulu menemui Allah… dan saya tak ingin menyimpang dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya. Dan karena ia takut akan tergoda oleh kecantikan isterinya itu, maka katanya pula yang seolah-olah dihadapkan kepada dirinya sendiri bersama isterinya: “Bukankah kamu tahu bahwa di dalam surga itu banyak terdapat gadis-gadis cantik yang bermata jeli, hingga Andainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan… Maka mengurbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengurbankan mereka demi karena dirimu…! “ Diakhirinya ucapan itu sebagaimana dimulainya tadi, dalam keadaan tenang dan tenteram, tersenyum simpul dan pasrah… Isterinya diam dan maklum bahwa tak ada yang lebih utama? dan mengendalikan diri untuk mencontoh sifat zuhud dan ke taqwaannya…!

Dewasa itu Homs digambarkan sebagai Kufah kedua. Hal disebabkan sering terjadinya pembangkangan dan pendurhakaan penduduk terhadap para pembesar yang memegang kuasaan. Dan karena kota Kufah dianggap sebagai pelopor dalam soal pembangkangan ini, maka kota Homs diberi julukan bagai Kufah kedua. Tetapi bagaimanapun gemarnya orang-orang Homs ini menentang pemimpin-pemimpin mereka sebagai kita sebutkan itu, namun terhadap hamba yang shalih sebagai Sa’id, hati mereka dibukakan Allah, hingga mereka cinta dan taat kepadanya.

Pada suatu hari Umar menyampaikan berita kepada Said: “Orang-orang Syria mencintaimu…!” “Mungkin sebabnya karena saya suka menolong dan membantu mereka”, ujar Said. Hanya bagaimana juga cintanya warga kota Homs terhadap Said, namun adanya keluhan dan pengaduan tak dapat dielakkan…, sekurang-kurangnya untuk membuktikan bahwa Homs masih tetap menjadi saingan berat bagi kota Kufah di Irak…!

 Suatu ketika, tatkala Amirul Mu’minin Umar berkunjung ke Homs, ditanyakannya kepada penduduk yang sedang berkumpul lengkap: “Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id…?” Sebagian hadirin tampil ke depan mengadukannya. Tetapi rupanya pengaduan itu mengandung barkah, karena dengan demikian terungkaplah dari satu segi kebesaran pribadi tokoh kita ini, kebesaran yang amat menakjubkan serta mengesankan…

Dari kelompok yang mengadukan itu Umar meminta agar mereka mengemukakan titik-titik kelemahannya satu demi satu. Maka atas nama kelompok tersebut majulah pembicara yang mengatakan: “Ada empat hal yang hendak kami kemukakan:

Ia baru keluar mendapatkan kami setelah tinggi hari
Tak hendak melayani seseorang di waktu malam hari….
Setiap bulan ada dua hari di mana ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak dapat menemuinya….
Dan ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya tapi mengganggu kami, yaitu bahwa sewaktu-waktu ia jatuh pingsan….”
Umar tunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, katanya: “Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu terbaik, maka hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset.”

Lalu Said dipersilahkan untuk membela dirinya, ia berkata: “Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum tinggi hari, maka demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya. Keluarga kami tak punya khadam atau pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudlu untuk shalat dluha. Setelah itu barulah saya keluar mendapatkan mereka…! “Wajah Umar berseri-seri, dan katanya: “Alhamdulillah…. dan mengenai yang kedua?” Maka Sa’id pun melanjutkan pembicaraannya: “Adapun tuduhan mereka bahwa saya tak mau melayani mereka di waktu malam…, maka demi Allah saya benci menyebutkan sebabnya…! Saya telah menyediakan Siang hari bagi mereka, dan malam hari bagi Allah Ta’ala…! sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana saya tidak menemui mereka…, maka sebabnya sebagai saya katakan tadi — saya tak punya khadam yang akan mencuci pakaian, sedang pakaianku tidak pula banyak untuk dipergantikan. Jadi terpaksalah saya mencucinya dan menunggu sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang… Kemudian tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu-waktu jatuh pingsan… sebabnya karena ketika di Mekah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib Al Anshari. Dagingnya dipotong-potong oleh orang Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanyakan kepadanya: “Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal ‘afiat…? Jawab Khubaib: Demi Allah, saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana, walau oleh hanya tusukan duri sekalipun… Maka setiap terkenang akan peristiwa yang saya saksikan itu, dan ketika itu saya masih dalam keadaan musyrik, lalu teringat bahwa saya berpangku tangan dan tak hendak mengulurkan pertolongan kepada Khubaib, tubuh saya pun gemetar karena takut akan siksa Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan itu… .”

Sampai di sana berakhirlah kata-kata Sa’id, ia membiarkan kedua bibirnya basah oleh air mata yang suci, mengalir dari jiwanya yang shalih….

Mendengar itu Umar tak dapat lagi menahan diri dan rasa harunya, maka berseru karena amat gembira: “Alhamdulillah, karena dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset adanya…!” Lalu dirangkul dan dipeluknya Sa’id, serta diciumlah keningnya yang mulia dan bersinar cahaya….

Nah, petunjuk macam apakah yang telah diperoleh makhluq seperti ini…? Guru dari kaliber manakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu…? Dan sinar tembus seperti apakah Kitabullah itu…….. Corak sekolah yang telah memberikan bimbingan dan meniupkan inspirasi manakah Agama Islam ini…? Tetapi mungkinkah bumi dapat memikul di atas punggungnya jumlah yang cukup banyak dari tokoh-tokoh berkwalitas demikian? Sekiranya mungkin, tentulah ia tidak disebut bumi atau dunia lagi…. lebih tepat bila dikatakan Surga Firdausi….

Sungguh, ia telah menjadi Firdaus yang telah dijanjikan Allah! Dan karena Firdaus itu belum tiba waktunya, maka orang-orang yang lewat di muka bumi dan tampil di arena kehidupan dari tingkat tinggi dan mulia seperti ini amat sedikit dan jarang adanya… Dan Sa’id bin ‘Amir adalah salah seorang di antara mereka….

Uang tunjangan dan gaji yang diperolehnya banyak sekali, sesuai dengan kerja dan jabatannya, tetapi yang diambilnya hanyalah sekedar keperluan diri dan isterinya, sedang selebihnya dibagi-bagikan kepada rumah-rumah dan keluarga-keluarga lain yang membutuhkannya.

Suatu ketika ada yang menasihatkan kepadanya: Berikanlah kelebihan harta ini untuk melapangkan keluarga dan famili isteri Anda! Maka ujarnya: “Kenapa keluarga dan ipar besanku saja yang harus lebih kuperhatikan..,.? Demi Allah, tidak! Saya tak hendak menjual keridlaan Allah dengan kaum kerabatku!”

Memang telah lama dianjurkan orang kepadanya: “Janganlah ditahan-tahan nafqah untuk diri pribadi dan keluarga Anda, dan ambillah kesempatan untuk meni’mati hidup!”

Tetapi jawaban yang keluar hanyalah kata-kata yang senantiasa diulang-ulangnya: “Saya tak hendak ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah saya dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan he pengadilan. Maka datanglah orang-orang miskin yang beriman, berdesak-desakkan maju he depan tak ubahnya bagai kawanan burung merpati. Lalu ada yang berseru kepada mereka: Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan! Ujar mereka: Kami tak punya apa-apa untuk dihisab. Maka Allah pun berfirman: Benarlah hamba-hamba-Ku itu…! Lalu masuklah mereka he dalam surga sebelum orang-orang lain masuk.

Dan pada tahun 20 Hijriyah dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang Paling cemerlang, Sa’id bin ‘Amir pun menemui Allah….

Telah lama sekali rindunya terpendam untuk menyusul rombongan perintis, yang hidupnya telah dinadzarkannya untuk memelihara janji dan mengikuti langkah mereka…. Sungguh, rindunya telah tiada terkira untuk dapat menjumpai Rasul yang menjadi gurunya, serta teman sejawatnya yang shalih dan suci….!

Maka sekarang la akan menemui mereka dengan hati tenang, jiwa yang tenteram dan beban yang ringan…. Yang tak ada beserta atau di belakangnya beban dunia atau harta benda yang akan memberati punggung atau menekan bahunya….

Tak ada yang dibawanya kecuali zuhud, keshalihan dan ketaqwaannya serta kebenaran jiwa dan budi baiknya…. Semua itu adalah keutamaan yang akan memberatkan daun timbangan, dan sekali-kali takkan memberatkan beban pikulan…!

Keistimewaan tersebut dipergunakan oleh pemiliknya untuk menggoncang dunia, dan dijadikan pegangan yang kokoh sehingga tak tergoyahkan oleh tipu daya dunia…!

 Selamat bahagia bagi Sa’id bin ‘Amir…! Selamat baginya, baik selagi hidup maupun setelah wafatnya…! Selamat, sekah lagi selamat, terhadap riwayat dan kenang-kenangannya. Serta selamat bahagia pula bagi Para shahabat Rasulullah yakni orang-orang mulia dan gemar beramal serta rajin beribadat…!





Sumber :  http://www.hasanalbanna.com/said-bin-amir-pemilik-kebesaran-di-balik-kesederhanaan/

Abdullah Bin Mas'ud Yang Pertama Membaca Al Qur'an dengan Merdu

Sebelum Rasulullah masuk ke rumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dengan demikian ia termasuk golongan yang mula pertama masuk Islam ….

Pertemuannya yang mula-mula dengan Rasulullah itu diceritakannya sebagai berikut,


“Ketika itu saya masih remaja, menggembalakan kambing kepunyaan ‘Uqbah bin Muaith.

Tiba-tiba datang NabiShallallahu “Alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar, dan sertanya, “Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami?”. “Aku orang kepercayaan” ujarku”, “dan tak dapat memberi anda berdua minuman …!”

Maka sabda NabiShallallahu “Alaihi wa Sallam, “Apakah kamu punya kambing betina mandul, yang belum dikawini oleh yang jantan… ?” “Ada”, ujarku. Lalu saya bawa ia kepada mereka. Kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu disapu susunya sambil memohon kepada Allah. Tiba-tiba susu itu berair banyak …. Kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cernbung yang digunakan Nabi untuk menampung perahan susu. Lalu Abu Bakar pun minumlah, dan saya pun tidak ketinggalan…. Setelah itu Nabi menitahkan kepada susu, “Kempislah!”, maka susu itu menjadi kempis ….

Setelah peristiwa itu saya datang menjumpai Nabi, kataku, “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut!”Ujar NabiShallallahu “Alaihi wa Sallam, “Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!”

Alangkah heran dan takjubnya Ibnu Mas’ud ketika menyaksikan seorang hamba Allah yang shalih dan utusan-Nya yang dipercaya memohon kepada Tuhannya sambil menyapu susu hewan yang belum pernah berair selama ini, tiba-tiba mengeluarkan kurnia dan rizqi dari Allah berupa air susu murni yang enak buat diminum…!

Pada sa’at itu belum disadarinya bahwa peristiwa yang disaksikannya itu hanyalah merupakan mu’jizat paling enteng dan tidak begitu berani, dan bahwa tidak berapa lama lagi dari Rasulullah yang mulia ini akan disaksikannya mu’jizat yang akan menggoncangkan dunia dan memenuhinya dengan petunjuk serta cahaya ….

Bahkan pada saat itu juga belum diketahuinya, bahwa dirinya sendiri yang ketika itu masih seorang remaja yang lemah lagi miskin, yang menerima upah sebagai penggembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’aith, akan muncul sebagai salah satu dari mu’jizat ini, yang setelah ditempa oleh Islam menjadi seorang beriman, akan mengalahkan kesombongan orang-orang Quraisy dan menaklukkan kesewenangan para pemukanya ….

Maka ia, yang selama ini tidak berani lewat di hadapan salah seorang pembesar Quraisy kecuali dengan menjingkatkan kaki dan menundukkan kepala, di kemudian hari setelah masuk Islam, ia tampil di depan majlis para bangsawan di sisi Ka’bah, sementara semua pemimpin dan pemuka Quraisy duduk berkumpul, lalu berdiri di hadapan mereka dan mengumandangkan suaranya yang merdu dan membangkitkan minat, berisikan wahyu Illahi al-Quranul Karim,

Bismillahirrahmanirrahim ….

Allah Yang Maha Rahman. – -.

Yang telah mengajarkan al-Quran …. Menciptakan insan ….

Dan menyampaikan padanya penjelasan Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan ….

Sedang bintang dan kayu-kayuan sama sujud kepada Tuhan ….

Lalu dilanjutkannya bacaannya, sementara pemuka-pemuka Quraisy sama terpesona, tidak percaya akan pandangan mata dan pendengaran telinga mereka …. dan tak tergambar dalam fikiran mereka bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka… , tidak lebih dari seorang upahan di antara mereka, dan penggembala kambing dari salah seorang bangsawan Quraisy…. yaitu Abdullah bin Mas’ud, seorang miskin yang hina dina

Marilah kita dengar keterangan dari saksi mata melukiskan peristiwa yang amat menarik dan mena)ubkan itu! Orang itu tiada lain dari Zubair r.a. katanya,

 “Yang mula-mula menderas al-Quran di Mekah setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah Abdullah bin Masud r.a. Pada





suatu hari para shahabat Rasulullah berkumpul, kata mereka, “Demi Allah orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikit pun al-Quran ini dibaca dengan suara keras di hadapan mereka ….

Nah, siapa di antara kita yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka …. ?”

Maka kata Ibnu Masud, “Saya.”

Kata mereka, “Kami khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan ialah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankannya dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat…. “

 “Biarkanlah saya!” kata Ibnu Masud pula, “Allah pasti membela”. Maka datanglah Ibnu Mas’ud kepada kaum Quraisy di waktu dluha, yakni ketika mereka sedang berada di balai pertemuannya ….

Ia berdiri di panggung lalu membaca

Bismillahirrahmanirrahim, dan dengan mengeraskan suaranya, Arrahman ‘allamal Quran ….

Lalu sambil menghadap kepada mereka diteruskanlah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil sertanya sesamanya, “Apa yang dibaca oleh anak si Ummu ‘Abdin itu… ? Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad!”

Mereka bangkit mendatangi dan memukulinya, sedang Ibnu Mas’ud meneruskan bacaannya sampai batas yang dikehendaki Allah…. Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak-belur ia kembali kepada para shahabat. Kata mereka, “Inilah yang kami khawatirkan terhadap dirimu ….

Ujar Ibnu Ma’sud, “Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat hal yang sama esok hari ….!”

Ujar mereka, “Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!”

Benar, pada saat Ibnu Mas’ud tercengang melihat susu kambing tiba-tiba berair sebelum waktunya, belum menyadari bahwa ia bersama kawan-kawan senasib dari golongan miskin tidak berpunya, akan menjadi salah satu mu’jizat besar dari Rasulullah, yakni ketika mereka bangkit memanggul panji-panji Allah dan menguasai dengannya cahaya Siang dan sinar matahari. Tidak diketahuinya bahwa saat itu telah dekat… Kiranya secepat itu hari datang dan lonceng waktu telah berdentang, anak remaja buruh miskin dan terlunta-lunta serta-merta menjadi suatu mu’jizat di antara berbagai mu’jizat Rasulullah ….!

Dalam kesibukan dan berpacuan hidup, tiadalah ia akan menjadi tumpuan mata…. Bahkan di daerah yang jauh dari kesibukan pun juga tidak….! Tak ada tempat baginya di kalangan hartawan, begitu pun di dalam lingkungan ksatria yang gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.

Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan kurus, apalagi dalam soal pengaruh, maka derajatnya jauh di bawah…. Tapi sebagai ganti dari kemiskinannya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari perbendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, dianugerahi-Nya kemauan baja yang dapat menundukkan para adikara dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia terlunta-lunta, Islam telah melimpahinya ilmu pengetahuan, kemuliaan serta ketetapan, yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan ….

Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan jauh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau mengatakan kepadanya, “Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar”. Ia telah diberi pelajaran oleh Tuhannya hingga menjadi faqih atau ahli hukum ummat MuhammadShallallahu “Alaihi wa Sallam, dan tulang punggung para huffadh al-Quranul Karim.

Mengenai dirinya ia pernah mengatakan,

“Saya telah menampung 70 surat al-Quran yang kudengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini ……

Dan rupanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan al-Quran secara terang-terangan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok kota Mekah di saat siksaan dan penindasan merajalela, maka dianugerahi-Nya bakat istimewa dalam membawakan bacaan al-Quran dan kemampuan luar biasa dalam memahami arti dan maksudnya.

Rasulullah telah memberi washiat kepada para shahabat agar mengambil Ibnu Mas’ud sebagai teladan, sabdanya,

“Berpegang-teguhlah kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi ‘Abdin.!”

Diwashiatkannya pula agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca al-Quran daripadanya. Sabda NabiShallallahu “Alaihi wa Sallam,

“Barang siapa yang ingin hendak mendengar al-Quran tepat seperti diturunkan, hendaklah ia mendengarkannya dari Ibnu Ummi ‘Abdin …!

Barang siapa yang ingin hendak membaca al-Quran tepat seperti diturunkan, hendaklah ia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi ‘Abdin …!”

Sungguh, telah lama Rasulullah menyenangi bacaan al-Quran dari mulut Ibnu Mas’ud Pada suatu hari ia memanggilnya sabdanya,

“Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!”

“Haruskah aku membacakannya pada anda, wahai Rasulullah…

Jawab Rasulullah, “Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain”

Maka Ibnu Mas’ud pun membacanya dimulai dari surat an-Nisa, hingga sampai pada firman Allah Ta’ala,

Maka betapa jadinya bila Kami jadikan dari setiap ummat itu seorang saksi, sedangkan kamu Kami jadikan sebagai saksi bagi mereka ….!

Ketika orang-orang kafir yang mendurhakai Rasul sama berharap kiranya mereka disamaratakan dengan bumi….! dan mereka tidak dapat merahasiakan pembicaraan dengan Allah ….!” (Q S 4 an-Nisa, 41 — 42)

Maka Rasulullah tak dapat manahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya diisyaratkan kepada Ibnu Mas’ud yang maksudnya, “Cukup …. cukuplah sudah, hai Ibnu Mas’ud…!”

Suatu ketika pernah pula Ibnu Mas’ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya,

“Tidak suatu pun dari al-Quran itu yang diturunkan, kecuali aku mengetahui mengenai peristiwa apa diturunkannya. Dan tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat dicapai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu!”

Keistimewaan Ibnu Mas’ud ini telah diakui oleh para shahabat. Amirul Mu’minin Umar berkata mengenai dirinya,

“Sungguh ilmunya tentang fiqih berlimpah-limpah.”

Dan berkata Abu Musa al-Asy’ari,

“Jangan tanyakan kepada kami sesuatu masalah, selama kiyai ini berada di antara tuan-tuan!”

Dan bukan hanya keunggulannya dalam al-Quran dan ilmu fiqih saja yang patut dapat pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketaqwaan. Berkata Hudzaifah tentang dirinya,

“Tidak seorang pun saya lihat yang lebih mirip kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, daripada Ibnu Mas’ud ….

Dan orang-orang yang dikenal dari shahabat-shahabat Rasulullah sama mengetahui bahwa putera dari Ummi ‘Abdin adalah yang paling dekat kepada Allah ….!”

Pada suatu hari serombongan shahabat berkumpul pada Ali karamallahu wajhah (semoga Allah memuliakan wajah atau dirinya), lalu kata mereka kepadanya,

 “Wahai Amirul Mu’minin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah-lembut dalam mengajar, begitu pun yang lebih baik pergaulannya, dan lebih shalih daripada Abdullah bin Mas’ud ….!”

Ujar Ali, “Saya minta tuan-tuan bersaksi kepada Allah, apakah ini betul-betul tulus dari hati tuan-tuan ….. 2

“Benar”, ujar mereka.

Kata Ali pula, “Ya Allah, saya mohon Engkau menjadi saksinya, bahwa saya berpendapat mengenai dirinya sepertiapa yang mereka katakan itu, atau lebih baik dari itu lagi….

Sungguh, telah dibacanya al-Quran, maka dihalalkannya barang yang halal dan dihararnkannya barang yang Haram… , seorang yang ahli dalam soal keagamaan dan luas ilmunya tentang as-Sunnah ….!”

Suatu ketika para shahabat memperkatakan pribadi Abdullah bin Mas’ud, kata mereka,

“Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita

bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)…”.

Maksud mereka ialah bahwa Abdullah r.a. beruntung mendapat kesempatan berdekatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, suatu hal Yang jarang didapat oleh orang lain. la lebih sering masuk ke rumah Rasulullah dan menjadi teman duduknya.

Dan lebih-lebih lagi ia adalah tempat Rasulullah menumpahkan keluhan dan mempercayakan rahasianya, hingga ia diberi gelar “Peti Rahasia”.

Berkata Abu Musa al-Asy’ari,

“Sungguh, setiap saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pastilah Ibnu Mas’ud berada menyertainya …”.

Adapun yang menjadi sebab ialah karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam amat menyayanginya, terutama keshalihan dan kecerdasannya Serta kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah pernah bersabda mengenai dirinya,

 “Seandainya saya hendak mengangkat seseorung sebagai amir tanpa musyawarat dengan Kaum Muslimin, tentulah yang saya angkat itu Ibnu Umi ‘Abdin… “.

Dan telah kita kemukakan washiat Rasulullah kepada para shahabatnya,

“Berpegang teguhlah kepada ilmu Ibnu Ummi ‘Abdin!”

Maka kesayangan dan kepercayaan ini memungkinkannya untuk bergaul rapat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hingga ia beroleh hak yang tidak diberikannya kepada orang lain, bersabda RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya,

“Saya izinkan kamu bebas dari tabir hijab…”

“Ini merupakan lampu hijau bagi Ibnu Mas’ud untuk masuk rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pintunya senantiasa terbuka baginya, biar Siang maupun malam. Dan inilah yang pernah diperkatakan oleh para shahabat,

“sementara kita terhalang, ia diberi idzin, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan – -.”.

Dan memang Ibnu Mas’ud layak untuk memperoleh keistimewaan ini…. Karena walaupun pergaulan rapat seperti ini akan memberikan padanya keuntungan, tetapi Ibnu Mas’ud hanya bertambah khusyu’, tambah hormat dan sopan santun ….

Mungkin gambaran yang melukiskan akhlaqnya secara tepat, ialah sikapnya ketika menyampaikan Hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah beliau wafat. Walaupun ia jarang menyampaikan Hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi kita lihat setiap ia menggerakkan kedua bibirnya untuk mengatakan, “Saya dengar Rasulullah menyampaikan Hadits dan bersabda….”, maka tubuhnya gemetar dengan amat sangat, dan ia tampak gugup dan gelisah. Sebabnya tiada lain karena takutnya akan alpa, hingga bersalah menaruh kata di tempat yang lain ….!

Marilah kita dengarkan kawan-kawannya melukiskan gejala gejala ini! Berkatalah ‘Amar bin Maimun,

“Saya bolak-balik ke rumah Abdullah bin Mas’ud ada setahun lamanya, dan selama itu tak pernah saya dengar ia menyampaikan Hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali sebuah Hadits yang disampaikannya pada suatu hari. Dari mulutnya mengalir ucapan, Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Tiba-tiba ia kelihatan gelisah hingga tampak keringat bercucuran dari keningnya. Kemudian katanya mengulangi kata-kata tadi, “Kira-kira demikianlah disabdakan oleh Rasulullah…”.

Dan bercerita Alqamah bin Qais,

Biasanya Abdullah bin Mas’ud berpidato setiap hari Kamis sore menyampaikan Hadits. Tidak pernah saya dengar ia mengucapkan, “Telah bersabda Rasulullah”, kecuali satu kali saja…. Di saat itu saya lihat ia bertelekan tongkat, dan tongkatnya itu pun bergetar dan bergerak-gerak

Dan diceritakan pula oleh Masruq mengenai Abdullah ini,

“Pada suatu hari Ibnu Mas’ud menyampaikan sebuah Hadits, katanya, “Saya dengar Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “ Tiba-tiba ia jadi gemetar, dan pakaiannya bergetar pula …. Kemudian

katanya, “Atau kira-kira demikian atau kira-kira seperti itulah…”.

Nah, sampai sejauh inilah ketelitian, penghormatan dan penghargaannya kepada Rasulullah saw ….Disamping menjadi bukti ketaqwaannya, ketelitian dan penghormatannya ini merupakan tanda kecerdasannya ….!

Orang yang lebih banyak bergaul dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, penilaiannya terhadap kemuliaan Rasulullah lebih tepat… Dan itulah sebabnya adab sopan santunnya terhadap Rasulullah ketika beliau hidup, begitu pun kenangan kepada beliau setelah wafatnya, merupakan adab sopan santun satu-satunya dan tak ada duanya. –..!

Ibnu Mas’ud tak hendak berpisah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik di waktu bermukim maupun di waktu bepergian. la telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Dan peranannya dalam perang Badar meninggalkan kenangan yang tak dapat dilupakan, yakni rubuhnya Abu Jahal oleh tebasan pedang Kaum Muslimin pada hari yang keramat itu ….

Khalifah-khalifah dan para shahabat Rasul mengakui kedudukannya ini, hingga ia diangkat oleh Amirul Mu’minin Umar sebagai Bendaharawan di kota Kufah. Kepada penduduk waktu mengirimnya itu dikatakan,

 “Demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, sungguh saya lebih mementingkan tuan-tuan daripada diriku, maka ambillah dan pelajarilah ilmu daripadanya …!”

Dan penduduk Kufah telah mencintainya, suatu hal yang belum pernah diperoleh orang-orang sebelumnya, atau orang Yang setaraf dengannya…. Sungguh, kebulatan penduduk kufah untuk mencintai seseorang, merupakan suatu hal yang mirip dengan mu’jizat …. Sebabnya ialah karena mereka biasa menentang dan memberontak, mereka tidak tahan menghadapi hidangan yang serupa …. dan tidak mampu hidup selalu dalam aman dan tenteram ….!

Dan karena kecintaan mereka kepadanya demikian rupa, sampai-sampai mereka mengerumuni dan mendesaknya sewaktu’ ia hendak diberhentikan oleh Khalifah Utsman r.a. dari jabatannya, kata mereka, “Tetaplah anda tinggal bersama kami di sini dan jangan pergi, dan kami bersedia membela anda dari malapetaka yang akan menimpa anda!”

Tetapi dengan kalimat yang menggambarkan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, Ibnu Mas’ud menjawab, katanya,

 “Saya harus taat kepadanya, dan di belakang hari akan timbul peristiwa-peristiwa dan fitnah, dan saya tak ingin menjadi orang yang mula-mula membukakan pintunya.!”

Pendirian mulia dan terpuji ini mengungkapkan kepada kita hubungan Ibnu Mas’ud dengan Khalifah Utsman …. Di antara mereka telah terjadi perdebatan dan perselisihan yang makin lama makin sengit, hingga gaji dan tunjangan pensiunnya ditahan dari Baitulmal…. Walau demikian namun tidak sepatah kata pun yang tidak baik keluar dari mulutnya mengenai Utsman ….

Bahkan ia berdiri sebagai pembela dan memperingatkan rakyat ketika dilihatnya persekongkolan di masa Utsman itu telah meningkat menjadi suatu pemberontakan ….

Dan ketika terbetik berita ke telinganya mengenai percobaan untuk membunuh Khalifah Utsman itu, keluarlah dari mulutnya ucapan yang terkenal,

 “Sekiranya mereka membunuhnya, maka tak ada lagi orang sebanding dengannya yang akan mereka angkat sebagai khalifah … ” ‘

Dalam pada itu di antara kawan-kawan Ibnu Mas’ud ada yang berkata, “Tak pernah saya dengar Ibnu Mas’ud mengeluarkan cercaan satu kata pun terhadap Utsman

Allah telah menganugerahinya hikmah sebagaimana telah memberinya sifat taqwa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke dasar yang dalam, dan mengungkapkannya secara menarik dan tepat ….

Marilah kita dengar ucapannya yang menggambarkan kesimpulan hidup yang istimewa dari Umar dengan kata-kata singkat tapi padat dan mena’jubkan, katanya,

 “Islamnya merupakan suatu kemenangan…… hijrahnya merupakan pertolongan… , sedang pemerintahannya menjadi suatu rahmat….”

Berbicara tentang apa yang dikatakan orang sekarang tentang relativitas masa, ia mengatakan,

“Bagi Tuhan kalian tiada Siang dan malam ….

Cahaya langit dan bumi itu bersumber dari cahayanya ….

Ia juga berbicara tentang pekerja dan betapa pentingnya mengangkat taraf budaya kaum pekerja ini katanya

“Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur tak ada usahanya untuk kepentingan dunia, dan tidak pula untuk kepentingan akhirat ….”.

Dan di antara kata-katanya yang bersayap ialah,

“Sebaik-baik kaya ialah kaya hati

sebaik-baik bekal ialah taqwa;

seburuk-buruk buta ialah buta hati;

sebesar-besar dosa ialah berdusta;

sejelek-jelek usaha ialah memungut riba;

seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim;

siapa yang merna’afkan orang akan dimaafkan Allah;

dan siapa yang mengampuni orang akan diampuni Allah ….”

Nah, itulah gambaran singkat Abdullah bin Mas’ud shahabatRoulull,ahShallallahu “Alaihi wa Sallam Dan itulah dia kilasan dari suatu kehidupan besar dan perkasa yang dilalui pemiliknya di jalan Allah dan Rasul-Nya Serta Agama-Nya ….

Itulah dia laki-laki yang ukuran tubuhnya seumpama tubuh burung merpati kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak akan berapa bedanya dengan orang yang sedang duduk …

Kedua betisnya kecil dan kempis,yang tampak ketika itu memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Para shahabat sama menertawakannya ketika melihat kedua betisnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah saw ,

“Tuan-tuan menertawakan betis Ibnu Masud… , keduanya di sisi Allah lebih berat timbangannya dari gunung Uhud.!”

Memang… , inilah dia orang yang berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus dan hina, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya salah seorang imam di antara imam-imam kebaikan, petunjuk dan cahaya ….

Ia telah dikaruniai taufiq dan ni’mat oleh Allah yang menyebabkannya termasuk dalam golongan “sepuluh orang shahabat Rasul yang mula pertama masuk Islam”, yakni orangorang yang selagi hidupnya telah menerima berita gembira beroleh ridla Allah dan surga-Nya ….

Ia telah terjun dan tak pernah absen dalam setiap perjuangan yang berakhir dengan kemenangan di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, begitu pun di masa para khalifah sepeninggal beliau. Dan ia turut menyaksikan dua buah imperium dunia membukakan pintunya dengan tunduk dan patuh dimasuki panji-panji Islam dan ajarannya ….

Disaksikannya pula jabatan-jabatan yang tersedia dan menunggu orang-orang Islam yang mau mendudukinya, begitu pun harta yang tidak terkira banyaknya bertumpuk-tumpuk di hadapan mereka, tetapi tidak satu pun yang dapat mengusik dan melupakannya dari janji yang telah diikrarkannya kepada Allah dan Rasul-Nya, atau merintanginya dari garis hidup dan ketekunan ibadat yang diliputi rasa khusyu’ dan taw adlu …..

Dan di antara keinginan dan cita-cita hidup, tidak satu pun yang menarik hatinya kecuali sebuah, yakni yang selalu dirindukan, menjadi buah bibir dan senandungnya, Serta menjadi angan-angan untuk mendapatkannya ….

Nah, marilah kita simakkan kata-katanya sendiri menceritakan hal itu kepada kita,

 “Aku bangun di tengah malam, ketika itu aku mengikuti Rasulullah di perang Tabuk…. Maka tampak olehku nyala api di arah pinggir perkemahan, lalu kudekati untuk melihatnya. Kiranya Rasulullah bersama Abu Bakar dan Umar. Rupanya mereka sedang menggali kuburan untuk Abdullah Dzulbijadain al-Muzanni yang ternyata telah wafat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah bersabda, “Ulurkanlah lebih dekat padaku saudara tuan-tuan itu….! Lalu mereka mengulurkan kepadanya. Dan tatkala diletakkannya di lubang lahat, beliau berdu’a, “Ya Allah, aku telah ridla kepadanya, maka ridlai pula ia oleh-Mu…! Alangkah baiknya, sekiranya akulah, yang jadi pemilik liang kubur itu ….

Nah, itulah dia satu-satunya cita-cita yang diharapkan dan diangan-angankan selagi hidupnya ….

Dan sebagai anda ketahui, ia tak pernah mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang dikejar-kejar dan diperebutkan orang, berupa kemuliaan, kekayaan, pengaruh atau jabatan….

Hal ini semata-mata karena cita-citanya adalah cita-cita seorang tokoh yang berhati mulia, berjiwa besar dan berkeyakinan teguh…. seorang tokoh yang mendapat petunjuk dari Allah memperoleh tuntutan dari al-Quran , dan menerima didikan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



sumber : http://www.hasanalbanna.com/abdullah-bin-masud-yang-pertama-membaca-al-quran-dengan-merdu/

Hamzah bin Abdul Muthalib : Singa Allah dan Penghulu Syuhada

Kota Mekah masih mendengkur dalam tidur nyenyaknya, yakni setelah Siang yang penuh dengan usaha dan kesibukan dengan ibadat dan aneka permainan.

Orang Quraisy tidur lelap dan membalik-balikkan diri mereka di atas ranjang…, tetapi di sana ada seorang insan yang resah geliaah dan matanya tak hendak terpejam. Ia cepat masuk kamar tidur dan beriatirahat dalam waktu singkat, lalu bangkit dengan penuh kerinduan karena rupanya ada janji dengan Allah. Ia menuju tempat shalat yang terletak di biliknya, lalu munajat kepada Allah dan berdu’a dengan tekunnya…

Dan setiap istrinya terbangun demi mendengar gemuruh dadanya yang turun naik dan bunyi du’anya yang hangat serta terus- menerus, menyebabkannya merasa kasihan dan memohon agar ia memperhatikan dirinya dan mengambil waktu iatirahat yang cukup. Maka dengan air mata mengalir yang mendahului kata-katanya dijawabnya: ”Wahai Khadijah…! Masa untuk tidur berlalulah sudah…!”

Memang perihalnya belum lagi memusingkan orang-orang Quraisy dan mengganggu tidur nyenyak mereka, walaupun sudah mulai menjadi titik perhatian mereka. Ia barn Saja memulai da’wahnya dan menyampaikan ajarannya secara rahasia dan berbisik-bisik. Orang-orang yang beriman kepadanya waktu itu masih amat sedikit…

Tetapi di antara orang-orang yang belum beriman itu ada pula yang menaruh kasih sayang dan penghormatan kepadanya serta memendam niat dan keinginan hati untuk beriman dan menyertai kafilahnya yang penuh barkah. Mereka terhalang untuk menyatakan maksud itu hanyalah karena keadaan suasana dan lingkungan, tekanan kebiasaan dan adat-istiadat, serta kebimbangan hati untuk mengabulkan panggilan atau menolak seruan. Maka dalam golongan ini terdapatlah Hamzah bin Abdul Muthalib, yaitu paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan saudara sesusunya…

Hamzah telah kenal akan kebesaran dan kesempurnaan keponakannya, tahu sebaik-baiknya akan kepribadian dan watak serta akhlaqnya. la tidak hanya mengenalnya sebagai seorang paman terhadap keponakannya semata, tetapi juga sebagai saudara terhadap saudaranya, dan shahabat terhadap teman sejawatnya. Sebabnya ialah karena Rasulullah dan Hamzah dari satu generasi, dan usia yang berdekatan. Mereka dibesarkan bersama, bermain bersama dan menjadi shahabat karib, serta menempuh jalan kehidupan dari bermula selangkah demi selangkah secara bersama-lama pula…

Hanya memang, di waktu muda masing-masing mereka telah menempuh jalan sendiri-sendiri. Hamzah mulai bersaing dengan teman-temannya untuk mendapatkan kelayakan hidup dan merintis jalan bagi dirinya untuk beroleh kedudukan di kalangan pembesar-pembesar kota Mekah dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Sementara Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap bertahan di lingkungan cahaya ruhani yang mulai menerangi jalan baginya menuju Ilahi, serta mengikuti bisikan hati yang mengajaknya menjauhi kebisingan hidup untuk mencapai renungan yang dalam, serta mempersiapkan diri dalam menyambut dan menerima kebenaran…

Kita tegaskan, bahwa walaupun kedua anak muda itu telah mengambil arah yang berlainan, tetapi tidak satu detik pun hilang dari ingatan Hamzah. Keutamaan shahabat dan keponakannya, yakni keutamaan dan kemuliaan yang mengantarkan pemiliknya kepada kedudukan tinggi di mata manusia umumnya, dan melukiskan secara gamblang masa depannya yang gemilang telah banyak diketahui Hamzah….

Pagi hari itu, seperti biasa Hamzah keluar rumahnya. Di sisi Ka’bah didapatinya se rombongan pembesar dan bangShallallahu ‘Alaihi wa Sallaman Quraisy, lalu ia pun duduk bersama mereka, mendengarkan apa yang mereka percakapkan. Rupanya mereka sedang membicarakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dan untuk pertama kali Hamzah melihat mereka diliputi rasa gelisah diaebabkan oleh da’wah yang dilakukan oleh keponakannya. Dari ucapan mereka tersembur amarah murka, kebencian dan kedengkian.

Sebelum itu mereka tidak peduli, atau pura-pura tidak peduli dan ambil puling. Tetapi sekarang wajah-wajah mereka mengerikan, menyeringai karena berang dan kecewa serta hendak menerkam. Lama Hamzah tertawa mendengar obrolan mereka. Dituduhnya mereka keterlaluan dan salah tafsir…

Di saat itu Abu Jahal segera menegaskan kepada hadlirin bahwa sebenarnya Hamzah paling tahu akan bahaya ajaran yang diserukan oleh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hanya ia menganggapnya enteng hingga Quraisy jadi lengah dan lalai. Kemudian nanti datang suatu saat di mana keadaan telah terlambat dan terbukalah baginya bahaya yang dibawa oleh keponakannya itu…

Demikianlah mereka melanjutkan pembicaraan dalam suasana hiruk pikuk yang tidak luput dari ancaman, sementara Hamzah kadang-kadang turut tertawa dan kadang-kadang menampakkan Wajah murka. Dan ketika pertemuan itu usai dan masing-masing meneruskan acaranya, kepala Hamzah pun dipenuhi fikiran dan perasaan baru, menyebabkan perhatiannya tertuju kepada urusan keponakannya dan mempertimbangkan kembali buruk baiknya….

Hari-hari pun berlalu silih berganti, dan makin lama desas-desus yang disebarkan Quraisy sekitar da’wah Rasul makin memuncak…kemudian desas-desus itu berubah menjadi hasutan dan komPlotan, sementara Hamzah memperhatikan suasana dari jauh…

Ketabahan hati keponakannya itu amat mengherankannya, sementara usahanya yang mati-matian membela keimanan dan kelancaran da’wahnya, merupakan suatu hal yang baru bagi kaum Quraisy umumnya, walaupun sebenarnya mereka terkenal gigih keras kepala.

Dan andainya ketika itu keragu-raguan dapat menggoyahkan kepercayaan seseorang tentang kebenaran Rasulullah dan kebesaran jiwanya, tetapi ia takkan menemukan jalan untuk mempengaruhi dan memperdayakan Hamzah. Hamzah adalah orang yang paling kenal siapa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semenjak masa kanak-kanak hingga waktu mudanya yang tidak bernoda, dan sampai usia dewasanya yang terpercaya.

Ia kenal Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana ia kenal akan dirinya, bahkan lebih dari itu lagi. Semenjak mereka lahir ke alam wujud, menjadi remaja dan sama-sama berangkat dewasa, di mana lembaran kehidupan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbuka di hadapan matanya suci bersih laksana sinar matahari, tidak satu cacat pun dilihatnya pada lembaran itu…!

Tidak sekali pun dilihatnya ia marah atau naik darah, kecewa atau putus asa, apalagi menampakkan ketamakan dan keserakahan, berolok-olok atau berbuat hal yang sia-sia.

Dan Hamzah bukan saja seorang yang menikmati kekuatan jasmaniah belaka, tetapi ia dikaruniai pula kekuatan kemauan dan ketajaman akal fikiran. Dari itu tidak wajar bila ia ketinggalan dan tak ingin mengikuti orang yang diketahuinya betul-betul jujur dan dapat dipercaya. Hanya hal itu dipendamnya dalam hati, menunggu saat yang tepat untuk membukakannya, yang waktunya telah dekat dan tidak akan menunggu lama…

Dan hari yang ditunggu-tunggu itu pun datanglah… Hamzah keluar dari rumahnya menjinjing busur dan menujukan langkahnya ke arah padang belantara untuk melatih kegemaran dan melakukan olah raga yang amat disukainya yaitu berburu. Ia amat mahir dalam hal ini.

Ada kira-kira setengah hari ia menghabiakan waktunya di sana, dan ketika kembali dari perburuannya ia langsung pergi ke Ka’bah untuk thawaf seperti biasa sebelum pulang ke rumahnya. Setibanya dekat Ka’bah ia ditemui oleh seorang pelayan wanita Abdullah bin Jud’an. Dan demi dilihatnya Hamzah telah dekat, berkatalah pelayan itu kepadanya: ”Wahai Abu Umarah, seandainya anda melihat apa yang dIslami oleh keponakan anda Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru-baru ini….! Abul Hakam bin Hiayam, ketika mendapatkan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk di sana, disakiti dan dimakinya, hingga mengalami hal-hal yang tidak diinginkan…!”

Lalu dilanjutkannya cerita mengenai perlakuan Abu Jahal kepada Rasulullah…

Hamzah mendengarkan perkataannya dengan baik, kemudian ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu membawa busur panahnya dan menyandangkan ke bahunya. Setelah itu dengan langkah cepat tetapi tegap ia pergi menuju Ka’bah dan berharap akan bertemu dengan Abu Jahal di sana… Dan jika tidak ditemuinya, maka pencarian akan dilakukannya di mana pun juga sampai berhasil…

Tetapi belum lagi sampai di Ka’bah, kelihatan olehnya Abu Jahal di pekarangannya sedang dikelilingi oleh beberapa orang pembesar Quraisy. Maka dalam ketenangan yang mencekam, Hamzah maju mendapatkan Abu Jahal lalu melepaskan busurnya dan memukulkannya ke kepala Abu Jahal hingga luka dan mengeluarkan darah. Dan sebelum orang-orang itu menyadari apa Yang terjadi, Hamzah pun membentak Abu Jahal, katanya:

 “Kenapa kamu cela dan kamu maki Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, padahal aku telah menganut Agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannva? Nah, cobalah ulangi kembali makianmu itu kepadaku jika kamu berani!”

Dalam sekejap waktu orang-orang yang berada di sana lupa akan penghinaan yang baru menimpa pemimpin mereka dan darah yang mengalir dari kepalanya, terpesona oleh kata-kata Yang keluar dari mulut Hamzah yang tak ubah bagai bunyi halilintar di siang bolong…, yaitu kata-kata yang diucapkannya untuk menyatakan bahwa ia telah menganut Agama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengakui apa yang diakuinya dan mengatakan apa yang dikatakannya…

Apa, apakah Hamzah telah masuk Islam…?

Dan… seorang anak muda Quraisy yang paling gigih membela haknya serta yang paling mulia…! Sungguh suatu bencana besar yang tak dapat diatasi oleh bangsa Quraisy Keislaman Hamzah akan menarik perhatian tokoh-tokoh pilihan untuk sama-sama memasuki Agama itu, hingga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan beroleh tenaga dan kekuatan yang akan membela da’wah dan memperkokoh barisannya, dan di suatu saat nanti orang-orang Quraisy akan bangun dan sadarkan diri, karena mendengar bunyi linggis dan tembilang yang menghancurleburkan berhala-berhala dan tuhan-tuhan mereka…!

Memang tidak salah…! Hamzah telah masuk Islam, dan di hadapan umum telah dikeluarkan simpanan hatinya selama ini, dan ditinggalkannya orang banyak itu merenungi kekecewaan dan kegagalan harapan mereka, dan dibiarkannya Abu Jahal menjilat darah yang mengucur dari kepalanya yang luka. Hamzah kembali memungut busur dengan tangan kanannya, dan menggantungkannya di bahu, lalu dengan langkah yang tegap dan hati Yang pekat pergi pulang ke rumahnya…

Hamzah adalah seorang yang berfikiran cerdas dan berpendirian keras…
Ketika ia telah pulang ke rumahnya dan hilang rasa lelahnya duduklah ia, dan membawa dirinya berfikir serta merenungkan periatiwa yang baru Saja dIslaminya…

Bagaimana cara ia menyatakan keislamannya… dan kapan…? Ia telah menyatakannya dalam saat emosi dan tersinggung, saat amarah dan naik darah… Ia tak sudi bila keponakannya diperlakukan secara sewenang-wenang dan dianiaya tanpa adanya pembela! Oleh sebab itulah ia jadi murka dan tampil membela Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta kehormatan Bani Hasyim, maka dipukulnya kepala Abu Jahal sampai luka, dan diteriakkan ke mukanya bahwa ia telah beragama Islam….

Tetapi, apakah merupakan cara terbaik bagi seseorang untuk meninggalkan agama nenek moyang dan kaumnya, agama yang telah mereka anut semenjak beribu tahun dan berabad-abad…? Lalu ia langsung menerima Agama baru yang belum lagi diselidiki ajarannya dan belum dikenal hakikatnya kecuali sekelumit kecil

Benar, ia tidak sedikit pun ragu tentang kebenaran Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ketulusan maksudnya. Tetapi mungkinkah seseorang menerima satu Agama baru berikut segala kewajiban dan tanggung jawabnya di saat marah dan naik darah sebagai yang dilakukan oleh Hamzah sekarang ini?

Memang dalam dadanya terpendam niat untuk menghormati da’wah baru yang panji-panjinya dipikul oleh keponakannya. Hanya seandainya ia telah ditaqdirkan akan menjadi salah seorang pengikut dari da’wah ini, yang beriman dan menyediakan diri untuk menjadi pembantu dan pembelanya, maka apabilakah sebenarnya waktu yang tepat untuk memasukinya…? Apakah di saat berang dan tersinggung ataukah setelah berfikir dan merenung…?

Demikianlah kelugasan pendirian dan kemurnian berfikir mengharuskannya untuk membawa semua masalah ini kembali ke batu ujian dan neraca pertimbangan. Mulailah ia berfikir dan hari-hari berlalu…, Siang harinya tak pernah tenteram dan malam matanya tak pernah terpejam…

Dan anehnya ketika kita berusaha mencari kebenaran dengan perantaraan akal, maka kebimbangan pun tampil ke depan sebagai penghalang… Demikianlah, demi Hamzah menggunakan akalnya untuk membahas masalah Agama Islam dan membanding-bandingkan yang lama dengan yang baru, timbullah keraguan dalam dirinya yang dibangkitkan oleh kerinduan yang telah mendarah daging terhadap agama nenek moyangnya, dan kecemasan yang telah jadi pusaka turun-temurun terhadap segala hal yang baru…

Bangkitlah semua kenangannya mengenai Ka’bah berikut tuhan-tuhan dan berhala-berhalanya, begitupun tentang pengaruh keagamaan yang telah ditanamkan oleh patung-patung pahatan itu terhadap semua penduduk Mekah dan bangsa Quraisy umumnya…, hingga memisahkan diri dari sejarah tersebut dan meninggalkan agama lama yang telah berurat-akar ini, tak ubah bagai hendak melompati jurang yang lebar…

Timbullah keheranannya mengapa orang demikian mudah dan tergesa-gesa mau meninggalkan agama nenek moyangnya…. Maka rnenyesallah ia atas apa yang telah dilakukannya, hanya perjalanan akal tetap diteruskan dan tidak dihentikannya…

Dan tatkala dirasakan bahwa akal fikiran semata tidak berdaya, maka dengan ikhlas dan tulus hati, ia pun pergi berlindung kepada yang ghaib. Di sisi Ka’bah, sambil wajahnya menengadah ke langit, dan dengan minta pertolongan kepada segala kudrat dan nur yang terdapat di alam wujud ini, ia memohon dan berdo’a agar beroleh petunjuk kepada yang haq dan jalan yang lurus.

Dan marilah kita dengar ceritanya ketika mengisahkan berita selanjutnya, katanya:

“…. Kemudian timbullah sesal dalam hatiku karena meninggalkan agama nenek moyang dan kaumku…  dan aku pun diliputi kebingungan hingga mata tak hendak tidur…. Lalu pergilah aku ke Ka’bah, dan memohon kepada Allah agar membukakan hatiku untuk menerima kebenaran dan melenyapkan segala keraguan. Maka Allah pun mengabulkan permohonanku itu dan memenuhi hatiku dengan keyakinan…. Aku pun segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan memaparkan keadaanku padanya, maka dido’akannya kepada Allah agar ditetapkan-Nya hatiku dalam Agamanya….”

Demikianlah Hamzah menganut Islam secara yakin…
Allah menguatkan Agama Islam dengan Hamzah, dan sebagai batu karang yang kukuh menjulang ia membela Rasulullah dan shahabat-shahabatnya yang lemah…. Abu Jahal melihat Hamzah berdiri dalam barisan Kaum Muslimin, maka menurut keyakinannya perang sudah tak dapat dielakkan lagi. Oleh sebab itu dihasutnyalah orang-orang Quraisy untuk melakukan kekerasan terhadap Rasulullah dan para shahabat, dan ia terns  mempersiapkan diri untuk melancarkan perang saudara yang akan dapat memuaskan haus dahaga, melipur rasa dendam dan sakit hatinya.

Memang, tentu saja Hamzah tak dapat membendung segala siksaan mereka, tetapi keIslamannya seolah-olah menjadi benteng dan periaai, di samping menjadi days penarik bagi kebanyakan kabilah Arab, — apalagi setelah diikuti pula dengan masuk Islamnya Umar bin Khatthab — untuk mengikuti langkahnya, hingga mereka pun memasukinya dengan berduyun-duyun…

Dan semenjak masuk Islam, Hamzah telah bernadzar akan membaktikan segala keperwiraan, kesehatan bahkan hidup matinya untuk Allah dan Agama-Nya, hingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkenan memasangkan pada dirinya julukan iatimewa ini: ”Singa Allah dan singa Rasul-Nya”.

Sariyah, atau angkatan bersenjata tanpa disertai Nabi, yang mula pertama dikirim untuk menghadapi musuh, dipimpin oleh Hamzah….

Dan panji-panji pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada salah seorang Muslimin, diserahkan kepada Hamzah… Kemudian ketika kedua angkatan bersenjata berhadapan-muka di perang Badar, keberanian luar biasa telah ditunjukkan oleh Singa Allah dan Singa Rasul-Nya yang tiada lain dari Hamzah…!

Sisa-sisa tentara Quraisy kembali dari Badar ke Mekah dan berjalan terhuyung-huyung membawa kegagalan dan kekalahan – – – – Abu Sufyan tak ubah bagai pohon kayu besar yang tumbang dan tercabut dengan urat akarnya. la berjalan dengan kepala tunduk meninggalkan di tengah-tengah medan, tubuh pemuka-pernuka Quraisy yang telah tiada bernyawa, seperti Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf, ‘tJqbah bin Abi Mu’aith, Aswad bin Abdul Aswad al Makhzumi, walid bin ‘Utbah, Nadlar bin Harits, ‘Ash bin Sa’id, Tha’mah bin ‘Adi serta beberapa puluh pemimpin dan tokoh Quraisy lainnya seperti mereka.

Sungguh, Quraisy takkan mau menelan kekalahan pahit ini begitu saja…. Mereka mulai mempersiapkan diri, menghimpun segala dana dan daya untuk menuntut bela dan menebus kekalahan mereka. Pendeknya Quraisy telah bertekad bulat untuk berperang…!

Dan datanglah saatnya perang Uhud di mana orang-orang Quraisy tumpah keluar, disertai oleh sekutu mereka dari berbagai kabilah Arab lainnya. Mereka dipimpin oleh Abu Sufyan. Sedang yang dituju oleh pemuka-pemuka Quraisy dengan peperangan ini sebagai sasaran, hanyalah dua orang saja, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Hamzah Radhiyallahu ‘Anh

Memang, dari buah pembicaraan dan rencana yang mereka atur sebelum perang, dapatlah diketahui bahwa Hamzah berada pada urutan kedua sesudah Rasulullah sebagai sasaran dan bulan-bulanan dari peperangan ini.

Sebelum berangkat, mereka telah memilih seseorang yang diberi tugas untuk menyelesaikan rencana mereka terhadap Hamzah. Orang itu adalah seorang budak Habsyi yang memiliki kemahiran iatimewa dalam melemparkan tombak.

Dalam peperangan nanti mereka memerintahkan budak itu untuk memusatkan perhatian hanya kepada satu tugas saja, yaitu menjadikan Hamzah sebagai barang buruan dan melepaskan lemparan tombak dengan lemparan yang mematikan kepadanya. Dan mereka memperingatkannya agar tidak melalaikan tugas tersebut bagaimanapun juga jalan peperangan dan akhir kesudahannya.

Sebagai imbalan mereka berjanji akan membalas jasanya dengan harga besar dan tinggi, yakni kebebasan dirinya — Budak yang bernama Wahsyi itu adalah milik Jubair bin Muth’am — waktu perang Badar, paman Jubair ini tewas di tengah medan dan ia ingin menuntut bela, maka katanya kepada Wahsyi: ”Berangkatlah bersama orang-orang itu! Dan jika kamu berhasil membunuh Hamzah, maka kamu bebas…!”

Kemudian mereka bawa ia kepada Hindun binti ‘Utbah yakni istri Abu Sufyan, agar dihasut dan didesaknya untuk melaksanakan rencana yang mereka inginkan.

Dalam perang Badar, Hindun ini telah kehilangan bapak, paman, saudara dan puteranya…. disampaikan orang kepadanya bahwa Hamzahlah yang telah membunuh sebagian keluarganya itu, dan yang menyebabkan terbunuhnya yang lain.

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bahwa wanita inilah di antara orang-orang Quraisy, baik wanita maupun laki-lakinya yang paling keras menghasut untuk berperang. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mendapatkan kepala Hamzah, betapa juga mahal harga yang harus dibayarnya…!

Berhari-hari lamanya sebelum peperangan dimulai, tak ada pekerjaan Hindun kecuali menggembleng dan menghasut Wahsyi serta menumpahkan segala dendam dan kebenciannya kepada Hamzah dan merencanakan peranan yang akan dimainkan oleh budak itu… la telah menjanjikan kepada budak itu, andainya ia berhasil membunuh Hamzah, akan diberinya kekayaan dan perhiasan paling berharga yang dimiliki oleh wanita — sementara itu jari-jarinya yang penuh kebencian memegang anting-anting, permata yang mahal serta kalung emas yang terlilit pada lehernya —, lalu dengan kedua matanya yang bercahaya katanya kepada Wahsyi: ”Jika kamu dapat membunuh Hamzah, maka semua ini menjadi milikmu…!”

Air liur Wahsyi pun mengalirlah mendengar itu… dan angan-angannya terbang melayang dipenuhi rasa rindu dan ingin cepat bertemu dengan peperangan yang akan menyebabkan tombaknya mendapatkan mangsanya, hingga ia tidak lagi menjadi budak belian, begitu pula ia ingin segera memiliki barang-barang perhiasan yang selama ini menghias leher istri pemimpin dan putri tokoh suku Quraisy…!

Demikianlah persekongkolan jahat, di mana segala unsur-unsur perang sama-sama menginginkan Hamzah Radhiyallahu ‘Anh terbunuh sistim terbuka tanpa ditawar-tawar.

Dan pertempuran itu pun tibalah…
Kedua pasukan telah berhadapan muka, sementara Hamzah berada di tengah-tengah medan yang menjadi sarang maut dan penderitaan. Ia memakai pakaian perang, sedang di dadanya terdapat bulu burung unta yang biasa diambilnya sebagai penghias dadanya dalam peperangan…

Hamzah mulai menyerbu dan menyerang kiri kanan, dan setiap kepala yang diarahnya pastilah putus oleh pedangnya. Pukulannya terhadap orang-orang musyrik tiada henti-hentinya, dan seolah-olah maut menyerahkan diri ke dalam tangannya, dilontarkannya kepada siapa yang dikehendakinya, lalu tertancap di hulu hatinya…!

Seluruh Kaum Muslimin maju dan menyerbu ke muka, hingga kemenangan menentukan telah hampir berada di tangan, dan sisa-sisa Quraisy terpukul mundur dan lari porak-poranda. Dan seandainya pasukan panah tidak meninggalkan kedudukan mereka di puncak bukit, dan turun ke bawah untuk memungut barang-barang rampasan dari musuh yang kalah…, sekiranya mereka tidak melanggar perintah dan tidak membiarkan garis pertahanan panjang menjadi terbuka bagi masuknya pasukan berkuda Quraisy, pastilah perang Uhud akan menamatkan riwayat mereka dan jadi kuburan bagi kaum penyerang baik lelaki maupun wanita, bahkan bagi kuda dan unta mereka…!

Maka di saat mereka lengah dan tidak waspada itulah pasukan berkuda Quraisy menyerang Kaum Muslimin dari belakang hingga mereka jadi sasaran dan bulan-bulanan pedang yang menari-nari berkelebatan…

Terpaksalah Kaum Muslimin mengatur barisan kembali dan memungut senjata yang telah ditinggalkan oleh sebagian mereka yang lari karena serbuan Quraisy yang mendadak itu

Tetapi sergapan yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangka itu akibatnya memang amat kejam dan pahit sekali…! Hamzah melihat apa yang terjadi, maka baik semangat, tenaga maupun perjuangannya dijadikannya berlipat ganda…. Ia menerjang ke kiri dan ke kanan, ke muka dan ke belakang, sementara Wahsyi sedang mengintainya di sana…, dan menunggu terbukanya kesempatan untuk melemparkan tombak ke tubuhnya…

Marilah sekarang kita dengarkan cerita Wahsyi menyampaikan laporan pandangan mata tentang periatiwa tersebut, katanya:

 “Saya seorang Habsyi, dan mahir melemparkan tombak dengan teknik Habsyi, hingga jarang sekali lemparanku meleset…. Tatkala orang-orang telah mulai berperang, saya pun keluar dan mencari-cari Hamzah, hingga akhirnya tampak di antara manusia tak ubahnya bagai unta kelabu yang mengancam orang-orang dengan pedangnya hingga tak seorang pun yang dapat bertahan di depannya… Maka demi Allah, ketika saya bersiap-siap untuk membunuhnya, saya bersembunyi di balik pohon agar dapat menerkamnya atau menunggunya supaya dekat, tiba-tiba saya didahului oleh Siba’ bin Abdul ‘Uzza yang tampil he depannya… Tatkala ia tampak oleh Hamzah, maka serunya: ”Marilah ke sini hai anak tukang sunat wanita!” Lalu ditebasnya hingga tepat mengenai kepalanya…

Ketika itu saya pun menggerakkan tombak mengambil ancang-ancang, hingga setelah terasa tepat, saya lontarkanlah hingga mengenai pinggang bagian bawah dan tembus he bagian muka di antara dua pahanya…. Dicobanya bangkit ke arahku, tetapi ia tak berdaya lalu rubuh dan meninggal…

Saya datang mendekatinya dan mencabut tombakku, lalu kembali he perkemahan dan duduk-duduk di sana, karena tak ada lagi tugas dan keperluanku. Saya telah membunuhnya semata-mata demi kebebasan dari perbudahan yang memilikiku

Dan tak -ada salahnya bila kita mendengarkan kisah Wahsyi selanjutnya: “Sesampainya di Mekah saya pun dibebaskan. Saya tetap bermukim di sana sampai kota itu dimasuki oleh Rasulullah di hari pembebasan, maka saya lari he Thaif. Dan tak kala perutusan Thaif menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman, timbul berbagai rencana dalam fikiranku. Kataku dalam hati biarlah saya pergi he Syria, atau he Yaman, atau ke tempat lain. Demi Allah, ketika saya berada dalam ke bingungan itu datanglah seseorang mengatakan kepadaku: ”Hai tolol! Rasulullah tak hendak membunuh seseorang yang masuk Islam…!”

Maka pergilah saya mendapatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Madinah. Saya baru tampak olehnya ketika tiba-tiba telah berdiri di depannya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tatkala saya dilihatnya, beliau bertanya:

 “Apakah kamu ini Wahsyi…?
“Benar ya Rasulullah,” ujarku.
Lalu sabdanya: ”Ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu membunuh Hamzah!”
Maka saya Ceritakanlah. Dan setelah cerita saya itu selesai, sabdanya pula: ”Sangat menyesal…! Sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku..

Maka selalulah saya menghindarkan diri dari hadapan dan jalan yang akan ditempuh oleh Rasulullah agar tidak kelihatan oleh beliau sampai saat beliau diwafatkan Allah… Tatkala Kaum Muslimin pergi memadamkan pemberontakan (Nabi palsu) Musailamatul Kadzdzah penguasa Yamamah, saya pun ikut bersama mereka dan membawa tombak yang saya gunakan untuk membunuh Hamzah dahulu.

Ketika orang-orang mulai bertempur saya lihat Musailamatul Kadzdzah sedang berdiri dengan pedang di tangan. Maka saya pun bersiap-siaplah dan menggerakkan tombak membuat ancang-ancang, hingga setelah terasa tepat, saya lemparlah dan menemui sasarannya.

Maka sekiranya saya dengan tombak itu telah membunuh sebaik-baik manusia yaitu Hamzah, saya berharap kiranya Allah akan mengampuniku karena dengan tombak itu pula saya telah membunuh sejahat-jahat manusia yaitu Musailamah…!

Demikianlah Singa Allah dan Singa Rasul-Nya itu gugur sebagai syahid mulia…! Dan sebagaimana hidupnya telah menggemparkan, demikian kewafatannya telah menggemparkan pula….

Musuh-musuh tak puas hanya dengan kewafatannya belaka! Betapa mereka telah mengerahkan orang-orang Quraisy dan mencurahkan harta benda mereka dalam suatu peperangan besar yang tujuannya tiada lain dari mendapatkan Rasulullah dan pamannya Hamzah.

Hindun binti ‘Utbah ya’ni istri Abu Sufyan telah menyuruh Wahsyi agar mengambil hati Hamzah untuk dirinya. Keinginannya yang mempunyai imbalan ini dikabulkan oleh orang Habsyi itu. Dan tatkala ia kembali kepada Hindun dan memberikan hati Hamzah dengan tangan kanannya, maka ia menerima kalung dan anting-anting dari wanita itu dengan tangan kirinya sebagai balas jasa dalam memenuhi tugasnya…

Maka Hindun yang ayahnya telah tewas di tangan Kaum Muslimin di perang Badar itu dan istri Abu Sufyan panglima kaum musyrik penyembah berhala, menggigit dan mengunyah hati Hamzah dengan harapan akan dapat mengobati hatinya yang pedih karena dendam dan amarah murka.

Tetapi rupanya hati itu telah liat (slot) hingga tak dapat dikunyah dan tidak mempan oleh taring-taringnya, maka dikeluarkan dari mulutnya, lalu kedengaranlah teriakan keras, yaitu seruan yang diucapkan dan berbunyi sebagai berikut:

 “Kekalahan di Badar terbalaslah sudah oleh kami
Dan peperangan itu bagai hari-hari silih berganti
Daku tak tahan mengenangkan ‘Utbah ayahku itu
Begitu pula saudaraku, paman serta putera sulungku Sekarang hatiku puas, nadzar telah terpenuhi
Sakit di dada telah terobati oleh Wahsyi”

Peperangan pun usailah, kaum musyrikin menaiki unta dan menghalau kuda mereka pulang ke Mekah… Dan Rasulullah beserta shahabat turun ke bekas medan pertempuran untuk meninjau para syuhada…

Maka nun di sana yakni di perut lembah, ketika beliau memeriksa wajah para shahabatnya yang telah menjual diri mereka kepada Allah dan menyajikannya sebagai kurban yang ikhlas kepada Allah Yang Maha Besar, beliau berhenti sejenak… menyaksikan dan membisu…, menggertakkan gigi dan membasahi pelupuk mata…

Tidak terlintas dalam angannya sedikit pun bahwa moral orang-orang Arab akan merosot sedemikian rupa hingga jatuh pada kebiadaban keji dan sampai hati merusak mayat sebagai yang disaksikan pada pamannya syahid mulia Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah dan tokoh utama syuhada…

Rasulullah membuka kedua matanya yang dengan airnya berkilat-kilat laksana kaca…,sambil matanya tertuju kepada tubuh pamannya itu, beliau bersabda:

 “Tah pernah aku menderita mushibah seperti yang kuderita dengan peristiwa anda sekarang ini… Dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini…”

Lalu sambil menoleh kepada para shahabat, sabdanya:

 “Sekiranya Shafiah saudara perempuan Hamzah takkan berduka dan tidak akan menjadi  sunnah sepeninggalku nanti, akan kubiarkan ia mengisi perut binatang buas dan tembolok burung nasar…! Tetapi sekiranya aku diberi kemenangan oleh Allah di salah satu medan pertempuran dengan orang Quraisy, akan kuperbuat sebagai yang mereka perbuat, terhadap tiga puluh orang laki-laki di antara mereka…!”

Maka para shahabat pun berseru pula:
“Demi Allah, sekiranya pada suatu waktu nanti kita diberi kemengan oleh Allah terhadap mereka, akan kita cincang mayat-mayat mereka seperti yang belum pernah dilakukan oleh seorang Arab pun…!”

Tetapi Allah yang telah memberi kemuliaan kepada Hamzah sebagai seorang syahid, memuliakannya sekali lagi dengan menjadikan gugurnya itu sebagai suatu kesempatan untuk memperoleh pelajaran penting yang akan melindungi keadilan sepanjang masa dan mengharuskan diperhatikannya kasih sayang walau dalam qiahash dan menjatuhkan hukuman.

Demikianlah, belum lagi selesai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan ancamannya itu, ia masih berada di tempat itu dan belum lagi meninggalkannya, turunlah wahyu berupa ayat-ayat mulia

Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan berdiakusilah dengan mereka dengan cara yang utama! Sesungguhnya Tuhan kalian lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan la lebih mengetahui siapa-siapa yang beroleh petunjuk…. Jika kalian hendak membalas, balaslah seperti yang telah dilakukan mereka kepada kalian dan jika kalian bershabar, maka itu. memang lebih baik bagi orang-orang yang shabar….

Dan bershabarlah kamu, dan keshabaranmu itu takkan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah; serta jangan kamu berduka-cita atas mereka, serta janganlah sesak nafas karena tipu dtya yang mereka lakukan…

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang taqwa serta orang-orang yang berbuat baik…! (Q.S.16 an-Nahl:125 — 128).

Maka turunnya ayat-ayat tersebut di tempat ini, merupakan penghormatan sebaik-baiknya terhadap Hamzah, yang pahalanya pasti akan diberikan oleh Allah!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam amat sayang kepadanya, dan sebagai telah kita sebutkan dulu, ia bukanlah hanya paman yang tercinta belaka…

Tetapi juga saudara sesusu…
Dan teman sepermainan…
Serta shahabat sepanjang masa…

Dan di saat-saat perpiaahan ini, tidak ada penghormatan yang lebih utama yang ditemui Rasulullah untuk melepas kepergiannya daripada menshalatkannya bersama-sama dengan seluruh syuhada, seorang demi seorang…

Demikianlah jasadnya dibawa ke tempat shalat di medan laga yang telah menyaksikan kepahlawanan dan menampung darahnya, lalu diahalatkan oleh Rasulullah bersama para shahabat. Kemudian dibawa lagi ke sana seorang syahid lain dan diahalatkan oleh Rasulullah. Mayat itu diangkat tetapi Hamzah dibiarkan ditempatnya, lalu dibawa lagi syahid ketiga dan dibaringkan di dekat Hamzah dan diahalatkan pula oleh Rasulullah.

Begitulah para syuhada itu didatangkan, syahid demi syahid sernentara, Rasulullah menshalatkan mereka seorang demi seorang, hingga bila dihitung ada tujuhpuluh kali banyaknya Rasulullah menshalatkan Hamzah waktu itu….

Rasulullah pulang ke rumah meninggalkan medan peperangan. Di jalan didengarnya wanita-wanita Bani Abdil Asyhal menangisi syuhada mereka. Maka dengan amat santun dan sayang, sabdanya:

 “Tetapi Hamzah, tak ada wanita yang menangisinya…!”

Hal ini kedengaran oleh Sa’ad bin Mu’adz, dan disangkanya Rasulullah akan senang hatinya bila ada wanita yang menangisi pamannya, lalu segeralah ia mendatangi wanita-wanita Bani Asyhal tali dan menyuruh mereka agar menangisi Hamzah pula. Suruhan itu mereka lakukan, tetapi demi Rasulullah mendengai tangis mereka, ia pergi menemui mereka sabdanya:

 “Bukan ini yang saya maksudkan…
Pulanglah kalian, semoga Allah memberi kalian rahmat, dan tak boleh menangis lagi setelah hari ini…!”

Dan para penyair shahabat Rasulullah berlomba-lomba menggubah sya’ir untuk meratapi Hamzah dan mengenangkan jasa-jasanya yang besar. Berkatalah Hasaan bin Tsabit dalam qashidahnya yang panjang:

 “Tinggalkan masa lalu yang penuh berhala
Ikuti jejak Hamzah yang bergelimang dengan pahala Penunggang kuda di medan laga
Bagaikan singa terluka di hutan belantara
Seorang warga Hasyim mencapai yang cemerlang Tampil ke medan laga membela kebenaran
Gugur sebagai syahid di medan pertempuran Di tangan Wahsyi pembunuh bayaran…!”

Dan dengarlah pula kata Abdullah bin Rawahah:

 “Air mata mengalir tak ada hentinya
Walau ratap dan tangia tak ada artinya Bagimu wahai singa Allah kami tafakur
Sambil bertanya Hamzahkah yang gugur? Ujian telah menimpa kami hamba Allah
Begitu pula Muhammad Rasulullah
Dengan kepergianmu benteng musuh berantakan Dengan kepergianmu
tercapailah tujuan”

Dan berkatalah pula Shafiyah binti Abdul Muthalib, yaitu bibi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan saudara Hamzah:

 “Ilahi Rabbi pemilik ‘arasy telah memanggilnyq datang Ke dalam surga tempat hidup bersenang senang Memang itulah yang kita tunggu dan selalu harapkan

Hingga di yaumul mahsyar Hamzah beroleh tempat yang lapang
Demi Allah, selama angin barat berhembus daku takkan lupa Baik di waktu bermukim maupun bepergian ke mana saja
Selalu berkabung dan menangiai Singa Allah Sang Pemuka
Pembela Islam terhadap setiap kafir orang angkara Sementara daku mengucapkan sya’ir, keluargaku sama berdo’a.
Semoga Allah memberimu balasan, wahai saudara, wahai pembela”.

Tetapi ratapan terbaik yang menharurnkan kenangan terhadap dirinya  ialah kata-kata yang diucapkan oleh Rasulullah ketika berdiri di depan jasad Hamzah sewaktu dilihatnya berada di antara syuhada pertempuran itu, sabdanya:

 “Melimpahlah atasmu Rahmat ar-Rahim
Akulah saksi bagimu di hadapan al-Hakim
Engkaulah pendekar penyambung silaturrahim
Berbuat kebaikan pembela yang di dhalim…
Tak dapat kiranya disangkal, bahwa mushibah yang menimpa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diaebabkan gugur pamannya yang utama Hamzah amat besar sekali, hingga sebagai penghibur baginya amat sukarlah dapat ditemukan…
Tetapi taqdir telah menyediakan bagi Rasulullah sebaikbaik hiburan.

Dalam perjalanan pulang dari Uhud ke rumahnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati seorang wanita warga Bani Dinar, yang dalam peperangan itu telah kehilangan bapak, suami dan saudaraya….

Ketika wanita itu melihat Kaum Muslimin pulang dari medan perang, ia segera mendapatkan mereka dan menanyakan berita pertempuran. Maka mereka sampaikan bela sungkawa atas gugurnya suami, bapak dan saudaranya itu…

Sambil mengeluh, kiranya wanita itu menanyakan:
“Bagaimana kabarnya Rasulullah…?”
“Baik, alhamdulillah beliau dalam keadaan yang anda inginkan”, ujar mereka.
“Bawa beliau ke sini hingga saya dapat melihatnya… katanya pula.

Mereka pun tetap berdiri di samping wanita tersebut, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah dekat kepada mereka. Maka demi tampak oleh wanita itu, ia pun datang menghampiri Rasulullah, katanya:

 “Apa pun mushibah yang menimpa asal tidak menimpa diri anda, soalnya enteng belaka
Memang…… Itu adalah suatu hiburan yang terbaik dan paling kekal

Dan mungkin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan tersenyum menyaksikan periatiwa iatimewa dan satu-satunya ini! Karena dalam dunia pengurbanan, kesetiaan dan kecintaan, peristiwa itu tak ada bandingannya…!

Seorang wanita. lemah dan miskin… sekaligus telah kehilangan bapak, suami dan saudaranya…, tetapi sambutannya terhadap perang yang menyampaikan berita yang dapat menggoncangkau gunung-gunung itu, hanyalah:

 “Tetapi bagaimana kabarnya Rasulullah……..”

Sungguh, suatu peristiwa yang telah diatur corak dan waktunya oleh tangan taqdir secara baik dan tepat, guna disajikan sebagai penghibur alakadarnya bagi Rasulullah… dalam menghadapi mushibah dengan gugurnya Singa Allah dan panglima para syuhada…!

Kami semua kepunyaan Allah
Dan kepadanya kami kembali.

Oleh : KHALID MUHAMMAD KHALID
Kebun Emas 250 x 250