Tampilkan postingan dengan label ciri-ciri ibadurrahman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ciri-ciri ibadurrahman. Tampilkan semua postingan

Kedudukan Wanita dan Pria Menurut Islam


"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)

         
Wanita adalah madrasah (sekolah) pertama yang akan membentuk dan mencetak generasi. Gambaran  yang diterima oleh seorang anak dari ibunya, maka itulah yang menentukan nasib bangsa dari orientasi atau sudut pandang umat. Dan lebih dari itu semua, wanita adalah orang pertama yang memberikan kontribusi dalam kehidupan pemuda dan bangsa. Islam yang hanif ini juga tak mengabaikannya. Karena ia yang datang sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh manusia, telah mengatur semua aspek kehidupan dengan serangkaian aturan yang paling proporsional dan berpijak di atas landasan dan tata perundang-undangan yang utama. Memang Islam tidak mengabaikan itu semuanya dan tidak meninggalkan manusia kebingungan dalam setiap aspek kehidupan. Islam menjelaskan kepada mereka semuanya dengan penjelasan yang tidak membutuhkan tambahan.
         Pada hakekatnya tidak begitu penting bagi kita untuk mengetahui pendapat Islam tentang wanita (juga pria), hubungan antara mereka, dan kewajiban satu dengan yang lainnya. Karena semua itu adalah masalah yang sudah cukup dikenal oleh setiap orang. Tetapi yang penting adalah kita bertanya kepada diri kita, apakah kita sudah siap untuk menjalankan hukum Islam?
          Realitasnya, negera ini dan juga negera-negera Islam lainnnya diselimuti gelombang besar serta deras cinta taklid kepada Barat dan tenggelam padanya hingga mencapai dua telinga. Sebagian orang bahkan tidak hanya tenggelam dalam gelombang taklid itu, lebih dari itu mereka berusaha menipu diri sendiri dengan mengatur hukum-hukum islam sesuai keinginan Barat dan aturan-aturan Eropa. Mereka menyalahgunakan toleransi agama ini dan keluwesan hukum-hukumnya, hingga benar-benar mengeluarkannya dari gambaran keislaman, menjadikannya tata aturan yang sama sekali tidak punya keterkaitan dengan Islam. Mereka benar-benar mengabaikan ruh perundang-undangan Islam dan membuang nash-nash yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.
          Sesungguhnya inilah bahaya yang kompleks. Karena mereka tidak hanya melanggar tetapi berupaya mencari-cari pembenaran secara konstitusional atas pelanggaran tersebut. Kemudian mempolanya dengan warna yang halal dan legal agar tidak perlu bertobat dan tidak perlu meninggalkannya di kemudian hari.
Maka yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita memandang hukum-hukum Islam dengan pandangan yang bebas dari hawa nafsu serta menyiapkan diri kita untuk mau menerima perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Terutama tentang urusan yang sedang dibahas, karena ia dianggap sebagai landasan kebangkitan kita saat ini. Atas dasar ini, maka tidaklah mengapa mengingatkan manusia tentang hukum-hukum Islam yang telah mereka ketahui, dan yang wajib mereka ketahui dalam aspek ini.

Pertama : Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya partner laki- laki dalam hak dan kewajiban. 
            Ini adalah persoalan yang hampir tidak diperdebatkan. Islam telah meninggikan derajat wanita dan mengangkat harkatnya serta menganggapnya sebagai saudara laki-laki serta partner hidupnya. Maka wanita adalah bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari wanita, "(karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain." (Ali Imran : 195)
              Islam mengakui hak-hak pribadi wanita secara sempurna, hak-hak sipilnya secara sempurna. Islam memperlakukan wanita sebagai manusia sempurna yang memiliki hak dan mempunyai kewajiban. Ia mendapatkan apresiasi jika menunaikan kewajiban-kewajibannya dan hak-haknya wajib sampai kepadanya. Nash-nash yang menjelaskan hal tersebut sangat melimpah dalam Al-Qur'an dan Hadits.
Kedua : Perbedaan laki-laki dan wanita dalam hak, karena mengikuti perbedaan-perbedaan tabiat yang bisa dihindari, perbedaan tugas yang harus dilakukan masing-masing dan karena menjaga hak yang diberikan kepada masing-masing.
Mungkin dikatakan “Islam membedakan antara laki-laki dan wanita dalam banyak situasi dan kondisi serta tidak menyamakan keduanya secara sempurna. Pernyataan itu benar namun dari sisi yang lain harus diperhatikan bahwa ketika Islam mengurangi satu aspek dari hak wanita maka Islam pasti menggantinya dengan yang lebih baik di sisi yang lain (Dalam hal warisan, Islam menjadikan bagian wanita adalah setengan dari bagian laki-laki, namun di sisi lain Islam membebani laki-laki untuk mencari nafkah) atau bahkan, pengurangan ini memberi manfaat dan kebaikan pada wanita itu sendiri, sebelum yang lainnya.
Apakah ada orang, siapapun dia yang mampu mengklaim bahwa struktur tubuh dan mental wanita sama persis dengan laki-laki? Apakah ada orang, siapapun dia yang berani mengklaim bahwa peran yang harus dijalankan wanita dalam hidup sama persis dengan peran yang dijalankan laki-laki, jika kita masih mengakui adanya keibuan dan kebapakan?
                     Saya yakin bahwa proses pembentukan keduannya berbeda dan bahwa tugas keduannya dalam hidup ini juga berbeda. Perbedaan ini pasti memiliki konsekuensi pada perbedaan aturan hidup yang terkait dengan masing-masing. Inilah rahasia syariat Islam dari yang menghadirkan pembedaan-pembedaan antara dalam hak-hak dan kewajiban-kewajiban laki-laki dan wanita.
Ketiga : wanita dan laki-laki memiliki ketertarikan kuat secara fitrah. Inilah landasan pertama adanya hubungan antara keduanya. Tujuanyang diharapkan dari ketertarikan tersebut tidak sekedar untuk bersenang-senang dan segala ikutannya, namun juga untuk membangun kerja sama menjaga entitas (keberlangsungan hidup) manusia dan memikul beban-beban kehidupan.
                Islam telah mengisyaratkan adanya kecenderungan jiwa ini, lalu menyucikannya, dan memindahkannnya secara indah dari nilai-nilai kebinatangan menuju nilai-nilai spiritual, mengagungkan tujuannya, menjelaskan maksud yang ada di dalamnya, dan mengangkatnya dari sekedar bentuk kesenangan menuju sebuah kerja sama yang sempurna. Marilah kita dengarkan firman Allah swt., "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (Ar-Rum: 21)
Dengan bimbingan prinsip-prinsip yang permanen inilah kita memandang aturan-aturan dan manhaj yang ditetapkan oleh Islam.
Pada pembahasan sebelumnya tiga prinsip yang ditetapkan Islam mengenai wanita:
1. Islam mengangkat kedudukan wanita, menjadikannya bagian dari laki-laki menganggapnya sebagai partner laki- laki dalam hak dan kewajiban kemanusiaan secara umum.
2. Ketika Islam membedakan antara keduanya dalam hal di atas, maka itu ditempatkan pada hukum pengkhususan yang masing-masing memang memiliki kekhasan dari lainnnya dalam struktur tubuh dan tugas.
3. Islam mengatur naluri seksual laki-laki dan wanita secara bijak. Ia mengarahkannya pada hal yang bermanfaat dan menetapkan batas-batas agar tidak jatuh pada hal yang berbahaya.
Inilah prinsip-prinsip yang di jaga oleh islam dan ditetapkan menjadi pandangannya terhadap wanita. Di atas landasan ini, hadirlah syariat Islam yang bijaksana untuk menjamin ada kerja sama yang sempurna antara dua jenis kelamin, sehingga satu dapat mengambil manfaat dari lainnya dan membantunya dalam urusan kehidupan.
Pembahasan mengenai wanita dalam masyarakat menurut Islam dapat disimpulkan dalam point-point berikut:

Pertama: Kewajiban Mendidik Wanita
Islam memandang wajib membina akhlak wanita serta mendidiknya pada berbagai keutamaan dan kesempurnaan jiwa sejak dini. Islam juga menganjurkan para ayah dan orang-orang yang memegang urusan para pemudi untuk melakukan hal tersebut, menjanjikan pahala besar dari Allah swt. Atas tindakan tersebut, dan memberikan ancaman jika lalai, sebagaimana disebutkan pada ayat yang mulia,
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)

        Dalam hadits shahih Rasulullah saw. bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Seorang Imam adalah pemimpim dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, seorang pelayan adalah pemimpin pada harta tuannya dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya, dan setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanyai tentang yang dipimpinnnya" (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar)
           Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah seorang muslim yang mempunyai dua anak wanita, kemudian ia berbuat baik pada keduannya selama keduanya bersamanya atau ia bersama keduanya kecuali keduanya menjadi penyebabnya masuk ke dalam surga." (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dan diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya).

           Dari Abu Said Al Khudri ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai tiga anak wanita, atau tiga saudara wanita atau dua anak wanita, atau dua saudara wanita, kemudian menemani mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengurus mereka maka baginya surga." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, hanya saja pada riwayat Abu Dawud Rasulullah saw bersabda, "Kemudian ia mendidik, berbuat baik, dan menikahkan mereka, maka baginya surga.")
            Termasuk pendidikan yang baik adalah mengajari mereka hal-hal yang menjadi penopang tugas-tugas mereka. Seperti, membaca, menulis, berhitung, ilmu agama, sejarah para salafus shalih, baik laki-laki maupun wanita, mejemen rumah tangga, masalah-masalah kesehatan, prinsip-prinsip pendidikan, dan pengelolaan anak serta segala hal yang dibutuhkan oleh seorang ibu dalam mengatur rumah dan mendidik anak-anaknya.
             Dalam hadits Bukhari disebutkan, Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama." kebanyakan wanita salaf dahulu memiliki bagian besar dari ilmu, keutamaan, dan pemahaman tentang agama Allah.
Adapun ilmu-ilmu di bidang lain yang tidak dibutuhkan oleh wanita, maka hanya kesia-siaan yang tidak ada manfaatnya. Wanita tidak memerlukakannya, dan alangkah baiknya ia menggunakan waktunya untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat.
Wanita tidak perlu memperdalam berbagai bahasa, wanita tidak membutuhkan kajian-kajian keprofesian khusus, karena sebentar lagi ia akan mengetahui bahwa wanita itu tugasnya untuk menata rumah. Wanita tidak perlu memperdalam kajian hukum dan perundang-undangan, cukuplah baginya mempelajari hukum-hukum yang dibutuhkan masyarakat secara umum.
Abul A'la Al Ma'arry berwasiat mengenai kaum wanita dengan ungkapan,
"Ajarilah mereka memintal dan menjahit
Biarkanlah mereka belajar menulis dan membaca
Sholatnya wanita dengan Al-Hamdu (Al-Fatihah) dan Al-Ikhlas
Menyamai membaca surat Yunus dan At-Taubah (Bara'ah)"
Kita tidak berhenti hanya sampai di sini dan kita juga tidak ingin seperti yang diinginkan mereka yang berleh-lebihan dan  melampaui batas dalam membebani wanita dengan berbagai kajian yang tidak dibutuhkannya. Akan tetapi, kami mengatakan, "Ajarilah wanita tentang hal-hal yang ia butuhkan, terkait tugasnya yang Allah swt. Menciptakan dia untuk melaksanakannya, yaitu mengelola rumah tangga dan merawat anak."

Kedua: Memisahkan Antara Wanita dan Laki-laki
Islam memandang pembauran (ikhtilat)  antara wanita dan laki-laki itu sebagai bahaya nyata, Islam menjauhkan antara keduannya kecuali melalui pernikahan. Oleh karena itu, komunitas Islam adalah komunitas tunggal (dari aspek jenis kelamin) bukan komunitas ganda.
Para penyeru pembauran (ikhtilat) mengatakan, “Sesungguhnya pemisahan akan menghalangi kedua pihak dari lezatnya pertemuan dan manisnya kebersamaan yang dirasakan oleh masing-masing saat berada didekat lainnnya. Kelezatan itu juga melahirkan perasaan yang diikuti oleh banyak tata krama sosial seperti kelembutan, baiknya pergaulan, kelembutan berbicara, tabiat yang supel dan seterusnya.
Mereka akan mengatakan, sesungguhnya pemisahan antara dua jenis akan menjadikan masing-masing merindukan pada yang lain untuk selamanya. Sedangkan hubungan antara keduannya dapat meminimalisi kerinduan dan menjadikannya sebagai hal yang biasa. “Manusia mencintai sesuatu yang dilarang dan apa yang telah di tangan kurang diminati jiwa”.
Seperti itulah mereka berbicara dan banyak pemuda yang terfitnah dengan ucapan mereka. Apalagi pemikiran tersebut sejalan dengan hawa nafsu selaras dengan syahwat.
Kami katakan kepada mereka, eski kami tidak sepakat dengan apa yang kalian sebutkan tentang masalah pertama, namun kami akan katakan kepada kalian, “Sesungguhnya lezatnya pertemuan dan manisnya kebersamaan diikuti oleh hilangmya kehormatan, busuknya batin,  rusaknya jiwa dan perilaku, kehancuran rumah tangga, nestapa keluarga, rawannya kriminalitas, degradasi moral, dan segala konsekuensi ikhtilat (pembauran laki-laki dan perempuan) berupa akhlak yang lembek dan lemahnya sifat kesatria yang tidak hanya sampai batas tipis tapi sudah melampaui batas hingga pada sifat banci. Ini semua sudah terlihat jelas dan tidak ada yang membantah kecuali oleh orang yang menyombongkan diri.
Dampak-dampak negatif ikhtilat ini seribu kali lipat lebih banyak daripada manfaatnya. Padahal apabila ada benturan antara maslahat dan mafsadat maka mencegah hadirnya mafsadah diutamakan. Apalagi kalau maslahatnya tidak seberapa dibandingkan dengan mafsadatnya.
Sedangkan pernyataan kedua maka itu tidak benar. Justru ikhtilat itu akan menambah kecenderungan. Dulu ada yang mengatakan, "Adanya makanan itu akan menambah syahwatnya orang yang rakus (untuk makan)." Seorang suami hidup bersama istrinya bertahun-tahun, sudah pasti kecenderungan (untuk menggaulinya) akan bertambah dalam jiwanya. Maka bagaimana mungkin hubungan (selalu dekat) dengan sang istri tidak menjadi sebab kecenderungan kepadanya. Sementara itu seorang wanita yang ikhtilat akan terdorong untuk memamerkan lekuk-lekuk perhiasannya. Ia tidak rela kecuali laki-laki itu kagum kepadanya.
Di samping samping itu, terdapat dampak negatif yang mengikuti ikhtilat di bidang ekonomi. Yaitu berlebihan dalam dalam perhiasan dan berdandan(tabarruj) yang dapat mengantar pada kebangkrutan, kehancuran, dan kefakiran.
Oleh karena itulah kami menegaskan Komunitas Islami adalah komunitas tunggal bukan komunitas ganda. Para lelaki punya masyarakat sendiri sebagaimana wanita punya masyarakat sendiri. Islam membolehkan bagi wanita untuk mengikuti shalat 'ied (Hari Raya), shalat jamaah, dan keluar untuk berperang dalam situasi yang sangat darurat. Namun Islam hanya sampai batas ketentuan ini (tidak merambah pada yang lain) dengan menentukan berbagai macam persyaratan seperti: menjauhi tabaruj (berhias berlebihan), menutup aurat, menutup pakaian ke seluruh tubuh tanpa menggambarkan bentuk tubuh dan tidak transparan, serta tidak berkhalwat menyendiri bersama laki-laki asing (bukan mahram dan bukan suami) apapun kondisinya dan begitu seterusnya.
Salah satu dosa terbesar dalam Islam adalah jika ada seorang laki-laki menyendiri dengan wanita yang bukan mahramnya. Islam telah menempuh jalan yang tegas dan bijak pada urusan pembauran laki-laki dan wanita.
Menutup aurat dalam berpakaian termasuk adab Islam. Haramnya menyendiri dengan yang bukan mahram adalah salah satu hukum dari sekian hukum-hukumnya. Menundukkan pandangan adalah bagian dari kewajiban-kewajibannya. Menetap dirumah bagi seorang wanita sampai ketika shlat adalah merupakan syiar dari sekian banyak syiar-syiarnya. Menjauhi rangsangan baik suara, maupun gerak dengan segala macam fenomena berhias, khususnya ketika keluar rumah-adalah salah satu dari sekian banyak garis
ketetapannya.
Semua itu disyariatkan agar kaum lelaki selamat dari fitnah wanita, karena fitnah ini adalah fitnah yang paling mudah hinggap dalam dirinya. Juga agar kaum wanita selamat dari fitnah laki-laki, karena fitnah itu adalah fitnah yang paling mudah mendekati hatinya. Ayat-ayat mulia dan hadits-hadits yang disucikan telah menuturkan hal tersebut:
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, 'Hendaklah merasa menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau puteraputera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orangorang yang beriman, supaya kamu beruntung." (An-Nuur: 30-31)
"Hai Nabi katakan pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.'Yang dengan demikian itu supaya mereka mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al-Ahzab: 59)
Dari Abdullah bin Masud ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, (meriwayatkan dari Rabbnya Allah azza wa jalla), “Pandangan itu anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Barangsiapa yang menghindarinya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantinya dengan keimanan yang akan dirasakan lezat di dalam hatinya.” (HR. At-Thabrani dan Al- Hakim)
Dari Abu Umamah ra. Berkata, bahwa Rasulullah saw. Bersabda,  “Hendaklah kalian menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan kalian, atau (kalau tidak) Allah akan membutakan wajah-wajah kalian.” (HR. Thabrani)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. Berkata Rasulullah saw. Bersabda, “Tidaklah pagi itu akan menjelang kecuali ada dua malaikat yang berseru, sungguh celaka kaum lelaki dan kaum wanita, sungguh celaka kaum wanita karena kaum lelaki.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Dari Uqbah bin Amir ra. Rasulullah saw. Bersabda, “Jauhilah kalian untuk memasuki rumah wanita,” berkatalah orang dari Anshar,“Tahukah kamu tentang Al Hamwu?(saudara suami atau semisalnya termasuk anak paman dan yang sederajat)” Al Hamwu itu kematian (menyendiri dengannya menyebabkan bencana).” (HR.Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “wanita tidak berpergian selama dua hari kecuali bersama mahramnya atau suaminya.”
Aisyah ra. meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar ra. menemui Rasulullah saw. dengan mengenakan pakaian yang tipis, maka beliau berpaling darinya dan berkata, “wahai Asma’, sesungguhnya wanita yang sudah haid (akil baligh), tidak boleh terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini, “beliau memberi isyarat ke wajah dan kedua telapak tangannya”.
                Berikutnya, islam mempunyai aturan-aturan mulia mengenai hak suami atas istrinya, hak istri atas suaminya, hak kedua orang tua atas anak-anak mereka, dan hak anak-anak atas orang tua mereka. Islam memiliki aturan yang mengharuskan pengendalian keluarga dengan kecintaan dan saling mendukung untuk melakukan kebaikan. Juga mempersembahkan aturan yang memberikan pelayanan nyata bagi umat, andai manusia mau menjadikannya sebagai pegangan maka mereka akan bahagia dalam dua kehidupan dan akan sukses dalam dua ibadah.

di kutip dari buku kumpulan Risalah Dakwah
karya Hasan al Banna





Ciri-ciri Ibadurrahman


Dalam tulisan ini, akan kami paparkan secara ringkas tapi padat -insya Allah- sifat-sifat ‘Ibaadurrahman (para hamba ar-Rahman), karakteristik, ciri-ciri mereka serta pahala besar yang Allah siapkan buat mereka di sisi-Nya agar orang yang ingin menjadi salah satu dari ‘Ibaadurrahman dapat memilikinya, meraih kehormatan beribadah dan menisbatkan diri kepada-Nya serta menggapai persaksian.
Adapun ayat yang menjelaskan semua sifat Ibaadurrahman itu termuat dalam ayat 63 hingga 76, surat Al-Furqan. Dalam ayat-ayat tersebut, disebutkan sifat-sifat ‘Ibaadurrahman sebagai berikut:



1. Tawadhu’ (Rendah Hati)
Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” [63]
Inilah sifat pertama ‘Ibaadurrahman, yaitu mereka berjalan di atas bumi dengan sangat enteng dan ringan, tidak dibuat-buat, tidak sombong atau pun melengos. Mereka tidak berjalan dengan sangat cepat yang menunjuk-kan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalan dengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal.
Tetapi mereka berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad, kelelakian dan jiwa muda. Mereka mengetahui betul wasiat Luqman kepada anaknya sebagaimana diinformasikan Rabbnya, artinya, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.” (QS.Luqman:19). Maksudnya adalah sedang-sedang saja dalam semua urusan, tidak berlebihan atau keterlaluan sekali.
‘Ibaadurrahman berjalan di pelosok bumi untuk mencari rizki dan tuntutan hidup dengan penuh kelembutan dalam batasan-batasan yang diperkenankan Allah subhanahu wata’ala kepada mereka, tidak rakus, tamak, menyia-nyiakan kewajiban, melakukan hal-hal yang diharamkan atau pun berbuat mubadzir. Tidak muncul dari mereka sikap keras, melecehkan, sombong, berbangga-bangga dan berbesar diri. Mereka tidak berbuat kerusakan di muka bumi, mencari ketinggian, lebih mendahulukan keuntungan duniawi yang fana, tidak berusaha semata hanya untuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang dengan kenikmatan kehidupan duniawi.
Mereka juga rendah hati terhadap Allah subhanahu wata’ala, lembut dan ringan, tidak angkuh dan sombong. Mereka mendengar firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

2. Lemah Lembut
Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [63]
Ini merupakan sifat ke dua ‘Ibaadurrahman, yaitu bila orang-orang jahil mengucapkan ucapan yang buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama tetapi mema’afkan, tidak berkata kecuali yang baik, mereka tidak terpancing oleh kejahilan orang tersebut, tetapi menahan lisan dan emosi mereka.
Mereka memangkas jalan fitnah dan keburukan yang ingin dilakukan orang-orang jahil itu, memadamkan ‘kobaran’ kejahatan pertama yang andaikata dibalas dengan tindakan yang sama, pastilah apinya akan semakin menyala sehingga bisa menimbulkan perang besar dan kejahatan bergentayangan. Menurut mereka, kepah-lawanan bukanlah ditampakkan dengan postur badan yang kuat, berotot, dan mampu menang dalam pertarungan, tetapi kepahlawanan yang hakiki adalah menahan diri ketika marah.
Yang menjadi panutan mereka dalam hal ini adalah Nabi mereka, Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam yang merupakan manusia paling lemah lembut. Salah satu contohnya, “Ketika ada seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallamdan berkata kasar, lalu kaum Muslimin marah dan ingin memberinya pelajaran, namun hal itu dicegah oleh beliau. Beliau membalas sikap kasar itu dengan kasih sayang dan lemah lembut.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

3. Melakukan Qiyamullail
Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” [64]
Allah subhanahu wata’ala menyebut para hamba-Nya sebagai orang yang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun saat orang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah, sibuk menyong-song Rabb mereka, menggantungkan jiwa dan anggota badan mereka kepada-Nya. Saat orang-orang terlena dan merasa mantap dengan kehidupan duniawi, mereka justeru menginginkan ‘Arsy ar-Rahman sebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapat menjauhkan mereka dari sifat riya’ dan minta dipuji. Ibadah di malam hari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwa serta penerangan bagi penglihatan mereka.
Saat berdiri di hadapan Allah subhanahu wata’ala dan mengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dan kebahagiaan yang tiada tara serta kenikmatan yang tak terkira. Tiada lagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. Melakukan Qiyamullail merupakan sifat asli ‘Ibaadurrahman. Allah subhanahu wata’ala menyebut mereka dengan sifat itu dalam banyak ayat dan menganjurkan para Nabi-Nya untuk melakukan hal itu.
Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Hendak-lah kamu melakukan Qiyamullail sebab ia adalah tradisi orang-orang shalih sebelum kamu, bentuk pendekatan kepada Rabb kamu, penghenti dosa, penebus dosa-dosa kecil dan pengusir penyakit dari badan.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi yang dinilai Hasan oleh Syaikh al-Albani)

4. Takut Api Neraka
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal.”[65] Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [66]
Sekalipun ‘Ibaadurrahman sangat ta’at dan hati mereka dipenuhi dengan ketakwaan namun mereka selalu merasa amalan dan ibadah mereka masih kurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasa aman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia dan rahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karena itu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzab Jahannam.
Mereka selalu memohon kepada Allah agar Dia menghindarkan mereka dari adzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinya atau pun penghuni semen-taranya. Inilah sifat setiap Mukmin yang bersungguh-sungguh dalam berbuat ta’at dan takut akan adzab Allah subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang lain, “Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya. Karena sesungguhnya azab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).” (QS. Al-Ma’arij: 27, 28)

5. Ekonomis Dalam Pengeluaran dan Tidak Boros
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang apabila membe-lanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [67]
‘Ibaadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir, membelanjakan harta melewati batas keperluan sebab mereka mengetahui benar bahwa boros akan merusak jiwa dan harta. Orang-orang yang berbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruh berbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertang-gung jawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala terhadap harta mereka; dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakkan.
Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluarga mereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaq untuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata’ala, sebab mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala telah mencela kekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhil dan menghindari pelakunya.
Metode berinfaq ‘Ibaadurrahman adalah moderat dan menengah, antara bakhil dan boros. Mereka berada di puncak pertengahan antara boros dan bakhil. Mereka meletakkan ayat Allah subhanahu wata’ala berikut di hadapan mata mereka, artinya, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’:29)
Yakni janganlah kamu bakhil, sehingga tidak mau memberi sesuatu kepada siapa pun dan janganlah pula boros dalam mengeluarkan harta, sehingga memberi di atas kemampuanmu dan mengeluarkannya melebihi pendapatanmu.

6. Ikhlash Beribadah Karena Allah subhanahu wata’ala
Sebagaimana firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah.” [68]
Di antara sifat ‘Ibaadurrahman, mereka tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah subhanahu wata’ala, sebab mereka mengimani bahwa hanya Allah subhanahu wata’ala semata yang dapat memberikan manfa’at dan menolak mudharat. Tidak seorang pun di dunia ini, baik ia seorang raja yang disanjung, nabi yang diutus atau pun hamba yang shalih yang mampu memberikan manfa’at untuk dirinya atau pun menolak mudha-rat darinya, apalagi untuk membantu orang lain. Karena itu, mereka tidak pernah menyekutukan sesuatu pun beserta Allah, baik dalam berdo’a atau bentuk-bentuk ibadah lainnya.
Mereka mengetahui benar, bahwa tiada Khaliq, tiada Pemberi rizki, tiada yang dapat menghidupkan dan mematikan, tiada yang dapat menyembuhkan, dan tiada yang dapat mengelola alam semesta ini selain Allah subhanahu wata’ala. Mereka mengetahui benar bahwa andaikata seluruh manusia dan jin bergabung untuk memberikan manfa’at kepada seseorang, maka mereka tidak dapat melakukannya kecuali sesuatu yang telah dicatatkan Allah subhanahu wata’ala untuknya dan andaikata mereka bergabung untuk menimpakan bahaya kepada seseorang, maka mereka tidak dapat melakukannya kecuali sesuatu yang telah dicatatkan Allah subhanahu wata’ala terhadapnya.

7. Tidak Melakukan Pembunuhan
Sebagaimana firman-Nya, “Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar…[68]”
Sifat ke tujuh ‘Ibaadurrahman adalah mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk membunuhnya sekali pun ada dorongan untuk itu kecuali dengan alasan yang benar, yang diperintahkan Allah subhanahu wata’ala atau diizinkan-Nya seperti hukuman Hadd, Qishash atau perang untuk meninggikan kalimat Allah. Sebab mereka mengetahui bahwa membunuh jiwa tanpa alasan yang benar merupakan salah satu dosa besar yang pelakunya mendapatkan ancaman dari Allah subhanahu wata’ala dengan siksaan yang sangat pedih.
Dia berfirman, artinya, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa’: 93)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan ultimatum terhadap pembunuhan jiwa seorang mukmin dengan sengaja saat bersabda, “Setiap dosa, semoga saja diampuni Allah kecuali orang yang mati dalam keadaan Musyrik atau membunuh seorang Mukmin dengan sengaja.” (HR. Abu Daud, dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albani).
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada dibunuhnya seorang Mukmin dengan tanpa haq (alasan yang tidak benar).” (HR.Ibnu Majah, dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albani)

8. Menjauhi Perbuatan Zina
Sebagaimana firman-Nya, “Dan tidak berzina [68]”
Di antara sifat ‘Ibaadurrahman adalah tidak melakukan zina dan selalu menjaga kemaluan mereka dari setiap perbuatan yang mengundang murka Rabb sebab mereka mengetahui benar bahwa zina merupakan dosa yang besar.
‘Ibaadurrahman telah memenuhi panggilan Rabb mereka yang berbunyi, “Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Mereka pun tunduk dengan hal itu, yaitu berhenti melakukan perbuatan yang dilarang tersebut. Mereka adalah seperti yang disebutkan sifatnya oleh Allah subhanahu wata’ala, “Dan orang-orang yang menja-ga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orag-orang yang melampaui batas.” (QS.al-Mu’minun: 5-7)
Bila mereka melakukan salah satu dari tiga perbuatan maksiat ini (syirik, membunuh atau berzina), karena kelemahan mereka sebagai manusia, mereka segera kembali kepada Rabb mereka dengan penuh rasa penyesalan, meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat itu dan melakukan amal shalih yang diridhai Allah subhanahu wata’ala. (QS. Al-Furqan: 68-70).

9. Menjauhi Persaksian Palsu
Sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu… [72]”
Sesungguhnya ‘Ibaadurrahman tidak memberikan persaksian palsu sebab tindakan itu menghilangkan hak-hak, membantu perbuatan zhalim dan mengubah arah kebenaran. Mereka juga selalu menghindar dari suatu majlis yang terindikasi kepalsuan dengan segala jenis dan warnanya sebab mereka merasa tinggi hati sehingga tidak mungkin menghadiri majlis-majlis seperti itu.
Mereka menyadari betul bahwa persaksian palsu merupakan jenis dusta yang serius, amat buruk dan berakibat fatal. Sangat besar bahayanya bagi seluruh masyarakat karena perbuatan itu menjungkirbalikkan fakta dan membantu kezhaliman.
Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan darinya berulang kali serta menilainya sebagai salah satu dosa besar. Beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kamu mengenai dosa yang paling besar?” (beliau mengulang tiga kali). Kami berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, durhaka terhadap kedua orangtua.” Beliau ketika itu bertelekan lalu duduk seraya bersabda lagi, “Jauhilah perkataan palsu dan persaksian palsu.” Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami sampai berkata, “Semoga saja beliau diam.” (Muttafaqun ‘alaih).

10. Berpaling dari Mengerjakan Perbuatan-Perbuatan yang Tidak Berfaedah
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [72]
Sifat ‘Ibaadurrahman lainnya adalah tidak mau berlama-lama berdiri dengan ucapan dan perbuatan yang tidak berfaedah, tidak menyibukkan diri dan mengotorinya dengan mendengarkan hal itu. Mereka justru memuliakannya dengan cara tidak mendengar, melihat, dan ikut serta dalam hal itu.
Mereka tidak memiliki waktu untuk melakukan kegiatan yang sia-sia dan tidak bermanfa’at. Mereka sangat memperhatikan usia dan waktu, sehingga mereka merasa bersalah jika waktu itu hilang secara percuma tanpa dimanfa’atkan untuk mendapatkan pahala di sisi Rabb.

11. Memenuhi Perintah Allah subhanahu wata’ala
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapi nya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” [73]
Bila diperingatkan dan diberi wejangan, mereka cepat sekali meresponsnya dan mengambil pelajaran. Hati mereka sangat terbuka terhadap ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala, menerimanya dengan pemahaman dan menjadikan-nya sebagai pelajaran. Bila datang kepada mereka perintah Allah dan Rasul-Nya, mereka cepat-cepat melak-sanakannya dan menyatakan ketunduk-an dengan bersimpuh sujud kepada Allah subhanahu wata’ala seraya berdzikir, bertasbih memuji-Nya dan tidak menyombong-kan diri. (QS. As-Sajdah: 15-16)
Mereka tidaklah seperti orang yang bila diperingatkan dengan ayat-ayat Allah lantas berpaling dan tidak memberikan perhatian, mendengarkan dan melihatnya untuk kepentingan dirinya. Bahkan justeru menyibukkan dirinya tersebut dengan urusan-urusan duniawi, kenikmatan dan hawa nafsu. Golongan seperti ini, Allah subhanahu wata’ala sebutkan sifatnya dalam firman-Nya, artinya,
“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)


12. Mendo’akan Kebaikan bagi Keluarga dan Keturunan
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” [74]
‘Ibaadurrahman tidak merasa cukup hanya dengan diam seraya bersujud dan melakukan qiyamullail serta memiliki semua sifat-sifat terdahulu. Mereka bahkan selalu memohon kepada Rabb agar dianugerahi keturunan yang berjalan sesuai dengan cara hidup mereka, memiliki pasangan setaraf mereka, sehingga membuat mata mereka sejuk, hati mereka me-rasa tenang dan jumlah ‘Ibaadurrahman bertambah. Mereka juga mengharapkan Rabb menganugerahkan takwa kepada mereka dan menjadikan mereka para pemimpin yang dipanuti dalam berbuat kebajikan.
Mereka memohon kepada Rabb sesuatu yang paling berkesan di dalam kehidupan di dunia ini yaitu isteri dan keturunan serta memohon tingkatan keimanan paling tinggi yang dapat mempersiapkan mereka meraih bilik-bilik nan tinggi di surga yang penuh kenikmatan, yaitu tingkatan ‘takwa.

Balasan Bagi ‘Ibaadurrahman
Rabb menutup ayat-ayat yang menghitung sifat-sifat ‘Ibaadurrahman dengan penjelasan sebagian balasan buat mereka. Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” [75] “Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.”[76]

Di bilik-bilik surga itu mereka duduk, di atas permadani-permadani itu mereka bersandar, di bawah naungannya itu, mereka berjalan dan di dalamnya mereka mendapatkan kenikmatan. Itu semua sebagai balasan atas kesabaran mereka dalam menghadapi hawa nafsu, godaan-godaan dunia dan dorongan-dorongan nista serta kesabaran mereka dalam melakukan perbuatan ta’at dan meninggalkan kemungkaran.
Saudaraku! Sebagai penutup, pintu ‘pendaftaran’ sebagai ‘Ibaadurrahman terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi salah satu dari mereka dan bekerja untuk merealisasikannya.

Sumber: Buletin berjudul, Min Shifaat ‘Ibaadirrahman Fi Al-Qur’an, disusun oleh Bagian Ilmiah penerbit Darul Wathan. (Hafid M. Chofie)


Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, anda pun bisa mendownloadnya dalam bentuk PDF .
Download PDF

Ikuti 
Panduan Download jika anda kesulitan untuk mendownloadnya

Jika linknya sudah mati atau tidak bisa mendownload silahkan hubungi 
Pengelola

Kebun Emas 250 x 250